Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 32


__ADS_3

          Disisi lain Firdaus juga merasakan kebahagiaan karna ia sudah cukup puas menggoda Miftah dan ia sangat yakin bahwa sebentar lagi permainan ini akan segera berakhir.


     Setelah meletakkan headsetnya secara asal diatas meja bundar disamping tempat tidur, Firdaus pun mulai menutup matanya dan langsung terlelap dalam sekejap.


     "Tok tok tok," suara ketukan pintu mulai terdengar dari luar.


Firdaus yang baru saja pulas merasa terkejut dan mau tidak mau mulai bangkit untuk membuka pintu.


     "Oh bibi... Ada apa bi?" tanya Firdaus dengan nyawa yang masih belum terkumpul semuanya.


"Ini den... Ini... Anu... Nyonya... Nyonya den..." ucap bibi cemas.


     "Kenapa bi...?" tanya Firdaus lagi.


"Nyonya..." ucap bibi yang sudah mulai lemas.



"Iya mama kenapa bibi...?" tanya Firdaus lagi berusaha sabar.



"Nyonya... Itu... Abis..." jawabnya.


     "Abis apa bi...? gosok gigi?" tebaknya dan bibi menggeleng.


"Olahraga malam?" lagi - lagi bibi menggeleng.



"Oh... Pasti mama ngidam yang aneh - aneh kan? jadi bibi gak berani kasih hal itu kemama ya?" tebaknya lagi dan bibi menggeleng - gelengkan kepalanya kembali.


     "Ah! Firdaus yakin banget pasti mama bandel, makanya suka ngidam yang aneh - aneh." geramnya lalu dengan langkah yang sempoyongan mulai berjalan hendak menuruni tangga tapi matanya langsung terbuka lebar bahkan mulutnya sampai menganga saking tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


     "Bi... Bibi... Itu kok badan mama penuh darah diujung tangga bi? darahnya dari tangga berbelok yang kedua lagi sampai bawah," ucapnya bergetar.


"Apakah mama jatuh dari tangga bi?" tanyanya lagi merasa ini adalah mimpi.


      "Itu emang nyonya den... Nyonya jatuh waktu mau naik tangga buat jumpai den Firdaus..." jelasnya.


"Bi... Coba cubit aku deh bi! kayaknya aku lagi mimpi buruk," pinta Firdaus masih tetap tak yakin dan bibi hanya menurutinya.


     "Aduh... Sakit banget ya bi... Kalau dimimpi lagi dicubit kan sakit juga yah bi... Ini mimpi kali ya," racaunya lagi.


"Den... Ini nyata den... Bukan mimpi..." jelasnya lagi.


     "Apa??!!" ucapnya terkejut.


"Berarti mama beneran jatuh dari tangga?" sambungnya lagi lalu langsung bergegas untuk turun membantu mamanya.


     "Mama... Mama... Mama gak papa kan ma..." ucap Firdaus dengan sekuat tenaga mulai mengangkat tubuh mamanya untuk dibawa masuk kedalam mobil pribadi.


     "Bi... Panggilkan penjaga yang lain ya buat bangunin papa... Mereka kemana sih? masak mama jatuh aja gak tau, walau pun didepan gerbang kan mereka ada yang ku suruh berjaga didalam rumah juga." resahnya.


"Ya ampun... Istriku sama calon anakku kenapa?" tanya papanya panik dan dengan cepat mengambil alih tubuh istrinya dari bopongan anaknya.


     "Papa sih! mama keluar dari kamar bukannya ditemanin! udah tau mama lagi hamil besar," cibir Firdaus.


"Kamu jangan banyak omong! cepat bukakan pintu mobil sana," perintah papanya yang malah memarahi Firdaus.


      Firdaus sebenarnya sangat kesal, tapi karna kondisi sedang seperti ini ia lebih memilih menurut demi keselamatan mamanya.


     🍃 Dimobil 🍃


     "Firdaus! apakah kamu sudah menelepon dokter pribadi mamamu?" tanya papanya.


"Sudah pa... Tapi katanya jika nanti kondisi mama masih tidak memungkinkan mama terpaksa harus menjalani operasi sesar, karna takutnya sang bayi tidak bertahan lama pa..." jawabnya.

__ADS_1


     "Maksud kamu mama harus melahirkan lebih dulu dari tanggal yang sebenarnya ya?" cemas papa yang kini sedang duduk di kursi belakang sambil membopong istrinya sedangkan Firdaus masih sibuk untuk mengemudikan mobilnya.


     "Iya papa... Papa yang sabar ya... Lagian ini kan demi keselamatan mama juga pa... Emang papa mau kehilangan mama?" ucap Firdaus berusaha menenangkan sang papa.


"Ya gak mau lah... Kamu kan tau kalau papa sangat sayang sama mama kamu," respon papanya sambil mengelus lembut pipi istrinya.


     "Papa berdoa aja kalau enggak yah pa..." saran Firdaus.


"Baiklah kalau begitu," respon papanya yang masih  tampak sangat cemas, wajahnya saja sampai pucat pasi saking tak kuasa melihat keadaan istrinya.


     🍃 Dirumah sakit 🍃


     "Dokter... Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya papanya saat sang dokter baru keluar dari ruangan, sedangkan sang dokter dengan sabar menjelaskan kondisi istri papa Firdaus.


     "Kondisi ibu dan bayi sangat tidak baik pak... Bahkan sang ibu sampai kekurangan darah, jadi beliau sangat memerlukan transfusi darah dengan golongan 'o' tapi masalahnya kami sedang kehabisan darah dengan golongan tersebut." jelasnya.



      "Astagfirullah hal'azim... Tapi keadaan bayiku gimana dok?" tanyanya lagi hingga berkaca - kaca.


"Kondisi bayi juga sedang sangat buruk pak... Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan sang ibu dan bayi." jawabnya.


     "Saya sebenarnya sangat ingin mentranfusi darah saya dok... Cuma masalahnya darah saya golongannya 'A' bukan 'o' jadi saya harus gimana?" tanyanya pada dokter muda tersebut.


     "Bapak harap tenang ya... Kami akan berusaha mencari orang yang bersedia mendonorkan darah kepada istri bapak dan pastinya memiliki golongan darah yang sama," ucapnya yang membuat papanya Firdaus sedikit tenang.


     "Tapi apakah orang yang mau mendonorkan darahnya sudah ditemukan?" tanya papanya Firdaus.


"Untuk saat ini kami masih proses mencari ya pak... Jadi bapak tolong bantu doa saja dulu ya... Semoga istri bapak cepat diselamatkan ya..." jelas ibu dokter.


     "Drettt.. Drettt... Dret..." tiba - tiba ponsel dokter tersebut bergetar saat mengangkatnya ia pun jadi tersenyum.


"Alhamdulillah pak... Sudah ada orang yang bersedia untuk mendonorkan darahnya kepada istri bapak... Jadi bapak harap tenang ya..." ucap sang dokter sambil ikut tersenyum bahagia seperti yang juga terpancar dari bibir papa Firdaus.

__ADS_1


     Firdaus baru saja sampai, setelah sejak tadi masih sibuk memarkirkan mobil juga ikut menanyakan kondisi ibu dan calon adiknya. Ia merasa sangat bersyukur saat menerima jawaban yang mampu membuat hatinya jadi sangat tenang dan merasa bahagia meski pun sejak tadi sudah diselimuti oleh ketegangan.


__ADS_2