Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 115


__ADS_3

Sehari sebelum Werdan meminta persetujuan Rosalia untuk bercerai, ia sudah lebih dulu mengacak semua tempat yang biasa dijadikan tempat penyimpanan barang penting oleh Rosalia.


     Matanya dengan tajam melihat setiap lembaran yang berada didalam map, tapi tak satu pun terlihat tanda - tanda surat yang sangat dibutuhkannya.


     Dengan perasaan kesal ia langsung keluar dari kamarnya dan Rosalia.


     Disisi lain terlihatlah sang bibi yang masih sibuk mengaduk kopi yang diminta oleh pak satpam.


     "Bi, tuan kira - kira sedang cari apa ya?" tanya pak satpam yang baru saja masuk untuk mengambil kopi hitamnya.


     "Aku juga gak tau pak," jawabnya.


     "Tapi sepertinya tuan sedang mencari hal penting! jika tidak pasti suara gaduh itu tidak akan terdengar," tebaknya.


     "Mungkin saja pak," responnya.


     "Kamu ini dari tadi bukannya bantuin kasih jawaban malah bodo amat aja," resah pak satpam sambil menyeruput kopi hitamnya tapi ia lupa jika itu baru saja dituangkan air yang baru mendidih.



     "Frrrttt... Alamak! jadi kebakar pula lidahku ini akibat tak konsen dengan ucapanmu," ucapnya sambil menyemburkan sedikit kopi yang baru diteguk olehnya.


     "Lagian si bapak suka banget sih ikut campur urusan orang lain," cibirnya.


     "Je... Kepo itu penting! biar makin banyak ilmu," ucapnya sambil menyengir kuda.


     "Apanya yang penting kalau kepoin masalah orang lain! majikan sendiri lagi! entar kalau ketahuan langsung deh jadi jelly," resahnya yang tak habis pikir dengan tingkat ke kepoannya yang lumayan tinggi.


     "Gak papa! lagian jelly kan enak," ucapnya acuh.


     "Dasar bodoh! jelly itu maksudnya jadi menciut nyalimu tau," geramnya sambil memukul bahunya tanpa perasaan.


     "Ya ampun... Kamu ini! pukul pakai perasaan dong! kalau nanti kopi hitamku sampai tumpah kamu emang mau buatin lagi hah? ditambah harus bersihin lantai kotornya lagi, apa lagi kalau sampai ni gelas kaca pecah! bisa berabe jadinya," cerocosnya seorang diri.


    "Ya ampun... Bapak - bapak cerewetnya udah kayak pelepah pisang yang kagak ada abis air batangnya," geramnya.


     "Je... Suka - suka akulah! orang ini diri - diri aku! kopi - kopi hitamku," elaknya.


     "Hadeh... Pusing aku jadinya," resahnya sambil memegang dahinya yang sedikit berdenyut.


     "Pusing?" tanya pak satpam sambil meniup kopinya yang masih mengepulkan asap.


     "Iya bawel! udah lah bapak diam aja," jawabnya sambil memberikan tatapan tajam.


     "Pusing... Minum Baygon! pusing hilang... Nyawa melayang," candanya sambil tertawa hingga menunjukkan rentetan giginya yang sudah sedikit menghitam terkena air kopi.


     "Heh! bapak mau bunuh aku ya? kurang asam! resep apa tuh! minta digeplak aja pakai sandal jepitku ini," geramnya sambil melepaskan satu sandal yang awalnya menjadi alas kakinya.


     "Eh! eh! eh! buat apa itu?" tanyanya was - was.


     "Mau geplak mulut bapak biar bisa diem sebentar," beritahunya.

__ADS_1


     "Eh! jangan dong... Mendingan aku Kaborlah! dadah bibi cantik... Jangan marah - marah ya... Entar calon suamimu ini jadi malas liat wajah berkerutmu," candanya.


     "Is... Pedean banget! aku ini udah punya babang sendiri tau! anak juga udah berapa! matamu buta apa," geramnya sambil menggenggam kuat sendal yang tadi sempat dilepas olehnya.


     "Selo - selo! emangnya kamu pikir kamu doang apa yang udah punya babang? kalau aku udah punya juga dong! tapi bini," ucapnya cengengesan.


     "Bodo amat! mau bapak udah punya bini kek! enggak kek! ngejomblo seumur hidup kek! istri berbaris kayak kereta api kek! aku gak peduli," geramnya lalu langsung pergi dari hadapan satpam yang paling menyebalkan menurutnya.


     Diperjalanan, ia tak sengaja melewati kamar nyonya untuk menuju kekamarnya sendiri yang letaknya di pojok belakang.


     "Mana sih surat rumah ini!" geram Werdan yang sempat didengar olehnya.


     "Pokonya aku harus menemukannya agar cepat bercerai dengan wanita membosankan itu! kerjaannya palingan cuma sakit - sakitan doang," hinanya.


     "Apa? tuan ingin bercerai dengan nyonya saat keadaan nyonya sedang tidak baik - baik saja! kenapa tuan tega sekali ya," resahnya tak habis pikir.


     Saat selesai mengumpat sana mengumpat sini diposisinya yang baru saja keluar dari kamar, ia tak sengaja berjumpa dengan sang bibi.


     "Bi Rena! kenapa bibi bisa ada di sini?" tanyanya terkejut.


  


     "E - enggak tuan! saya hanya ingin kembali kekamar saja, dan kebetulan milih lewat sini aja agar lebih dekat." ucapnya.


     "Pasti bibi sudah mendengar apa yang sejak tadi aku katakan kan?" tebaknya yang kini sudah berjalan satu langkah untuk mendekat kearah Rena.


     "Apa maksud tuan? aku tidak mendengar apa pun," elaknya.


     "Dasar pembohong!!!" gertaknya hingga membuat Rena jadi terkejut seketika.


     "Jangan berpura - pura polos dihadapan saya! meskipun umurmu lebih tua dariku, tapi jika kamu salah! ya tetap salahlah!" geramnya.


     "Maaf tuan! saya hanya takut jika tuan nanti malah memarahi saja," jujurnya.


     "Justru sebaliknya! saya akan lebih marah jika kamu tidak mau bersikap jujur," geramnya lagi.


     "Oh iya! dari pada kamu berdiri disitu tanpa kejelasan! lebih baik kamu bantu aku saja untuk mencari surat rumah ini," pintanya.


     "Gawat! aku gak mau ikut - ikutan terlibat masalah ini, kasian nyonya jika rumahnya harus diambil alih oleh tuan! baru tau aku ternyata sifat aslinya sangatlah buruk." batinnya.


     "Apa lagi hanya ini satu - satunya rumah yang nyonya punya ketika bercerai dengan pak Askari! aku tau Pak Askari sepertinya masih mencintainya, cuma nyonya seperti ragu akan hal itu dan memilih acuh." batinnya lagi.


     "Heh bi! kenapa diam saja hah?" tanyanya dengan sorotan tajam hingga membuat Rena terkejut.


     "Ma - maaf pak," jawabnya terbata - bata.


     "Maaf - maaf! maaf - maaf! apa jangan - jangan surat itu disembunyikan dikamarmu?" tebaknya lalu langsung bergegas kekamar Rena.


     Bagai disampaikan petir Rena jadi sangat panik karna tebakan tuannya sangatlah benar.


     Semenjak berpisah dengan suaminya nyonya semakin bekerja keras untuk mendapatkan Werdan.

__ADS_1


     Merubah dirinya menjadi yang lebih baik dan tak pernah absen untuk ke salon agar tetap terlihat cantik meskipun aslinya memang sudah sangat cantik.


     Dengan gesit ia langsung berlari kekamarnya dan merentangkan tangannya didepan pintu.


     "Tuan! sepertinya tebakan anda salah! mana mungkin surat itu ada dikamar saya," cegahnya.


     "Ah! minggir! aku mau lihat sendiri baru bisa menyimpulkan," ucapnya.


    "Tuan! aku mohon jangan... Kasian nyonya tuan... Nyonya tidak salah apa - apa, tapi kenapa tuan malah bersikap buruk pada nyonya? itu sungguh sikap yang tidak baik tuan..." ucapnya berusaha menyadarkan.


     "Berisik! aku tidak butuh ceramahmu," geramnya sambil mendaratkan sebuah tamparan tepat dipipi Rena.


     "Plak,"


     Suara tamparan dengan jelas terdengar. Tanpa rasa kasian Werdan yang melihat kedua tangan Rena sudah turun langsung menarik dan menghempaskannya dengan kasar.


     "Au!" rintihnya menahan sakit dengan air mata yang telah mengalir di pipinya.


     Kini seorang wanita yang sudah menjauh dari seorang gadis yang sedang sibuk bermain dengan anak kecil lainnya dengan perasaan marah hendak mematahkan ranting tanaman yang ada disampingnya.


     Karna tak punya uang untuk membayar kerusakan tanaman akibat tangannya yang tidak berfaidah nanti, ia lebih memilih mengurungkannya saja.


     "Kurang ajar! dia sampai berani menampar, menarik, dan menghempaskan orang tua sepertimu?" tanyanya tak habis pikir.


     "Benar nyonya! saya minta maaf karna tidak bisa melindungi surat yang sudah saya simpan dibawah tempat tidur saya," ucapnya sedih.


     "Sudah tidak apa - apa, itu bukan salahmu! dia memang sudah keterlaluan." geramnya.


     "Sekarang dia dimana?" tanyanya.


     "Sayang kurang tau juga nyonya, karna hari itu juga saat tuan telah memegang surat rumah ia langsung memecatku dan pak satpam tanpa membayar terlebih dahulu." beritahunya.


     "Baiklah kalau begitu, makasih atas infonya ya," ucap nyonya.


     "Baik nyonya! tapi dimana nyonya tinggal sekarang?" tanyanya khawatir.


     "Kamu tidak perlu cemas! karna aku sudah mendapatkan tempat tinggal yang nyaman," jawabnya.


     "Syukurlah kalau begitu, saya pamit ya nyonya! Assalamualaikum." ucapnya.


     "Wa'alaikum salam," responnya lalu langsung mematikan ponselnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


    

__ADS_1


    


     


__ADS_2