
Azan magrib pun berkumandang, Firdaus dan keluarga kecilnya kini mulai melaksanakan sholat magrib berjamaah. Ia sangat bersyukur karna kondisi tubuhnya sudah semakin pulih.
"Mas, apa mas udah sanggup? kalau belum lain kali aja gak papa kok mas. Jangan di paksakan ya," pinta Miftah.
"Enggak kok sayang, mas udah sembuh kok. Liat ini, mas aja udah bisa jalan sendiri." responnya.
"Yaudah kalau gitu, Miftah mau pakai mukena dulu ya mas." ucapnya yang tadi sudah lebih dulu mengambil wudhu.
"Iya sayang," responnya yang hendak mencubit pipi Miftah tapi Miftah berhasil menghindar.
"Ya ampun mas... Miftah lagi ada wudhu, nanti kalau mas pegang Miftah wudhunya jadi batal dong." peringatnya.
"Eh iya, maaf ya sayang. Mas lupa," ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Yaudah mas buruan sana ambil wudhu, Fajar aja udah siap tuh di atas sejadahnya." responnya berpura - pura memandangnya sinis.
"Gitu banget liatnya," komen Firdaus.
"Biarin aja," acuh Miftah sambil berjalan mendekat ke arah putranya.
"Ummi, Abi bakal jadi imamnya kan?" tanyanya berharap.
"Iya sayang... Abi bakal jadi imamnya kok," respon Miftah sambil mengelus puncak kepala putranya.
"Yaudah Ummi pakai mukena terus ya... Biar Abi gak lama nanti nungguinnya," pinta Fajar.
"Yaudah Ummi pakai mukena dulu ya," ucapnya yang langsung di angguki oleh putranya itu.
Tak berapa lama kemudian Firdaus pun keluar dari kamar mandi, ia mulai memakai sarung yang sudah di sediakan oleh Miftah di atas tempat tidur.
Karna ia sudah menggunakan baju panjang yang bersih, ia tinggal berdiri diatas sejarah yang di gelar oleh Fajar.
Fajar kecil sangat bersemangat, makanya itu ia yang meminta pada Umminya biar ia saja yang menggelarnya.
"Udah siap semuanya?" tanya Firdaus sambil melihat kearah belakang.
"Udah Abi," jawab mereka serentak dengan senyuman mengembang hingga membuat Firdaus sangat bahagia.
Harusnya sejak dulu beginilah ia harus hidup, dengan wanita yang telah melahirkan buah hatinya yang begitu Sholeh.
Setelah mendengar apa yang mereka katakan barulah Firdaus kembali menghadap kearah kiblat dan memulai takbiratul ihram.
"Allaahu Akbar," ucapnya.
Miftah dan Fajar juga mengikuti gerakan Firdaus tersebut.
__ADS_1
Usai beberapa menit mereka pun selesai melaksanakan sholat magrib, Miftah langsung mencium punggung tangan suaminya yang di ikuti oleh putranya.
"Wah... Suara Abi merdu banget ya Ummi waktu baca ayat Alquran, Fajar jadi pengen deh belajar dengan Abi. Boleh kan bi?" harapnya memohon.
"Boleh kok, apapun untuk anak Abi pasti akan Abi turuti kok. Asalkan hal yang baik - baik," responnya hingga membuat Fajar begitu senang.
"Ye... Makasih banyak ya Abi," girang Fajar.
"Oh iya mas," ucap Miftah yang baru saja teringat sesuatu.
"Ada apa Ummi?" tanya Firdaus yang tidak memanggil Miftah dengan sebutan sayang jika di depan putranya.
"Ini Abi, Ummi lupa kalau Ummi belum masak. Abis magrib biasa Ummi ada ajarin Fajar ngaji Iqra, boleh kan Abi yang gantikan sebentar?" tanya Miftah yang sudah sibuk melipat mukenanya.
"Sudahlah Ummi, masalah Fajar mengaji sekarang biar jadi urusan Abi ya. Ummi fokus aja masak, lagian Abi sama Fajar nanti pun sudah lapar kan nak?" jawabnya sambil terkekeh pelan.
"Iya Abi benar, Fajar juga nanti udah lapar banget pasti bi." angguknya membenarkan.
"Oke! kalau gitu Ummi ke dapur dulu ya," pamitnya.
"Eh! tunggu dulu," cegah Firdaus hingga membuat langkah kaki Miftah berhenti.
"Duh Abi... Ada apa lagi sih?" heran Miftah sambil menaikkan satu alisnya.
"Apa? Abi," kaget Miftah sambil melotot sempurna, tangannya sudah berkacak pinggang.
"Hehe! maaf Mi Abi lupa," sadarnya sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal.
"Abi minta cium apa?" tanya Fajar bingung.
"Eh... Enggak kok nak... Abi... Abi..." responnya bingung ingin menjawab apa.
"Rasakan tuh, jawab pertanyaan anakmu. Lagian asal ngomong aja sih, udah tau udah jadi ayah." dengus Miftah lalu langsung keluar dari dalam kamar.
"Abi..." ucap Fajar lagi.
"Ini Fajar, Abi minta Ummi buat cium Fajar dulu gitu... Hehe," jawabnya.
"Tapi Fajar kan udah gede Abi, Fajar gak terlalu suka di cium lagi..." jelasnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ampun! aku lupa kalau anakku aktif banget, gimana dong ini?" batinnya merasa resah.
"Oh iya! katanya Fajar mau banget Abi ajari ngaji, yuk kita ngaji sekarang aja yuk sama Abi. Tadi Ummi kan juga udah suruh sama Abi," ucapnya mencoba membalikkan topik pembicaraan.
"Iya Bi mau, kalau gitu Fajar mau ambil Iqra Fajar dulu ya..." responnya hingga Firdaus jadi dapat menghembuskan napas lega karna Fajar tak lagi menanyakan hal tadi.
__ADS_1
Sedangkan Miftah yang kini sudah berada di dapur masih saja sedikit jengkel dengan sifat Firdaus yang asal bicara saja di depan putranya.
Untung baru ketemu jadi ia masih mewajarkannya, tapi jika sudah lama ia pasti akan memberikan Firdaus pelajaran.
Miftah mulai memasak aneka makanan seperti cumi goreng, sayur asem dan ikan teri Medan sambal.
"Alhamdulillah, untung semua bahan masih lengkap." ucapnya setelah mengecek isi kulkas yang masih full karna kemarin ia sudah berbelanja terlebih dahulu saat tau Firdaus akan pergi menjemputnya.
Awalnya ia sempat tak habis pikir dengan Firdaus, bisa - bisanya suaminya itu berenang dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Beruntung di lautan tempat ia tinggal ini tidak di huni oleh ikan ganas.
Jika iya ia mungkin sudah tak dapat lagi melihat sosok Firdaus yang memang sangat ia cintai selama ini.
Jujur! berpisah dengan Firdaus memang bukanlah hal yang mudah, berulang kali ia menahan rasa rindu yang tiap malam begitu menyiksanya.
Miftah jadi semakin merasa tertekan tat kala ia tau jika dirinya sedang mengandung anak dari Firdaus.
Awalnya ia mengira jika ia hanya sakit biasa dan sering muntah - muntah. Tapi semakin hari ia merasa semakin berbeda dengan perutnya, hingga akhirnya ia pun memutuskan ke rumah sakit saat perutnya sudah agak membesar.
Kaget bukan main setelah ia tau jika ia ternyata mengandung dan janinnya juga sudah memiliki ruh di dalam sana.
Sejak saat itulah Miftah jadi rajin menjaga pola makannya, tidur teratur dan tak membiarkan dirinya terlalu lelah.
Hingga tibalah saatnya ia melahirkan putranya untuk menatap dunia dan dirinya.
Lahir tanpa adanya seorang ayah yang harusnya menemani proses ibunya yang begitu susah payah saat melahirkannya.
Miftah hanya tersenyum saat mengingat detik - detik tersebut, ia hanya di temani oleh teman dekatnya di situ untuk di antar ke rumah sakit.
Akhirnya semua makanan pun selesai di masak olehnya, ia tinggal menyajikan semuanya di atas meja. Azan isya baru saja berkumandang dari arah Musalla yang cukup besar di desa tersebut.
Miftah langsung bergegas menuju kamar untuk mengambil wudhu setelah urusannya selesai dan menutup semua lauk pauk menggunakan tudung saji.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1