
Firdaus dan Miftah juga Fajar sudah tampak serasi dengan baju sama warna yang mereka kenakan pagi ini. Sebelum berangkat Miftah sempatkan diri untuk mengunci pintu rumah.
"Yuk kita berangkat," ajak Miftah pada Firdaus dan Fajar.
Taxi yang sudah awal mereka pesan kini telah berada di depan mata.
Tanpa menunggu waktu lama mereka langsung masuk ke dalam mobil dan Firdaus memilih duduk di kursi belakang bersama dengan istri dan anaknya.
"Ummi, Abi. Sebenarnya kita kemana sih?" tanya Fajar.
"Kita mau pulang kampung sayang," beritahu Miftah.
"Kerumah siapa mi?" tanyanya lagi.
"Kerumah kakek dan nenek, emangnya Fajar gak mau ketemu sama kakek dan nenek?" jawab Miftah lalu balik bertanya.
"Wah... Asyik... Tentu saja Fajar mau Ummi, Fajar seneng banget dengarnya." girangnya sambil mengangkat tangannya yang sudah ia kepal kuat - kuat.
"Iya sayang... Nanti di sana jangan nakal ya..." peringat Miftah.
"Baik Ummi... Fajar janji kalau Fajar gak bakal nakal nanti di sana," responnya serius.
"Anak Ummi memang pintar," puji Miftah sambil mengelus puncak kepalanya.
"Eh... Anak Abi juga dong..." protes Firdaus.
"Iya anak Ummi dan Abi," ulang Miftah dengan nada malas.
"Gitu banget nadanya," cibirnya.
"Suka - suka Ummilah Abi," acuhnya lalu memilih melihat ke arah jendela saja.
Tak terasa mereka sampai juga di pelabuhan, beruntung karna kapal laut sudah di izinkan untuk beroperasi lagi.
Karna polisi langsung meluncur ke tempat kejadian perkara, syukurlah karna bangkai kapal yang tak terlalu besar bisa di tarik ke daratan hingga mayat penumpang yang sudah sedikit hangus terbakar bisa di selamatkan.
"Pak, sudah sampai di sini aja ya," pinta Miftah yang di turuti oleh sang sopir.
Saat mobil telah berhenti secara sempurna barulah Miftah membuka pintu mobil dan turun menginjak tanah.
"Yuk sayang," ajak Miftah hendak menggendong Fajar untuk turun.
"Gak papa Ummi, Fajar biar turun sama Abi aja ya." pinta Firdaus.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu," respon Miftah yang memilih mengambil koper saja.
Sang sopir sejak tadi sudah keluar terus saat mobilnya sudah berhenti sempurna, ia bergegas ke bagasi mobilnya dan mengeluarkan koper penumpangnya.
"Ini pak bayarannya, makasih banyak ya pak." ucap Miftah sambil memberikan beberapa lembar uang ke arahnya.
"Alhamdulillah... Makasih banyak ya mbak, ini kembaliannya," responnya sambil memberikan selembar uang senilai lima puluh ribu.
"Eh! gak papa pak, itu ambil aja kembaliannya ya pak. Sedekah dari saya," tolak Miftah secara halus.
"Beneran mbak?" tanya bapak tua itu tak percaya.
"Iya pak, ambil saja. Gak usah sungkan ya pak..." jawabnya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah... Makasih banyak ya mbak, ya Allah... Semoga rezeki mbak sama mas bisa selalu mengalir lancar ya..." doanya terharu.
"Amiiin, kalau begitu kami pamit dulu ya pak." ucap Miftah yang langsung di angguki olehnya.
"Iya mbak silahkan," responnya yang tak berhenti merekahkan senyuman.
Itulah yang Miftah sukai, ia ingin membuat banyak orang tersenyum di dunia ini. Meskipun hanya dari hal kecil yang ia lalukan dan tanpa sadar itu mungkin sangat berharga bagi sang penerimanya.
Firdaus juga tambah kagum dengan sosok istrinya yang sangat rendah hati itu, ia jadi merasa sangat beruntung bisa memiliki wanita secantik dan se sholehah Miftah.
Kapal yang mereka naiki kini sudah berlayar di atas lautan, Fajar juga tampak begitu girang dari atas kapal.
Ini adalah pengalaman pertama bagi Fajar, selama ini ia tidak pernah merasakan bagaimana asyiknya berlayar di atas samudera biru yang begitu indah.
Setelah beberapa jam mengapung di atas air, akhirnya mereka pun sampai dengan selamat. Firdaus merasa sangat lega, setelah sejak tadi tubuhnya sempat tegang akibat masih mengingat peristiwanya kemarin.
Firdaus sudah menelpon Rangga dan Sekar agar lebih dulu sampai di pelabuhan dan benar saja, mobil hitamnya kini telah tampak dari jembatan.
"Mif, itu mobilku ada di sana." tunjuk Firdaus.
"Iya mas benar," angguknya lalu mereka pun langsung turun ke bawah.
Terlihat Rangga dan Sekar keluar dari mobil secara bersamaan, Rangga membukakan pintu untuk Miftah dan Firdaus sedangkan Sekar mengambil alih koper yang di seret oleh tuannya.
Setelah semuanya masuk baru mereka kembali ke dalam mobil dan menyalakannya. Tak perlu menunggu waktu lama mobil hitam itu sudah kembali membelah jalanan dengan kecepatan sedang.
Sekar dan Rangga tak segan - segan memulai percakapan dengan Miftah hingga Miftah jadi membalasnya dan turut merasa senang karna sikap mereka tak pernah berubah begitu pun sebaliknya.
"Ummi, Ummi kenal sama dua Om ini?" tanya Fajar.
__ADS_1
"Iya Ummi kenal sayang... Mereka adalah teman Ummi," jelas Miftah.
"Dan juga bodyguard Abi yang sangat perkasa," sombong Firdaus hingga membuat Rangga dan Sekar tertawa lalu menggelengkan kepala secara bersamaan.
"Hahaha bos Firdaus ada - ada saja," respon mereka.
Fajar kecil jadi ikut tertawa saat melihat tingkah kocak orang tuanya ketika sedang bersama para bodyguard mereka yang tak tampak seperti anak buah dan tuannya. Malah lebih tampak seperti saudara.
Tak berapa lama kemudian mereka pun sampai di pekarangan rumah pak Alterio, terlihat jelas sebuah mobil merah yang tak asing bagi Miftah.
"Abi, apa benar itu mobil orang tua Ummi?" tanya Miftah sambil menunjuk keluar jendela.
"Sepertinya iya deh Ummi, apa mungkin orang tua Abi yang sudah mengundang mereka datang kemari?" tebak Firdaus.
"Bisa jadi bi, kalau gitu kita turun aja dan masuk ke dalam supaya gak penasaran." usulnya.
"Baik," respon Firdaus mengangguk mengiyakan.
Belum saja mereka sampai di depan pintu tiba - tiba saja pintu rumah Firdaus telah terbuka lebar, memperlihatkan beberapa insan yang salah satunya menjadi tebakan mereka sejak tadi.
"Mama, papa." girang Miftah yang langsung memeluk kedua orang tuanya.
Firdaus juga melakukan hal yang sama, orang tuanya jadi sangat bersyukur karna ternyata nyawa putranya masih bisa di selamatkan.
Mereka langsung mengajak mereka berdua juga cucunya masuk ke ruang tamu. Mereka jadi banyak bercerita tentang banyak hal, mama Firdaus dan mamanya Miftah merasa sangat senang saat dapat melihat cucu mereka yang sekarang sudah tumbuh begitu besar.
Fajar juga senang berada di dekat dua neneknya, ia tak pernah membeda - bedakan keduanya. Ia memperlakukan mereka secara adil, hingga tak ada yang merasa terasingkan.
Sambil bermain dengan Fajar, sesekali mama Firdaus dan mamanya Miftah ikut menyambung perbincangan antara ayah dan anak mereka itu.
Pak Alterio kembali memuji kehebatan Firdaus yang mampu bertahan di kedalaman air laut, meskipun kondisi tubuhnya sempat lemah bahkan sampai kurus kering akibat masalah rumah tangganya.
Entah sudah berapa jam mereka berbicara, Fajar juga sudah tampak lelah karna di oper ke sana kemari. Kadang ia ke nenek dan kadang juga ia ke kakek.
Akhirnya orang tua mereka memberikan mereka waktu untuk istirahat terlebih dahulu sebelum azan Dzuhur berkumandang.
Miftah dan Firdaus pun pamit naik ke lantai atas menuju kamar dengan Fajar usai mengucapkan terima kasih.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇