Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 46


__ADS_3

    Jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi, Firdaus merasa heran dengan Miftah. Sudah satu jam dia tidak keluar juga dari dalam kamarnya.


"Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan sih? kenapa sampai jam segini belum siap juga? selama itukah memasukkan baju kedalam koper?" pikirnya merasa jenuh karna kopi yang telah dibuat Miftah habis dan juga film kesukaannya itu.


     "Ya ampun... Anak ini... Bisa berjamur aku lama - lama nunggu disini," resahnya.


"Krek," suara gagang pintu yang telah dibuka membuat Firdaus langsung bangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri sosok yang telah membukanya.


     Firdaus yang awalnya hendak meluapkan sedikit emosinya kini malah terdiam saat melihat mata Miftah yang telah bengkak dan merah.


"Kamu kenapa? abis keselek obat ya?" tanya Firdaus memastikan dan Miftah hanya diam.


     "Ayo Kaka kita berangkat! katanya Kaka ingin membawaku kerumah Kaka, jadi dari pada membuang - buang waktu lama lebih baik kita pergi sekarang." ajak Miftah sambil menyeret koper ungunya tanpa menunggu jawaban dari Firdaus menuju mobil.



     "Dasar! pertanyaan macam apa aku tadi? masak ia aku sempat berpikir kalau Miftah keselek obat! emangnya kalau keselek obat mata bisa bengkak apa? dasar bodoh!" umpatnya pada diri sendiri lalu mulai mengikuti langkah kaki Miftah yang telah lebih dulu sampai didepan mobilnya.


     "Sini kopermu! biar aku bantu bawakan kebagasi mobilku," pinta Firdaus dan Miftah hanya menyerahkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kamu masuk saja duluan kedalam mobilku oke," ucap Firdaus dan Miftah hanya mengangguk.


     Firdaus merasa ada hal aneh dengan Miftah, tidak biasanya gadis itu bersikap begitu murung seperti saat ini kepada siapa pun karna ia sangat handal dalam menyembunyikan masalahnya tapi sekarang ia malah tampak sangat rapuh.


     Miftah pun langsung membuka pintu mobil belakang dan duduk dengan tenang, kepalanya terus ia tundukkan dan hal itu sukses membuat Firdaus merasa sangat penasaran sekaligus kasian.


     "Lho! kenapa kamu tidak duduk disampingku saja?" tanya Firdaus setelah masuk kedalam mobil.


"Maaf Kaka untuk saat ini aku sepertinya sedang ingin sendiri," jawabnya lesu.



"Mif... Kalau kamu punya masalah kamu boleh kok cerita denganku," tawarnya yang kini sudah merasa sedikit aneh dengan dirinya sendiri.



"Kenapa aku tiba - tiba peduli padanya? harusnya kan aku senang ketika melihat kondisinya yang rapuh seperti ini? tapi sekarang kenapa hatiku malah jadi ikut - ikutan sakit?" batinnya tak habis pikir dengan perubahan suasananya.


     "Ya sudah... Lebih baik untuk sekarang kamu tenangkan saja dirimu terlebih dahulu agar matamu tidak berair lagi dan bengkaknya menjadi berkurang," ucap Firdaus.


"Baiklah Kaka..." responnya sambil berusaha tersenyum dalam keadaan yang masih saja menunduk.


         🍃 Kejadian sebelum berangkat 🍃


     Miftah yang sudah mendapatkan izin dari Firdaus untuk membereskan barang - barangnya mulai masuk kekamar setelah membuatkannya segelas kopi hangat yang begitu menyiksa batinnya saat menghirup aroma kopi yang sudah lama ia simpan rapi dan tak pernah ia sentuh lagi semenjak kakeknya meninggal.


     Palingan yang sering minum kopi dirumahnya adalah Qomarun, itu pun bukan Miftah yang harus turun tangan untuk membuatnya karna mereka adalah teman yang sudah sangat dekat jadi agak bebas bagi Qomarun jika ingin membuat segelas kopi untuk dirinya saja.


     Tapi semenjak Qomarun pergi untuk menyelesaikan kuliahnya kembali Miftah jadi sulit untuk mencari pengganti jika ia sedang tak dapat hadir di pengajian itu.


     Sebenarnya Miftah sudah sejak semalam selesai menyiapkan semuanya, hanya sebagian kecil saja yang belum ia masukkan tapi ia terpaksa harus berkata belum agar Firdaus tak terlalu curiga jika ia masih lama berada di kamarnya.


     Ya seperti biasa jika jam telah menunjukkan pukul delapan pagi Miftah memutuskan untuk sholat Dhuha terlebih dahulu setelah itu ia pun berdoa kepada Ilahi tapi entah kenapa ia jadi ingin menangis ketika mengingat jodohnya datang lebih cepat dari apa yang ia kira.


     "Ya Allah mama sama papa dimana ya? apakah mereka benar - benar telah melupakanku? sesungguhnya aku sangat merindukan mereka ya Allah apa lagi tak lama lagi aku akan segera menikah, aku sangat ingin papa menjadi waliku pada saat itu tiba tapi apakah itu mungkin?" doanya merasa sangat sedih.


     "Memangnya aku salah apa ya Allah hingga mereka sampai mau meninggalkan aku pada saat itu dimana waktu itu adalah waktu kenaikan umurku juga... Harusnya aku mendapatkan kado yang indah tapi kenapa kali itu kado yang kudapatkan malah kado yang menyakitkan?" tanyanya, hatinya begitu terasa teriris saat mengingat kejadian beberapa tahun silam.


     Saat itu umur Miftah sudah mau menginjak usia sebelas tahun, ia berniat setelah tamat SD untuk masuk ke pesantren sekalian meminta izin untuk memakai cadar permanen karna ia sudah sangat yakin dengan keputusannya.


     Miftah terkenal dengan gadis yang alim disekolahnya, tutur katanya sopan dan ia juga seorang gadis yang sangat pemalu, saat teman - temannya ingin berfoto bersama didepan kamera ia selalu menghindar karna ia memang tidak menyukainya.


     Ia lebih suka membaca buku - buku tentang Islam sejak dulu, banyak para kaum adam yang menembak nya tapi ia selalu saja menolak dengan halus supaya tak menyakiti hati mereka.


     Setiap hari laci mejanya tidak pernah kosong, ada saja hadiah yang diletakkan oleh pengagum rahasianya tanpa nama dan ia hanya menyimpan hadiah itu sampai sekarang tapi jika makanan ia akan menyedekahkannya pada teman - temannya untuk dimakan bersama.

__ADS_1


     Semenjak hari itu banyak yang memberikannya hadiah berupa benda agar dapat disimpan olehnya setelah mengetahui jika mereka memberi makanan itu tidak dimakan olehnya sedikit pun.


     Malam itu adalah malam yang sangat Miftah tunggu - tunggu sebelumnya karena sudah lama ia ingin memakai cadar tapi ia tidak berani mengungkapkannya dan sekarang hatinya sudah mantap dan sangat yakin dengan pilihannya itu.


     Kini Miftah sudah turun menggunakan pakaian rapi untuk menghampiri mama dan papanya tapi saat kakinya sudah sampai diujung tangga terakhir ia malah mendengar suara gaduh di dapur.


     "Papa! mama udah capek ya sama kerjaannya papa yang sukanya selingkuh dibelakang mama! papa pikir mama ini bodoh apa pa? enggak! mama justru liat dengan mata kepala mama sendiri kalau papa itu lagi berduaan dengan wanita sialan itu," geramnya sambil menunjuk tepat diwajah suaminya.



     "Mama ngomong apa sih ma! papa gak ngerti! papa benar - benar gak ada hubungan apa - apa dengan wanita lain! papa kan cintanya cuma sama mama," ucap sang papa berusaha untuk tenang.



     "Cinta? papa bilang papa cinta sama mama? terus kenapa papa malah berani mencium wanita itu saat kalian sedang janjian makan malam pa... Kenapa?" tanya sang mama berapi - api.


     "Ma! demi Allah ma papa gak pernah mencium wanita lain selama kita menikah selain mama! papa yakin mama pasti salah paham," resah sang papa.


     "Salah paham gimana maksud papa? jelas - jelas itu terjadi didepan mata kepala mama sendiri saat mama juga kebetulan ada meeting dengan salah satu kliennya mama..." ucapnya tak terima.


     "Ya udah terserah mama! papa sebenarnya juga udah capek banget dengan sifat mama yang terlalu posesif pada papa," responnya lalu mulai berlalu dari hadapan istrinya untuk menenangkan diri.


     "Mama membencimu pa... Mama membencimu!!! sangat membencimu bahkan mama sangat menyesal telah melahirkan seorang anak yang terdapat darah dagingmu pula dalam tubuhnya," geramnya.


     Sang suami yang sudah tersulut emosi dengan ucapan istrinya mulai berjalan kearahnya dengan tangan hendak ia layangkan kearah istrinya tapi berhasil ditahan oleh Miftah yang kini sudah menangis deras dihadapan papanya.


     "Cukup papa... Papa jangan pukul mama ya... Sabar papa... Sabar..." ucap Miftah memohon dengan nafas yang masih tersengal - sengal akibat menangis begitu deras, dadanya terasa begitu sakit saat mendengarkan pertengkaran orang tuanya itu.


     "Pergi kamu!!! aku tidak sudi mempunyai anak yang dalam tubuhnya juga terdapat darah daging wanita pemfitnah ini!!!" gertak papanya yang seketika membuat tubuh Miftah membeku seperti batu.


     "Apakah ini benar - benar papa ku? perasaan papaku tidak pernah sekejam ini padaku! papa adalah pria yang sangat sabar dan lemah lembut bahkan saat sedang marah papa biasa lebih memilih diam tapi sekarang kenapa papa telah berubah?" batinnya sedih.


     "Lepaskan tangan kotormu dari tanganku wanita kecil sialan!!! aku membencimu dan untuk saat ini jangan pernah kamu panggil aku papa!!! aku benar - benar jijik jika mendapatkan panggilan dari darah daging wanita pemfitnah ini," gertaknya lagi sambil menepis tangannya secara kasar.


"Dengar ya!!! mama mu ini telah membuat aku emosi jadi aku juga ikut - ikutan muak saat melihat wajahmu yang sangat mirip dengannya!!! jadi kamu lebih baik mati saja sejak dulu!!!" gertaknya sambil mencengkram kuat pipi Miftah sehingga tanpak merah saat cengkraman itu telah dilepaskan*.


     "*Ma... Papa kenapa sih ma..? kenapa papa malah berubah menjadi monster?" tanya bibir kecilnya yang masih belum mengerti dampak dari pertanyaan nya itu.


"Diam kamu!!! jangan pernah kamu panggil aku mamamu lagi!!!" gertak sang mama*.



"*Plak*,"


     Sebuah tamparan dari sang mama mendarat sempurna dipipinya saat tadi masih jatuh terduduk disampingnya.


     Cukup sudah! hati Miftah kini sudah benar - benar hancur dibuat oleh mereka, niatnya yang ingin menenangkan pertengkaran sengit orang tuanya yang hampir saling menyakiti malah ia yang jadi bulan - bulanannya mereka.


     *Dengan sekuat tenaga Miftah bangkit dari posisinya yang sedang terduduk.


"Sudah cukup!!! kemana perginya cinta di hati mama sama papa? kemana?!! jika kalian saling mencintai harusnya kalian juga harus saling mempercayai bukannya malah saling tuduh menuduh tanpa bukti yang jelas!!! aku memang masih bocah kecil yang tidak tau apa - apa!!! ya kalian benar!!!" teriaknya firustasi sambil menahan rasa sakit yang amat sangat diulu hatinya*.


     "Mama sama papa ingin aku tak ada kan? tapi jika itu yang kalian inginkan kenapa kalian malah bersatu dan membuat ku jadi ada hingga detik ini dan hanya karna ada masalah pribadi kalian malah tumpahkan semua rasa kesal kalian pada anak yang tidak memiliki kesalahan sama sekali!!! kenapa hah?" tanyanya tapi orang tuanya hanya diam sambil menunduk.


     "Oke!!! kalau itu yang kalian inginkan aku kabulkan!!! aku akan pergi dan membunuh diriku sendiri agar kalian bahagia!!! puas kalian!!! kalian lanjutkan saja pertengkaran yang tak berujung ini!!! selamat tinggal," ucap Miftah sambil berlari keluar rumah dengan langkah lemah dan pandangan mata yang telah suram karna bendungan kristal yang hampir tumpah.


     *Pak satpam yang menjaga gerbang jadi terbangun dari tidur nyenyak nya dipos dekat pintu gerbang saat melihat Miftah membuka gerbang secara kasar lalu keluar begitu saja.


"Eh non! non mau kemana?" tanya pak satpam khawatir lalu bergegas mengejar Miftah*.


     "Non ini sudah malam non! non gak boleh keliaran malam - malam begini non! bahaya! tuan dan nyonya pasti sangat mencemaskan non," peringatnya sambil terus mengejar Miftah yang sangat cepat berlari hingga pak satpam yang sudah tua jadi sedikit kewalahan.


     "*Mencemaskan?" pikir Miftah saat pak satpam menggunakan kalimat itu.


"Jangankan mencemaskan! mereka saja malah menginginkan aku mati," geramnya tanpa menghentikan langkahnya hingga pak satpam yang melihat tubuh Miftah jadi menghilang tak terlihat lagi*.

__ADS_1


     "Aku harus segera kembali dan melaporkan ini kepada tuan dan nyonya! semoga saja non Miftah tidak apa - apa," ucapnya lalu langsung berbalik arah untuk kembali agar Miftah bisa dicari dengan dengan mudah melalui petugas lainnya.


     Miftah terus saja berlari dengan penglihatan mata kabur dan tanpa sadar kini dirinya sudah menembus sebuah hutan yang sangat gelap, suara lolongan anjing mulai terdengar, Miftah hanya mampu memeluk tubuhnya sendiri akibat telah bergetar ketakutan.


     "Aku ada dimana? sudah sejauh apa aku berlari? hiks," ucapnya yang kini sudah jatuh terduduk sambil menumpahkan air matanya lalu ia melihat kearah depan yang tampak seperti jalan curam dan benar saja saat ia mendekat ternyata dibawah adalah jurang, pantas saja pepohonan tampak rendah jika di lihat dari jauh.


     "Apakah aku sedang dimudahkan untuk mati karna keinginan orang tuaku hingga mudah menemukan jurang? apakah aku memang harus mengakhiri kehidupan ku sekarang agar mereka dapat bahagia? tapi... Aku sebenarnya masih takut ya Allah... Kalau aku membunuh diriku sendiri itu pasti akan menjadi sebuah dosa besar," resahnya sambil memegang kepalanya yang terus berdenyut hingga sangat menyiksanya.


     "Cuman kalau kehidupan ku sudah begini apa gunanya aku bertahan? lebih baik aku akhiri saja hidupku," ucapnya yang telah nekat dan saat ia hendak melompat kedalam jurang yang cukup dalam tiba - tiba sesosok tangan menariknya untuk menjauh dari kawasan yang berbahaya dan sangat mengancam nyawa itu.


     "*Kamu siapa?" kenapa kamu malah menolongku?" tanya Miftah meronta - ronta minta dilepaskan.


"Nak... Allah sangat membenci hambanya yang ingin mengakhiri hidupnya karna suatu hal saja jadi kamu harus bersabar ya..." peringat sebuah suara berat dari seorang kakek*.


     "Tapi aku sudah tidak punya siapa - siapa lagi... Orang tuaku saja telah membenciku bahkan mereka menginginkan aku mati... Hiks! hiks," tangisnya menundukkan wajah sambil menompang kepalanya yang tertunduk dengan lengan kanannya.


     "Sudah... Jangan menangis lagi ya... Jika sudah tidak ada lagi yang mau menyayangi mu kan masih ada kakek disini yang mau menerima mu untuk menjadi bagian dari keluarga kakek dan nenek," jelasnya.


     "*Kakek gak lagi becanda kan?" tanya Miftah yang sudah tampak sedikit ceria meskipun luka perih masih ia rasakan sejak tadi.


"Tentu saja kakek tidak becanda tapi kamu mau kan jadi cucu kakek sama nenek?" tanyanya dan Miftah hanya mengangguk*.


     "*Tapi rumah kakek dan nenek mungkin tidak sebagus rumahmu," ucap sang kakek sedikit sedih.


"Gak papa kek... Miftah diterima aja udah bersyukur banget... Ternyata di dunia ini masih ada juga yah yang masih sayang sama Miftah," ucapnya sambil tersenyum walau pun matanya masih terlihat merah dan bengkak*.


     "*Ayo kek kita pulang," ucapnya yang memang masih seperti anak kecil, ia menarik pelan jari telunjuk sang kakek agar mau berjalan dengannya.


"Baiklah," respon sang kakek semangat*.


     Ia jadi teringat dengan anaknya sendiri yang kini sudah besar dan harus merantau keluar negri tapi nasib buruk menimpanya dan keluarga kecilnya karna sang anak mengalami kecelakaan pesawat saat ingin kembali mengunjunginya sambil membawa cucu yang belum pernah ia lihat sama sekali dan sosok Miftah membuat ia jadi merasakan kehadiran seorang cucu yang sudah lama ia nantikan.


     "Kasian sekali anak ini! siapa lagi yang tega membuang anak semanis dan sekuat ini begitu saja? aku yakin suatu hari nanti mereka pasti akan menyesal," pikirnya resah dan sangat merasa kasian dengan Miftah.


     Kini mereka pun mulai berjalan keluar dari hutan yang sangat gelap tersebut untuk kembali kerumah, beban yang ada dipikiran nya yang masih kecil jadi berkurang saat ia bersama sang kakek yang sangat ramah terhadapnya, padahal sang kakek baru saja mengenalnya.


     Tak terasa sudah berapa lama Miftah melamun sambil mengingat masa kecil pahitnya dulu dengan air mata yang masih saja membasahi pipinya dan saat ia melihat kearah jam dinding matanya langsung terbelalak saking terkejutnya.


     "Ya Allah sudah jam sembilan kurang," ucapnya lalu langsung bergegas untuk bersiap - siap karna Firdaus pasti sudah sangat lama menunggu nya diluar.


"Untung aja saja dia tidak mengetuk pintu kamarku jadi masih ada waktu sebelum itu terjadi," batinnya.


                  🍃 Kejadian saat ini 🍃


     Firdaus terus saja menyetir dengan perasaan yang masih tidak tenang sama sekali, bagaimana tidak? Miftah masih tetap saja menundukkan kepalanya sejak tadi, ia terus saja memikirkan cara dan setelah menemukannya lalu ia meminjamkan Miftah ponselnya yang sudah ia pasang headset.


     "Ini ambil," beri Firdaus kepada Miftah yang hanya ditanggapi dengan tatapan bingung.


"Pakai," perintahnya.



"Untuk apa?" tanyanya masih tak mengerti.



"Sudah kamu pakai aja dulu nanti juga kamu tau kalau kamu sudah mendengarnya," jawabnya.


     Miftah hanya menurut lalu langsung melakukan apa yang Firdaus perintahkan, ternyata Firdaus menyuruhnya untuk mendengarkan sholawat yang memang dia sendiri yang menyanyikannya dengan musik melalui karaoke.


Ia terpaksa memberikan sholawat dengan hasil suaranya sendiri karna diponselnya sudah tidak ada lagi lagu lain selain sholawat hasil rekamannya saat ia sedang sangat iseng.


     Miftah jadi merasa tenang dan tak berapa lama kemudian ia pun jadi tertidur pulas dengan headset yang masih terpasang di telinganya.


Firdaus akhirnya dapat menghembuskan nafas lega, setidaknya itu cukup membantunya jadi dapat merilekskan dirinya sebentar sebelum sampai ke tujuan.

__ADS_1


__ADS_2