
Dikamar Miftah langsung bergegas untuk melaksanakan sholat, ia sempat mengulang kembali wudhunya saking tak fokus.
"Ya ampun... Aku paling gak suka kalau jantungku terus - terusan senam begini," batinnya merasa resah.
Tanpa berpikir panjang, setelah selesai dengan urusannya ketika dikamar mandi ia langsung keluar dan mengambil mukenanya untuk melaksanakan sholat Sunnah tersebut.
Disisi lain, Firdaus yang sudah selesai dengan urusannya kembali naik keatas. Langkah kakinya sempat terhenti, saat mendengar suara alunan yang begitu merdu dari dalam sana.
Itu benar - benar membuat hatinya menjadi sejuk. Ya! apa lagi kalau bukan suara Miftah ketika mengaji, ia terus membaca huruf perhuruf yang ada di dalam kitab suci tersebut.
Karna sangat ingin melihatnya, Firdaus dengan pelan membuka gagang pintu kamar Miftah lalu menutupnya perlahan.
Miftah yang begitu fokus sampai tidak menyadari kehadiran orang lain dikamarnya, tatapannya hanya tertuju pada huruf yang ada di kitab tersebut. Ia melantunkan ayat suci dengan irama yang sangat merdu.
Dengan langkah pelan Firdaus duduk dikaki ranjang, ia hanya menatap Miftah dengan penuh kekaguman. Saat Miftah semakin lama mengaji ia jadi mengantuk saking merasa tentramnya.
Tanpa sadar Firdaus pun merebahkan punggungnya, dengan kedua kaki yang masih menyentuh lantai yang dingin.
Tak terasa sudah satu jam Miftah menghabiskan waktunya untuk membaca kitab suci tersebut, yaitu Al - Qur'an.
"Shodaqolla...hul'azim..." ucapnya menutup bacaan dan ia langsung membaca doa senandung Al - Qur'an.
Miftah kini telah bangkit dari duduknya dan menaruh Al - Qur'an pada raknya.
Saat matanya tak sengaja menangkap sosok pria yang ada di kasurnya, ia hampir saja berteriak keras. Cuman, dengan cepat ia membungkam mulutnya terlebih dahulu.
"Astagfirullah..." ucapnya saat kedua tangan yang sejak tadi bertugas membekap telah ia turunkan.
"Ya ampun Kaka... Sejak kapan Kaka ada dikamarku?" batinnya bertanya - tanya.
Akhirnya Miftah memilih untuk membangunkan Firdaus. Tapi, ketika melihat raut wajah yang tampak jelas begitu pucat ia jadi mengurungkan niatnya.
Tak lama lagi azan Dzuhur akan berkumandang. Ia pun memutuskan untuk melakukan tugasnya yang lain usai menyelimuti Firdaus dengan selimutnya.
"Allahuakbar Allahuakbar," suara azan Dzuhur mulai berkumandang.
Miftah yang baru saja selesai menyelesaikan tugasnya dimeja belajar, memilih bangkit untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Dzuhur.
Saat ia melihat kearah Firdaus, dia masih di posisi semula dengan selimut yang masih menutupi tubuhnya.
"Gimana ini? bangunin gak yah? tapi ini pun udah azan Dzuhur, Kaka kan harus sholat wajib. Ya sudah! lebih baik aku membangunkannya pelan - pelan saja," batinnya yang dengan ragu - ragu hendak menepuk pelan pundaknya.
"Kaka... Kaka... Kaka... Ayo bangun kak... Ini udah azan Dzuhur," ucapnya lembut.
Firdaus yang merasa ada tepukan dipundaknya dengan malas membuka kedua matanya. Ia sangat terkejut saat melihat sosok Miftah ada dihadapannya.
"Astagfirullah! kamu mengagetkanku saja!" ucapnya saat sudah bangkit terduduk.
"Lho! bagaimana bisa aku ada dikamarmu?" tanya Firdaus yang nyawanya masih belum benar - benar terkumpul.
__ADS_1
Miftah yang mendengar ucapan Firdaus langsung paham jika Firdaus masih belum terlalu sadar.
"Sudahlah Kaka... Lebih baik Kaka sekarang Miftah antar kekamar Kaka ya... Abis itu jangan lupa sholat ya Kaka... Udah azan Dzuhur soalnya," beritahunya.
Firdaus yang masih merasa pusing hanya menurut seperti bayi. Ia bangkit dari duduknya hingga menjatuhkan selimut yang ada ditubuhnya, tepat di atas lantai lalu langsung diambil oleh Miftah dan diletakkan di atas kasurnya.
"Ayo kak kita jalan," ajaknya.
"Hmmm," hanya suara deheman yang merespon ucapan Miftah.
Dengan langkah pelan Firdaus berjalan hingga mereka keluar dari kamar Miftah. Sesampai didepan pintu kamarnya, Miftah pun pamit pada Firdaus yang hanya diangguki olehnya. Mulutnya pun tanpa sadar telah menguap dihadapan Miftah.
Miftah hanya tersenyum. Ia tak menyangka jika Firdaus yang terkenal cukup ganas dan tak suka dibantah bisa menjadi kucing yang paling penurut ketika diperintah saat baru terjaga, itu membuat Miftah sedikit gemas dengannya.
Sudah berapa hari Miftah tak mengecek keadaan kebun terongnya, yang dulu sempat ia tanam beramai - ramai dengan teman - temannya dan sang mama.
Saat mengingat waktu itu, ia menjadi rindu pada Zaldira, Zamrud dan Wahyu. Entah bagaimana keadaan mereka sekarang, yang jelas jika ia bertemu dengan mereka ia hanya ingin memeluk mereka untuk melepaskan rasa rindu dihati kecilnya.
Kini Miftah sedang berjalan menuruni anak tangga. Satu tangannya dengan setia mengabsen setiap inci dari pegangan tangga.
Baru saja kakinya hendak menapak kelantai, ia langsung dikejutkan dengan kedatangan Rangga.
"Assalamualaikum non Miftah," ucapnya.
"Ya ampun kak Rangga... Malah kejutin aku aja... Wa'alaikum salam... Ada apa kak?" tanya Miftah sambil mengelus dadanya dan ikut merasakan dengupan jantung ringan.
Miftah terkadang hampir lelah, saat menyuruh mereka hanya memanggilnya Miftah. Jadi terkadang ia hanya menurut saja, tapi ketika ingat. Ia kembali menegur mereka agar tak terlalu bersikap formal padanya.
"Is kak Rangga ini! padahal sudah berapa kali Miftah bilang, untuk tidak menggunakan kata non lagi didepan nama Miftah! tapi tetap saja begitu," protesnya sambil melihat kedua tangan dibawah dada.
"Hehehe," lagi - lagi ia hanya tertawa.
"Mohon maaf non! eh! maksudnya Miftah! kaka ma suka lupa! jadi harap maklum ya," ucapnya.
"Sebenarnya Kaka bukan lupa... Cuma takut ditegur kan sama kak Firdaus? hayo... Ngaku..." selidiknya.
"Enggak juga kok non! eh! maksudnya Miftah! udah biasa aja kami sebagai bodyguard memanggil majikannya dengan sebutan non atau den bahkan bos," jelasnya.
"Iya... Tapi kecuali denganku! sekarang aku minta kamu memanggilku mulai dari detik ini sampai seterusnya dengan panggilan Miftah! jika tidak, aku akan melapor pada kak Firdaus biar Kaka dikasih hukuman olehnya." ancamnya merasa lelah saat Rangga harus selalu mengulang saat menyebutkan namanya tanpa menggunakan non.
"Eh! jangan atu Miftah... Bisa habis Kaka nanti... Emang kamu gak kasian apa sama Kaka..." ucapnya sedih.
"Enggak! orang kakanya juga gak nurutin permintaan Miftah! padahal kan gak susah," responnya.
"Iya deh iya... Kaka bakal nurut..." ucapnya pasrah.
"Lagian Kaka kan Bodyguard nya Kak Firdaus! pasti kan kuat! masak ia takut sama tuannya," heran Miftah.
__ADS_1
"Ya takutlah Miftah... Kak Firdaus itu sangat ahli dalam bela diri... Kami saja sempat di ajarkan olehnya, dan dia juga sudah menjadi guru kami secara tak bersamaan." jelasnya.
"Oh... Pantesan mata - mata ditempat sana yang terlihat lebih begis dari Kaka bisa kalah juga," ucapnya paham.
"Makanya itu Miftah... Badan yang besar gak semua juga memiliki tenaga yang kuat," beritahunya.
"Oke Kaka! Miftah udah paham," responnya.
"Oh iya! bagaimana kondisi kebun terong yang aku amanah kan pada Kaka dan kak Sekar?" tanyanya.
"Nah! itulah yang ingin aku katakan sejak tadi, hingga memutuskan untuk bertemu kamu Miftah." ucapnya.
"Iya apa itu?" tanya Miftah penasaran.
"Makanya itu... Ayo ikut Kaka sama kak Sekar kekebunnya langsung," ajaknya.
"Oke! siap! beres!" serunya dengan semangat tinggi dan Rangga hanya terkekeh saat melihatnya.
"Kenapa ketawa hah?" tanyanya.
"Gak ada apa - apa kok," jawabnya sambil menggelengkan kepalanya ke sana kemari, tak lupa melambaikan kedua tangannya didepan. Tepat didepan dada.
Akhirnya mereka pun berjalan beriringan menuju kekebun terong Miftah, yang sudah agak lama tak kunjung dilihat olehnya.
_____________________________________
Hai kaka semuanya... 🤗
Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇
"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"
Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊
Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄
Dimana bulan disitu bintang 😀
Dimana gelap disitu terang 🤣
Terima kasih bila tlah datang 😆
Star beri ucapan salam sayang 😘
Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...
Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...
🍃🍃🍃🍃🍃 🙏🙏🙏 🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1