Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 178


__ADS_3

     Firdaus yang di berikan pertanyaan oleh Miftah tak kunjung menjawab pertanyaannya itu, ia masih terus mematung menatap mata gadis yang masih setia balas menatap matanya dengan sorot yang tak dapat di artikan.


     Jujur! sebenarnya sudah lama gadis itu memendam rasa rindunya, mengelak semua pertanyaan orang tuanya saat mereka hampir jenuh menunggu kedatangan orang yang dulu sempat ingin melamarnya saat masih di pondok pesantren.


     Ia hanya mampu menyumpal indra pendengarannya saat bersama mereka ketika hari kunjungan tiba, karna sampai sekarang ia masih saja tinggal untuk mengabdi sebagai ustazah di pondoknya.


     Setiap malam saat ia sempat terbangun untuk melaksanakan sholat tahajjud, ia selalu saja berdoa agar Firdaus dapat cepat menunaikan apa yang sudah ia janjikan kepadanya.


     Namun sampai saat ini Firdaus malah semakin lenyap usai ia melaksanakan sholat Istikharah agar hatinya semakin mantap untuk melangkah kepada Firdaus.


     Ia bahkan hampir tak percaya jika alasan Firdaus menutup Status Wanya hanya karna ia ingin berpaling darinya dan hendak untuk menikah dengan wanita yang ia anggap memang lebih dari dirinya.


     Gadis itu sadar, mungkin benar apa yang di katakan oleh orang tuanya untuk tidak terlalu mempercayai ucapan pria pada masa lalu, yang mana ia masih menimba ilmu dan pikirannya belum tentu benar - benar matang dengan apa yang ia ucapkan meskipun sudah berjanji sekali pun.


     Setiap ada pria yang datang berkunjung untuk meminangnya, semua itu di tolak mentah - mentah olehnya hanya untuk mempertahankan pria yang mana pria itu kini sedang berbahagia dengan wanita lain.


     Kemana sekarang ia harus percaya? kemana ia sekarang harus memilih? ia sudah benar - benar tak dapat berpikir jernih lagi selain menumpahkan bola kristalnya akibat rasa sesak yang tak kunjung hilang dari dadanya.


     Firdaus Alfajar, pria yang pertama kali berhasil mengetuk pintu hatinya. Pria yang banyak di kagumi oleh kaum hawa ternyata juga pintar memainkan perasaan wanita dengan begitu mudahnya.


     Dulu temannya sempat berkata padanya.


     "Jannah. Akhi Firdaus sepertinya sudah lama tidak datang berkunjung menjengukmu, biasanya meskipun ia tidak datang ia sempat menitipkan sesuatu untukmu di sela - sela kesibukannya dalam mengolah Bisnis papanya." ucap teman Jannah.


     "Sudahlah... Akhi Firdaus mungkin punya urusannya sendiri, tidak mungkin ia terus terusan memerhatikan ku. Aku paham kok." responnya tetap berpikir positif.


     "Tapi kan kamu sempat cemas dulu karna sudah beberapa Minggu ini akhi Firdaus tidak pernah lagi memasang Status, apa jangan - jangan ia sudah memprivasikannya darimu supaya kamu tidak tau jika ia sudah punya selingkuhan." tebak temannya itu.

__ADS_1


     "Sssstttt... Kamu ini ngomong apa sih Karnia? kita itu gak boleh soudzon dulu sama orang lain, siapa tau apa yang kita pikirkan itu tidak benar gimana?" nasehat Jannah.


     "Iya sih... Tapi firasatku gak enak aja Jannah dengan akhi Firdaus itu. Jangan sampai kamu kalah ya nanti, karna akhi Firdaus tiba - tiba saja sudah menikah di belakang kamu hingga ia jadi tak menanyakan kabarmu." cemas temannya yang lagi - lagi mulai berpikir buruk terhadap Firdaus.


     "Ih... Kamu ya Karnia suka banget berpikir buruk deh akhir - akhir ini, aku cubit ya..." geram Jannah sambil memanyunkan bibirnya, tangannya juga tak berhenti mencubit pelan tubuh teman dekatnya itu hingga ujung - ujungnya mereka jadi tertawa bersama dan balas mencubit antara satu dan yang lainnya.


     Sekarang Permata benar - benar tak menyangka jika tebakan teman dekatnya itu benar, ia hendak memutuskan tatapannya dari mata Firdaus tapi ia tak bisa. Hatinya yang penuh dengan kerinduan merasa begitu berat untuk melakukan hal itu.


     Ia tau sakit hatinya melihat pria yang ia tunggu telah di miliki oleh wanita lain, ia tau sakit itu tidak bisa di ibaratkan dengan apa pun untuk saat ini karna penantian yang sudah ia korbankan benar - benar telah memakan waktu yang cukup lama.


     "Maaf, apakah benar nama anda adalah Firdaus Alfajar?" tanyanya memberanikan diri.


     Firdaus masih membisu, pertanyaan Miftah saja tak kunjung mendapatkan jawaban dari bibirnya.


     "Tolong jawab, jika memang anda akhi Firdaus kenapa anda tega mempermainkan perasaan saya yang sudah lama menunggu kedatangan anda yang menghilang tanpa jejak?" tanyanya lagi yang sudah tak dapat lagi mengontrol dirinya.


     Ia sempat berharap jika apa yang ia lihat sejak tadi hanyalah mimpi buruk belaka, karna benar - benar dapat menghancurkan keromantisannya dengan Miftah.


     Tapi sayang, ini memang nyata terjadi. Ia sempat bingung bagaimana Jannah bisa ada di pantai tempat ia berbulan madu bersama Miftah.


     Kenapa kini takdir seorang membuatnya tersudut dan menimpanya begitu bertubi - tubi dalam satu waktu?


     Belum juga ia berani mengatakan hal yang sebenarnya kepada Miftah tentang kenapa ia mau menikah dengannya, tapi malah berujung cinta yang begitu besar.


     Belum juga ia jujur kepada Jannah tentang pernikahannya ini dengan Miftah, tapi sudah lebih dulu di ketahui dengan pertemuan pahit yang nanti sudah tentu akan berujung perselisihan yang di hiasi dengan air mata.


     Miftah benar - benar tak habis pikir dengan apa yang gadis itu katakan.

__ADS_1


     "Tunggu! ada apa ini sebenarnya? apakah kamu benar - benar ada hubungan dengan suami saya sebelumnya?" tanya Miftah kepadanya dan kini tubuhnya sudah berhadapan dengan gadis itu.


     Gadis itu kini menunduk, ia sadar jika ia sebentar lagi akan menghancurkan hati wanita yang sudah benar - benar mantap menjadi pilihan Firdaus sampai rela bersembunyi di belakangnya.


     Harusnya tadi ia mampu menahan dirinya untuk tidak mengatakan hal itu dan memilih pergi dari pada mengganggu kesenangan mereka.


     Itu lebih baik baginya meskipun begitu sakit, yang penting ia sudah tau apa alasan di balik Firdaus mendiaminya dan menutup semua jejak agar mempersulitnya mencaritau.


     Alasannya ia sudah memiliki wanita yang lebih baik darinya. Terus bagaimana dengan janji? lupakan hal itu jika sudah begini jadinya, ia memang belum tau apa alasan terbesar Firdaus sampai tega menduakannya ia tidak tau.


     Tapi seandainya Firdaus mengatakan hal yang sejujurnya nanti, apakah ia sanggup untuk menerimanya saat hal itu sudah masuk ke dalam pendengarannya? entahlah! ia kini hanya mampu memegang kepalanya yang terasa semakin berdenyut kencang.


     "Mbak, tolong jawab pertanyaan saya. Saya mohon! jawaban mbak sangat berarti bagi saya," desak Miftah sambil memegang bahunya.


     "Sudahlah Miftah-" ucapan Firdaus terpotong.


     "Diam kamu mas!!! diam!!! aku sedang tidak berbicara denganmu, jika memang kau tidak bersalah pasti jawabannya tidak akan seperti apa yang aku pikirkan." gertaknya.


     "Kau tau apa itu? ya! menyakitkan mas! menyakitkan. Jika ia benar - benar tidak ada hubungan spesial denganmu, pasti ia tidak mungkin mengatakan hal yang tak seharusnya aku pikirkan untuk saat ini." sambungnya merasa geram dan kembali menatap mata Jannah.


     "Tolong katakan mbak!" desaknya lagi hingga mau tidak mau Jannah akhirnya kembali berpikir terlebih dahulu sebelum mengangkat suaranya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2