
Sesampainya ditempat tujuan Miftah langsung turun, tak lupa memberikan beberapa lembar uang pada temannya itu dan Haris menerimanya sambil berkata terima kasih.
"Oh iya! maaf ya tadi aku udah buat kamu menunggu lama! kakaku rewel banget soalnya," ucapnya dengan wajah datar.
"Iya gak papa kok," responnya yang lebih memilih melihat ke arah lain karena tak ingin fokus menatap wajah Miftah yang benar - benar terlihat tak bersahabat itu.
"Oke kalau begitu aku duluan ya," pamitnya sambil melambaikan tangan ke arah temannya itu.
"Oke! hati - hati ya! oh iya! pasti Kaka yang kamu maksud tadi adalah calon suamimu ya?" tebaknya.
"Bisa diam tidak sih?" geramnya dengan mata yang sedikit berapi tak kala ia mengingat pria yang sudah membuat darahnya naik beberapa jam yang lalu.
Bagai tersengat listrik ia langsung diam. Dan tak berapa lama kemudian motor tersebut hilang dari pandangan mata Miftah, saat sang pemilik baru sadar dari lamunannya.
Saat ia memasuki gerbang, ia tak sengaja berpapasan dengan nyonya yang terlihat sangat fokus berbicara dengan lawannya dibalik ponselnya.
"Apa? kamu gila ya? masak ia kamu mau menceraikan dia!" ucapnya yang kini sudah berdiri dipojokan gerbang yang jauh dari tempat berjaga para penjaga gerbang.
"Kamu pikir kehidupanku sekarang gimana hah? aku hanya menginginkan hartanya. Tapi sekarang aku sudah tidak sanggup lagi karena dia sering sakit - sakitan! kamu pikir aku ini apaan hah? seorang perawat dirumah sakit yang tak pernah bosan menjenguk pasiennya?" komennya.
"Tapi bagaimana dengan kerja sama kita? aku tidak mau jika nanti dia malah kembali merebut suamiku! aku sudah lelah memperjuangkannya Werdan," kesalnya.
"Itu bukan urusanku! intinya! cepat atau lambat aku akan bercerai dengannya!" ucap pria yang diketahui memiliki nama Werdan.
"Aku gak habis pikir ya sama kamu! dulu kamu bilang ke aku kalau kamu itu tulus mencintai Rosalia! tapi sekarang! mana buktinya?" geramnya sambil mengepalkan satu tangannya yang sedang menganggur karena tak memegangnya apa pun.
Miftah yang mendengar nama mamanya disebut jadi merasa terkejut.
"Apa? Rosalia! itukan nama mama! bagaimana mungkin mama yang dulunya selalu sehat jadi jatuh sakit begitu mudah! setauku mama tidak memiliki sakit yang serius dulu," batinnya merasa cemas.
Miftah mencoba semakin mendekat agar dapat lebih jelas mendengar pembicaraan mereka berdua, dan kebetulan sang nyonya juga mengeraskan suara panggilan ponsel hingga ia jadi lebih mudah untuk mendengarkan apa yang lawan bicaranya katakan kepadanya.
"Hahaha! aku hanya menipumu! agar kamu mau bekerja sama denganku! yang penting kita bisa sama - sama mendapatkan apa yang kita inginkan kan?" tanyanya mengambil kesimpulan.
"Tidak! aku pikir kita akan tetap membahagiakan mereka dengan cara kita sendiri, bukannya menindas mereka seperti ini." protesnya hingga membuat Miftah semakin penasaran dengan sosok nyonya.
"Wanita ini terlihat begitu keras! tapi kenapa aku melihat sisi ia yang sebenarnya adalah baik," pikirnya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa alasan dia merubah sikapnya menjadi bengis begini," pikirnya lagi dengan dahi yang sudah berkerut.
"Hahaha! ternyata sisi baikmu masih selalu ada! untuk apa kau menyayangi wanita yang sudah merebut orang yang kau cintai hah? bukannya yang lebih dulu dekat dengan pria itu adalah kamu! tapi yang berhasil memikat hatinya malah dia," ucapnya yang langsung membuatnya terdiam seribu bahasa.
"Ya sudah! lebih baik kita membicarakan ini diwaktu dan tempat yang tepat, jangan dipekarangan bebas seperti ini. Meskipun melalui hp, kita tidak akan pernah tau siapa yang nanti bisa mendengarnya." usulnya.
"Sudah ku duga! kamu masih penakut rupanya! pantas saja pria itu tidak mudah takluk kepadamu! jika sikapmu seperti ini terus, cepat atau lambat ia pasti akan menceraikanmu meskipun ia tidak mengetahui kejahatanmu." ucapnya.
"Tutup mulutmu! aku begini juga karna mempunyai alasan! sudahlah! lebih baik nanti malam kita bertemu disebuah Restoran dekat taman yang sedang terkenal itu," ucapnya.
"Oke! itu tidak masalah bagiku! kalau begitu sampai jumpa nanti malam ya penakut," ledeknya.
"Kurang ajar! dasar kamu pria yang tidak memiliki perasaan," geramnya.
"Eitsss... Jangan lupa berkaca ya! sikapmu yang sekarang juga tak jauh beda dari diriku! jadi jangan pernah belagu," peringatnya sambil tersenyum remeh disana.
"Itu tidak benar! lebih busuk dirimu," ucapnya membela diri lalu langsung menutup ponselnya, sedangkan Miftah yang sudah melihat tanda - tanda nyonya akan berbalik badan langsung mengambil langkah seribu agar cepat hilang dari pandangan matanya.
Terlihat jelas sekarang kedua matanya telah berair, dan tumpah melewati pipi indahnya meskipun sudah berumur lebih.
"Aku tau! sejak dulu cintaku dengan Askari tak bisa dibilang baik - baik saja! jika nanti aku berpisah dengan nya aku aku harus kuat. itu lebih baik bagiku dari pada terus berharap sesuatu yang tak pasti," ucapnya lemah.
Setelah menenangkan dirinya sebentar dan menghapus sedikit genangan air mata yang mengalir dipipinya, ia langsung melangkahkan kakinya untuk pergi dari tepat itu.
Sebuah mobil putih bersih sudah berdiri dihadapannya, sang sopir terlihat begitu tergesa - gesa saat keluar dari tempat mengemudi lalu membukakan pintu belakang untuk majikannya.
Setelah majikannya masuk ia kembali berlari kecil ketempatnya semula.
Disisi lain Miftah yang sudah sampai di ruangannya langsung disambut hangat oleh Virgo.
"Selamat pagi... Lho! kamu kenapa? kok udah kayak orang abis dikerjar macan aja," komennya merasa cemas.
"Hah... Hah... Hah... Ini lebih dari pada macan! jadi Kaka diem aja ya... Capek banget aku lari - lari dari tadi! udah ma aku pakai sepatu berhak lagi! untung gak tinggi banget," responnya sambil mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan.
"Iya deh... Kaka paham... Sudah... Lebih baik kamu istirahat dulu sebentar! biar Kaka yang mengatur mereka selagi kamu mengistirahatkan kakimu sejenak," tawarnya.
"Wah... Kaka baik banget deh! yang bener? ini gak becanda kan?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Ya enggaklah... Aku kan orangnya gak suka PHP-in orang lain," guraunya.
"Alah - alah! sombong amat bang," respon Miftah ikut bergurau lalu mereka pun tertawa bersama sebelum menuju ke arah mereka masing - masing.
"Bukan sombong! tapi PD," elaknya tak terima.
"Hahaha! ya sama aja! PDnya kelebihan," ucap Miftah yang sudah dapat kembali untuk tertawa.
Rasa kesalnya tapi pagi serasa sirna saat sudah berhadapan dengan Virgo, seorang yang sangat pandai mengubah suasana orang yang dekat dengannya.
"Ya sudah sana masuk! jan lupa luruskan kakimu barang sebentar," peringatnya.
"Beres..." responnya sambil mengarahkan satu ibu jari tangannya ke arah Virgo yang sudah tersenyum lebar ke arahnya.
Akhirnya mereka pun berpisah untuk melakukan tugas mereka masing - masing.
_____________________________________
Hai kaka semuanya... 🤗
Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇
"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"
Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊
Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄
Dimana bulan disitu bintang 😀
Dimana gelap disitu terang 🤣
Terima kasih bila tlah datang 😆
Star beri ucapan salam sayang 😘
Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...
__ADS_1
Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...
🍃🍃🍃🍃🍃 🙏🙏🙏 🍃🍃🍃🍃🍃