
"Sayang... Kenapa sih kamu udah lama gak ada kabar?" tanya wanita satu yang membuat Werdan merasa geli dengan panggilan itu terhadapnya.
"Is! apaan sih kamu main panggil sayang - sayang aja sama calon suamiku," sinis wanita dua.
"Heh! jangan mimpi ya kamu! liat ini, aku udah pakai cincin tunanganku dengan sayangku mas Werdan." unjuknya pada jari manisnya.
"Cih! baru juga di kasih cincin, belum buktinya." dengus wanita dua sedangkan wanita tiga hanya diam.
Werdan juga sedang bingung untuk berkata apa sekarang, yang jelas ia benar - benar pusing untuk saat ini.
"Kenapa kalian malah bertengkar sih?" tanyanya setelah terdiam beberapa detik.
"Aku gak ikutan ya," ucap wanita tiga mengangkat suara.
"Aku gak ngomong sama kamu, tujuanku tak lain dan tak bukan ke mereka." ucapnya dengan wajah datar sambil menunjuk kearah dua wanita yang sibuk bertengkar.
"Sayang... Kok kamu gitu banget sih sama aku... Mana senyuman yang sering kamu kasih ke aku beberapa tahun yang lalu hmm? kamu bahkan mau jadi husband ku," resah wanita satu.
"Dengar ya! aku gak ada niat sama sekali untuk menikah sama kamu," ungkapnya menggunakan sedikit nada tinggi.
"Kenapa mas? bukannya mas yang bilang sendiri malam itu?" tanyanya yang sudah berkaca - kaca.
"Karna aku sejak dulu sama sekali gak mau mencintaimu, makanya itu aku memberimu cincin itu hanya untuk sekedar menghargai rasa cintamu padaku." beritahunya yang sontak saja membuat wanita satu menggelengkan kepala tak percaya.
"Oh! ternyata hanya karna hal itu kamu memberikanku cincin ini? kamu gak bercanda kan mas? jawab mas!!!" gertaknya di akhir kalimat.
"Aku minta maaf! tapi itu memang benar, kamu harus paham." ucapnya yang sontak saja membuat tampungan air mata wanita itu jatuh mengalir di pipinya.
"Tega kamu ya mas sama aku, tega kamu setelah apa yang aku berikan untukmu sampai kehormatanku turut kau rebut juga tapi kau sama sekali tak ingin mempertanggung jawabkannya." responnya dengan dada yang sudah naik turun tak beraturan saking merasa sesak.
Ia pun membuka cincin yang sudah lama melekat di jari manisnya.
"Rugi aku menjaga barang ini, yang aku kira adalah sebuah ketulusan ternyata hanyalah sebuah kebohongan. Padahal aku sudah satu tahun menunggu kedatanganmu kembali ke kediamanku, tapi kamu tak kunjung datang hingga aku terpaksa harus mencarimu karna orang tuaku sudah mendesakku untuk menikahimu." geramnya.
"Ambil saja cincin ini mas! aku gak butuh! aku benar - benar terluka karna ulahmu mas! aku benci kamu mas! sangat," resahnya sambil menatapnya tajam.
"Asal kamu tau! orang tuaku menyuruhku untuk cepat - cepat di nikahi olehmu karna di dalam perutku sudah terdapat janin anak kita berdua mas," beritahunya yang sontak saja membuat Werdan terdiam.
"Lagian anakku ini juga tidak butuh ayah yang tak memiliki perasaan seperti mu," ucapnya lagi yang bergitu menusuk hati Werdan.
__ADS_1
Lalu ia pun membalikkan tubuhnya untuk pergi dari situ tanpa berniat melihat kebelakang untuk yang terakhir kalinya.
Sebenarnya Werdan merasa sangat kehilangan sosok wanita itu, ia adalah wanita yang pertama kali ia temui dan selalu menemaninya dalam suka dan duka.
Tapi setelah membuat hatinya begitu terluka Werdan malah diam karna merasa tak pantas lagi mendapatkan kepercayaan dari wanita itu kembali.
"Mas! ternyata kamu udah berhubungan badan juga sama wanita lain selain aku?" tanya wanita dua yang membuat Werdan jadi melihat ke asal suara.
"Iya sayang," jawabnya.
"Plak!" sebuah tamparan yang lumayan keras terdengar.
Dan pelaku yang menampar adalah wanita dua.
"Aku juga turut kecewa sama kamu mas! kamu benar - benar pria yang sama sekali tak memiliki hati terhadap wanita, aku pikir hanya aku saja mungkin yang terlalu buta akan cinta hingga telah menunggu kedatanganmu sampai setengah tahun." ucapnya.
"Ternyata aku salah! ada yang lebih besar mencintaimu," sambungnya lagi dengan tatapan yang tak kalah tajam dari wanita satu.
Mata beningnya juga turut berkaca - kaca karna merasakan sakit berupa rasa sesak didadanya akibat menahan tangisannya.
"Mas! asal kamu tau, bukan hanya dia saja yang ingin memberikan kabar gembira mengenai apa yang ada di dalam perutnya saat ini." ucapnya yang sontak saja membuat jantung Werdan berdebar kencang.
"Deg!"
"Apa jangan - jangan dia juga hamil?" batinnya merasa resah.
"Aku hamil mas! aku hamil anak kita mas! tapi kamu malah merusak kebahagiaan anak kita nantinya dengan sikapmu yang seperti ini," resahnya yang sudah menangis deras.
"Sayang aku minta maaf," ucapnya yang lagi - lagi hanya bisa mengatakan kata tersebut.
"Plak!" sebuah tamparan kembali melayang kearahnya.
"Maaf? mas! kamu pikir dengan kata maaf lukaku akan langsung sembuh apa mas?" resahnya yang tak habis pikir dengan sikap kekasihnya.
"Aku tau kata itu gak akan pernah bisa memperbaiki luka yang sudah retak di hati kamu sayang, dan tak lama lagi aku juga akan menikah dengan gadis lain." jawabnya.
"Jegerrr,"
Bagaikan di sambar petir wanita itu jadi terdiam dalam sesaat.
__ADS_1
"A-apa mas? me-menikah?" tanyanya terbata - bata.
"Ya! aku akan menikah dengan seorang gadis Sholehah yang selalu menjaga auratnya," jawabnya santai.
"Plak!" lagi - lagi tamparan ketiga melayang ke pipinya.
"Apa kau pikir dengan baju kami yang sedikit sexy ini kamu malah berkata bahwa kami ini adalah perempuan murahan yang tidak menjaga aurat kami hah?" tanyanya yang sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Bukan itu maksudku," jawabnya sambil mengelus sebelah pipinya yang terasa perih.
"Lalu apa hah? aku benar - benar gak habis pikir sama kamu mas! aku meskipun begini selalu menjaga diriku sendiri, dan aku rela melakukan hal itu denganmu sebelum menikah karna aku yakin bahwa kamu adalah seorang pria yang bertanggung jawab." ucapnya.
"Ternyata tidak sama sekali," sambungnya.
"Tap-" belum selesai Werdan berbicara wanita dua langsung memotong ucapannya.
"Udahlah mas! aku capek, mungkin hal ini akan menjadi pelajaran bagiku agar lebih berhati - hati dalam mempercayai pasanganku sendiri." ucapnya mengambil kesimpukan.
"Selamat tinggal mas," sambungnya sambil mengecup seblah pipi Werdan lalu berjalan pergi.
Werdan sedikit tersipu dibuatnya, tapi rasa bersalahnya membuatnya tak mampu membalas perlakuan wanita dua meskipun untuk terakhir kalinya.
Kini yang tersisa hanya wanita tiga.
Setelah menonton kejadian tadi dengan jelas di depan mata kepalanya sendiri ia pun memilih untuk pergi juga dari hadapan kekasihnya itu.
"Tunggu! kamu mau kemana? apa kamu tidak ingin berbicara hal lain dulu denganku?" tanya Werdan menghentikan langkahnya.
"Untuk apa aku bertanya hal lain padamu? toh semuanya sudah jelas kok," jawabnya acuh lalu kembali melangkahkan kakinya yang sempat tertunda.
Merasa kalau wanitanya sudah pergi jauh Werdan pun kembali kedalam mobil dalam keadaan tergesa - gesa dan ia sangat terkejut saat Permata tak ada lagi di dalam mobilnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1