Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 34


__ADS_3

          🍃 Dua hari kemudian 🍃


Dikamar Nyonya


     " Ma...Sudahlah ma... Ikhlasin aja ya...lagian anak kita meninggalnya bukan sepenuhnya salah mama..." ucap papanya Firdaus gelisah sambil terus membujuk istrinya yang sudah seharian menangis semenjak mengetahui bahwa anak yang ada dikandungannya tidak dapat diselamatkan akibat benturan keras.


     "Tapi tetap aja papa... Seandainya mama gak ceroboh dan minta tolong bibi untuk temenin mama keatas pasti anak kita gak bakalan ninggalin kita pa..." ucap mamanya sesegukan sambil berusaha menghapus air matanya yang dibantu oleh suaminya .


     "Sudahlah ma... Kalau mama kayak gini terus nanti mama bisa sakit lagi lho..." peringat papanya.


"Biarin aja pa... Kenapa harus anak kita yang pergi pa... Kenapa gak mama aja... Mama gak kuat papa... Biasanya ini gak pernah terjadi pa..." keluhnya lagi .


     "Mungkin ini jalan yang terbaik mama... Kalau mama nangis terus pasti dia akan ikut sedih... Biar kan dia lebih dulu menjadi bidadari disyurga karena tak punya dosa dan akan menjemput kita diakhir Zaman nanti..." jelas papanya .


     "Iya papa benar... Maafin mama ya papa... Karna udah buat papa jadi ikutan sedih," ucap istrinya sambil memeluk sang suami tercinta.


"Gak papa mama... Mama kan wanita yang paling papa cintai didunia ini... Dan mama pun udah pernah memberikan papa kado terindah yaitu anak - anak kita yang lainnya," respon papanya ikut senang sambil membalas erat pelukan istrinya.


     "Makasih ya pa..." ucapnya sambil menatap penuh rasa sayang pada sang suami.


" sama - sama ma..." respon sang papa sedangkan Firdaus yang tak sengaja mendengar pembicaraan papa dan mamanya saat lewat didepan kamar mereka jadi ikut merasa bahagia karna akhirnya sang mama berhasil juga mengikhlaskan kepergian calon adiknya.


     "Syukurlah... Kami sangat beruntung malam itu! untung ada saja orang yang mau mentranfusikan darahnya untuk mama, jika tidak pasti sang mama tidak akan selamat." batinnya.


     "Ya ampun... Aku sampai lupa dengan rencana ku," resahnya lalu langsung menelpon seseorang untuk melakukan tugas lanjutan agar Miftah dapat dengan segera ia dapatkan sebelum jabatannya diambil alih.


     "Halo," ucap Firdaus saat telpon sudah terhubung.


"Iya maaf ada apa ya? apakah ini pak Firdaus?" tanya seseorang dibalik telpon.


__ADS_1


"Apakah namamu Jodi?" ucap Firdaus malah balik bertanya.



"Iya pak benar sekali! tapi ada apa ya pak?" tanyanya cemas.


     "Salah satu rekanku memberikanku nomer ponselmu," jawabnya.


"Pasti pak Sabur ya pak?" tanyanya lagi.



"Benar sekali... Kamu tau kenapa?" tanya Firdaus.



"Ya saya gak tau pak... Kan bapak belum bilang kenapa," responnya.



     "Iya pak," responnya mulai bergetar.


"Iya pak - iya pak aja kamu bisanya," geram Firdaus.



"Kamu pemilik toko bunga yang terkenal itu kan?" tanya Firdaus memastikan.



"Gak terkenal juga sih pak... Cuma Alhamdulillah udah ramai lah yang datang berkunjung," jelasnya merendahkan diri.

__ADS_1


     "Intinya itu!" ucap Firdaus.


"Maaf! sebenarnya pak Sabur sudah memberitahu tentang bapak pada saya... Bukannya saya tidak percaya tadi sama bapak, cuman saya hanya memastikan aja karna belum tersimpan dan pak Sabur juga belum sempat menjelaskan kenapa." jelasnya.


     "Baiklah... Intinya itu aja sekarang! yang saya inginkan adalah..." responnya.


"Apa pak?" tanya Jodi penasaran.



"Aku ingin kamu yang langsung turun tangan mengantarkan pesananku ketempat tujuan," jawabnya.


     "Tapi pak... Maaf banget ya pak... Terkadang saya juga mempunyai kesibukan sendiri juga, walaupun bapak membayar saya lebih tetap gak bisa kalau harus selalu saya." tolaknya.


     "Memangnya anak buah mu benar - benar bisa dipercaya? jangan nanti udah lelah aku atur siasat dan membeli beberapa bunga yang harganya cukup mahal malah tak bisa diandalkan," jelasnya.


     "Insya Allah enggak kok pak... Para karyawan saya yang bekerja merawat toko bunga saya tidak seperti yang bapak pikiran," belanya.


"Ya sudah kalau begitu! ini kan udah jam tujuh pagi, saya ingin setiap jam delapan pagi kalian mengantarkan sebuket bunga mawar putih hidup pada alamat yang sudah saya kirimkan nantinya." jelas Firdaus.


     "Baik pak! siap akan kami lakukan! tapi itu berlaku sampai berapa hari pak?" tanyanya.


"Saya juga masih kurang tau... Intinya antar aja, masalah biaya nanti saya yang tanggung dan kapan terakhir pengantaran akan saya beritahu lagi lain waktu." jawab Firdaus.


     "Baiklah kalau begitu saya ingin mempersiapkan bahannya dulu yah pak... Oh iya! apakah bapak ingin menambahkan kata - kata?" tanyanya sebelum menutup telpon.


"Tentu saja! tulis aja I LOVE YOU," jawabnya dan setelah itu sambungan telpon langsung diputuskan oleh Firdaus.


     Setelah mengirimkan alamat tempat rumah Miftah tinggal, Firdaus pun mulai menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya karna hari ini ia sedang mengambil cuti semenjak kejadian yang menimpa mamanya beberapa hari lalu.


     Sebenarnya Firdaus sangat penasaran dengan orang yang telah berbaik hati ingin mentranfusikan darahnya tanpa bayaran sepeser pun pada mamanya, seandainya ia di izinkan untuk bertemu dengan orang tersebut ia ingin sekali mengucapkan terima kasih karna berkat bantuannyalah mamanya bisa terselamatkan .

__ADS_1


     Sesampai dikamar, Firdaus mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya sambil menatap langit - langit kamar.


     "Semoga saja rencana ini segera berhasil! ini semua salah kamu Miftah! salah kamu! gara - gara buah terong mu itu aku jadi frustasi seperti ini karna harus menikahimu! padahal datang ketempat mu saja sudah membuat ku muak! apa lagi kalau aku harus merelakan kamu agar menjadi makmum ku," resahnya sambil menutup mata dan dalam hitungan detik Firdaus pun sudah masuk kedalam mimpi indahnya.


__ADS_2