
🍃 Didapur 🍃
Kini Miftah sudah sampai didapur bersama sang mama yang masih setia menggandeng tangannya dan terlihatlah bi Ati yang sejak tadi ternyata sudah hampir siap dengan masakannya.
"Lho bi... Kok tumben masaknya agak awal?" tanya mama sedikit kecewa.
"Oh! maaf nyonya saya pikir nanti nyonya pasti akan kedatangan tamu jadi saya berinisiatif untuk masak lebih awal agar para tamu tidak harus menunggu lebih lama," jelasnya.
"Oh gitu... Yah... Kita gak jadi masak deh!" sedih sang mama.
"Gak papa mama kan nanti malam juga bisa... Lagian jika nanti malam kita gak terlalu kepanasan..." hibur Miftah sambil tersenyum manis.
"Kamu benar! ya sudah kalau gitu kita duduk dibelakang rumah aja yok sambil nikmatin pemandangan taman," ajaknya dan Miftah hanya mengangguk tanda setuju.
"Ya sudah kalau gitu kami pergi dulu yah bi... Bibi silahkan lanjutkan saja oke," ucap sang mama sambil merangkul Miftah dengan penuh kebahagiaan.
"Maaf ya nyonya karna sudah mengambil keputusan sendiri! lain kali saya akan menanyakan dulu pada nyonya baru bertindak," responnya merasa tidak enak.
"Sudah lah bi... Tidak perlu dipikirkan lagi... Kami kan bisa masak bersama lain waktu seperti apa yang Miftah katakan tadi," ucapnya sambil menatap teduh kearah Miftah.
"Oh iya! kalian belum kenalan kan?" tanya nyonya dan mereka hanya mengangguk sambil berkata "iya belum," secara bersamaan.
"Wah... Baru juga ketemu tapi udah kompak aja," tawa nyonya.
"Enggak kok nyonya..." elak bi Ati.
"Sudah gak papa kok bi..." ucap Miftah menenangkan dan bibi hanya tersenyum sambil berkata "terima kasih."
Setelah berkenalan sebentar mereka pun pamit untuk terakhir kalinya pada bi Ati lalu mulai berjalan menuju ketaman belakang rumah dan alangkah terkejutnya Miftah saat melihat keindahan teman tersebut.
Bunga - bunga warna - warni telah bermekaran dengan indah memberikan keharuman yang membuat candu bagi siapa yang tak sengaja menghirupnya.
Para kupu - kupu dan lebah sedang bersusah payah membantu penyerbukan agar mendapatkan imbalan dari sang bunga berupa madu yang sangat manis.
__ADS_1
Mereka terus saja terbang dari satu bunga kebunga yang lain, membuat Miftah yang melihatnya jadi ingin sekali menyentuh kupu - kupu cantik itu.
Tiba - tiba seekor kupu - kupu putih hinggap diatas jilbabnya.
"Wah... Mif! dikepalamu ada kupu - kupu tau..." ucap mama sedikit pelan.
"Benarkah ma? Miftah sangat ingin melihatnya," ucapnya yang juga ikut memelankan suara agar sikupu - kupu tidak terkejut dan malah terbang menjauh.
Mama dengan gesit langsung mengambil kemeranya lalu tanpa Miftah sadari.
"Cklik,"
Suara potretan kamera membuat Miftah respek berpaling kearah lain sehingga sikupu - kupu jadi terbang menjauh tapi justru itu malah membuat foto menjadi lebih indah karna ekpresi Miftah dan kupu - kupu seperti sedang bertatapan hingga sayapnya jadi terlihat sangat jelas saat dilebarkan.
"Ya ampun... Fotonya jadi bagus banget ini," ucap mama merasa puas dengan hasil potretannya.
"Masak iya sih ma," heran Miftah sambil terus menatap kearah kupu - kupu yang sudah terbang semakin jauh.
Kini dua insan itu sedang duduk santai diatas kursi sofa panjang sambil menikmati hari yang cukup panas ditemani segelas teh dingin.
"Oh iya Miftah! kenapa kamu tidak melanjutkan menanam terong kembali?" tanya sang mama penasaran.
"Ini ma... Miftah pikir Miftah kan mau kesini jadi lebih baik Miftah hentikan dulu aja hobi Miftah," jawabnya sambil menatap sang mama.
"Yah... Sayang sekali... Padahal mama sangat suka sama terong tanaman kamu itu... Udah mah buah nya bagus - bagus," puji mama dan Miftah hanya tersenyum senang.
"Oh iya! bagaimana kalau kamu tanam terong lagi aja," usul mama.
"Maaf mama... Bukannya Miftah gak mau... Tapi jarak antara rumah Miftah dengan mama kan lumayan jauh," ucapnya sedih.
__ADS_1
"Udah kamu gak perlu sedih kayak gitu," hibur sang mama.
"Kamu kan bisa taman pohon terongmu ditanah samping rumah mama... Disitu kan kosong gak ada apa - apa lebih baik dimanfaatkan kan? walau pun agak kecil sih tempatnya," sambung sang mama.
Miftah mencoba melihat arah yang dimaksud dan ia sampai terperangah dibuatnya.
"Apa? tanah sebesar itu mama bilang kecil? itu malah lebih besar berkali lipat dari kebun belakang rumahku," batinnya heran saat telah mengetahui bahwa ukuran tanah lebih besar dari apa yang diduganya.
"Tapi ma apakah yang lainnya tidak keberatan? apa lagi kak Firdaus..." resahnya.
"Kamu gak usah khawatir... Mama yakin Firdaus udah berubah kok! kemarin itu dia pasti cuma salah paham sama kamu..." ucap sang mama meyakinkan.
"Tapi ma -" ucapan Miftah kini dipotong olehnya.
"Tidak ada tapi - tapian! pokoknya kamu harus semangat! masalah yang lainnya kamu gak usah pikirkan oke! kan ada mama yang bakal jadi benteng kamu! lagian mama juga suka banget sama terong kamu begitu pun yang lainnya," jelasnya meyakinkan sambil memegang erat pundak Miftah.
Miftah sangat terharu saat mendengar kata - kata mama Firdaus, ia jadi sangat bahagia seakan - akan rasa lukanya akibat rindu kepada mamanya jadi hilang seketika saat melihat tatapan teduh dan penuh kasih sayang darinya.
"Mama..." ucap Miftah yang tanpa ia sadari air matanya telah jatuh melewati pipi indahnya.
"Lho! kamu kenapa nangis sayang?" tanya sang mama panik.
"Mama gak usah panik... Miftah nangis karena Miftah sangat terharu saat mendengar ucapan mama... Miftah jadi merasa hidup kembali mama... Andaikala Miftah masih bisa berjumpa dengan mama Miftah setidaknya untuk menanyakan kabarnya saja tapi mama entah di mana... Papa pun begitu," isaknya yang langsung dipeluk oleh mama Firdaus karna ikut merasa perih.
"Iya mama ngerti kok! yaudah kalau gitu kamu gak usah sedih lagi yah... Mama yakin suatu hari nanti kamu pasti bisa berjumpa dengan orang tuamu," supportnya.
"Benarkah?" tanya Miftah merasa mustahil.
"Iya... Di dunia ini gak ada yang gak mungkin sayang... Kalau kamu mau berusaha... Jadi sebelum bertemu mereka kamu harus bisa jadi anak yang sukses dulu oke!" bisiknya dalam keadaan masih memeluk Miftah.
"Baiklah mama... Miftah akan coba untuk kuat lagi... Miftah gak bakal mau jadi wanita yang mudah rapuh hanya karna satu hal," tekatnya sambil mempererat pelukan.
__ADS_1
Meskipun mereka baru saja mengenal tapi keteduhan yang diberikan oleh mama Firdaus mampu membuat siapa saja menjadi luluh walau pun ia terkenal dingin tapi untuk orang yang sangat ia sayangi rasa dingin itu terdengar seperti suatu hal yang mustahil bagi mereka yang sudah pernah mendapatkan kasih sayangnya yang begitu tulus.