Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 190


__ADS_3

     Ponsel Firdaus kini berdering dan membuatnya terbangun karna bisingnya suara alaram melalui ponselnya.


     Ia mulai mengikuti cara Miftah yang sangat suka bangun Tahajjud dan menyetelnya dengan ponsel.


     Lampu kamar yang masih mati membuat pandangannya hanya bayangan hitam, ia mulai menyalakan lampu kamar setelah bangkit dari tempat tidurnya.


     Dari jarak yang tak begitu jauh ia bisa melihat Jannah yang masih tertidur pulas menghadap ke arahnya yang kini tak lagi berada di sisinya.


     Firdaus hanya mampu menatap sedih ke arah Jannah yang tertidur dengan mata yang sedikit sembab.


     Ia tau itu pasti karna ulahnya yang membuat batin Jannah tertekan, tapi benar apa kata Jannah kalau dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.


     Kakinya kini mulai melangkah kembali ke arah kasur dan duduk sebentar, tangannya mulai mengarah untuk mengelus puncak kepala Jannah yang masih tertidur lelap.


     Tak berapa lama kemudian ia mulai bangkit kembali untuk menuju ke kamar mandi dan mulai berwudhu.


     Saat sejadah telah ia gelar menghadap kearah kiblat baru Firdaus berdiri di atasnya untuk melaksanakan Sholat Tahajjud yang sudah jarang ia kerjakan.


     Ia melakukannya dengan begitu khusyu, sholat saat jam tiga malam membuat hatinya sangat tentram.


     Ia berhenti di rakaat ke 20 dan menutupnya dengan Sholat Witir 3 rakaat.


     Setelah kakinya duduk bersilang baru ia mengadahkan tangannya untuk berdoa kepada Allah SWT.


     "Ya Allah, sesungguhnya hamba sedang di landa rasa bingung. Hamba bingung dengan perasaan hamba sendiri dan jalan mana yang lebih baik hamba tempuh, hamba sebenarnya sekarang sudah memiliki dua istri meskipun yang satunya telah pergi meninggalkan hamba."


     "Jujur Rab, hamba memang gagal menjadi seorang suami yang mampu menyenangkan istri hamba hingga membuatnya bertahan dengan hamba."


     "Tapi jika memang benar apa yang di katakan oleh Jannah semalam, hamba benar - benar bahagia dan sedikit tak percaya jika Miftah benar - benar ingin kembali kepada hamba."


     "Hamba harap jika memang Miftah menjadi takdir yang terbaik untuk hamba, maka permudahkan proses pertemuan kami nantinya ya Rab."


     "Hamba sangat senang saat mengetahui jika kami sebenarnya sudah memiliki buah cinta kami, dan hamba jadi tau jika buah hati kami sudah cukup besar saat ini."


     "Sekali lagi hamba mohon Rab, agar pertemuan hamba dengan Miftah berjalan dengan lancar dan memilih berpisah dengan Jannah juga sebuah keputusan yang telah engkau tetapkan sejak lama ya Rab."


     Ia lalu mengusap kedua tangannya ke wajahnya tanda jika ia sudah selesai berdoa.


     Ia tak langsung bangkit untuk kembali berbaring, ia memilih duduk termenung terlebih dahulu dan kata - kata Jannah tadi malam kembali terngiang - ngiang di kepalanya.


     "Mas, kamu harus percaya padaku kalau Miftah memang benar - benar ingin kembali denganmu. Kami sudah pernah Vc tadi sore," jujurnya.

__ADS_1


     "Apa? bagaimana kamu bisa tau nomornya?" heran Firdaus.


     "Aku memintanya pada orang tua Miftah mas," jawabnya yang membuat Firdaus semakin bingung.


      "Baik, aku akan menceritakan semuanya biar kamu gak bingung lagi mas." ucapnya lalu mulai memberitahu Firdaus tentang kejadian kemarin.


     Firdaus sangat terkejut sekaligus kagum dengan keberanian Jannah sampai ia rela berjuang hingga bisa masuk ke dalam dan menahan sedikit tuduhan saat mengungkapkan semuanya.


     "Tapi tetap saja Miftah masih membutuhkan waktu sayang," murungnya.


     "Iya mas, tapi aku yakin banget kalau Miftah itu ujung - ujungnya pasti terima kamu. Dan apakah kamu tau mas? kalau kamu sudah menjadi ayah sebelum menikah denganku." beritahu Jannah hingga membuat Firdaus berbinar.


     Matanya sampai berkaca - kaca mendengar kabar yang bergitu membuatnya bahagia sekaligus merasa sakit karna tak dapat mendampingi istrinya pasca melahirkan anak pertama mereka.


     "Benarkah? laki - laki apa perempuan?" tanyanya sambil mengucek matanya yang sedikit berair tapi mulai memerah.


      "Laki - laki mas, selamat ya." jawabnya yang sontak saja membuat Firdaus memeluknya erat.


     "Makasih sayang, kamu sudah menjadi wanita kuat yang tak wanita lain sanggup jika mengikhlaskan ini semua. Apa lagi kita sudah berumah tangga selama lima tahun, dan aku sangat berterima kasih karna kamu udah mau kasih tau aku kabar yang paling membahagiakan meskipun itu bukan dari rahimmu." bisik Firdaus tepat di telinganya hingga Jannah lagi - lagi merasakan dengupan jantung yang seakan membunuhnya.


     "Sama - sama mas, apa pun yang membuatmu bahagia aku juga dengan senang hati berusaha mewujudkannya meskipun berpisah denganmu sekali pun." ucapnya sambil menepuk punggung Firdaus.


     "Iya aku harap ketika kita bercerai, nanti kamu bisa menikah dengan Kaka yang kamu bilang menyukaimu dulu," harapnya.


     Tiba - tiba saja pelukan mereka jadi terlepas karna suara dering ponsel yang berada di samping bantal tidur Jannah, dan saat melihat nama siapa yang terpampang di sana Jannah paham kalau ini saatnya Miftah menentukan pilihannya.


     "Mas, Miftah telpon aku. Aku harap kamu diem dulu ya, nanti kalau emang dia mau kembali sama kamu aku pasti akan mengizinkan kamu untuk bicara dengannya bahkan Vc kok mas." girangnya.


     "Baik Jannah," angguknya tak sabar.


     "Assalamualaikum Miftah," ucap Jannah mengawali lebih dulu.


     "Wa'alaikum salam Jannah, maaf jika aku telah mengganggu waktu istirahat mu ya." responnya.


     "Oh, sama sekali enggak kok. Lagian aku memang lagi bersantai di kamarku," ucapnya.


     "Syukurlah kalau begitu, tapi kak Firdaus ada di situ gak?" tanyanya memastikan.


     "Mas Firdaus ya? dia-" ucapan Jannah terhenti karna Firdaus menggeleng dan mengisyaratkan supaya Jannah tak memberitahu jika sekarang ia sedang bersamanya.


     Tangan Firdaus juga terus menyilang dan melambai bergantian, wajahnya memelas memohon pada Jannah.

__ADS_1


     "Halo Jannah," ucap Miftah kembali menyapanya.


     "Eh! iya Miftah gak ada kok, aku sedang sendirian di kamarku. Mas Firdaus hari ini sedang ada lembut kerja," jelasnya.


     "Alhamdulillah," ucap Miftah sambil menghembuskan napas pelan.


     Hingga akhirnya Jannah mendengar jika Miftah benar - benar serius ingin bertemu dengan Firdaus lalu ia meminta Miftah agar berkenan Vc dengannya.


     Saat telepon sudah beralih ke Vc dengan gesit Jannah malah memberikan ponselnya pada Firdaus dan itu sukses membuat Miftah bergitu terkejut ketika melihat wajah seorang pria yang sejak dulu juga sudah ia rindukan.


     Awalnya Firdaus hanya menyapa dan Miftah juga menjawab gugup, ia sedikit kesal dengan Jannah karna sudah menipunya tadi.


     Tak perlu menunggu waktu lama mereka sudah tampak asyik berbicara, seakan - akan mereka tak pernah memiliki masalah bahkan masih merasa satu rumah.


     Jannah tersenyum pahit saat melihat keromantisan kata - kata mereka, lalu memilih keluar saja dari kamarnya sampai Firdaus tak menyadari kepergiannya.


      Firdaus juga sangat senang karna di izinkan melihat wajah putranya yang sedang tertidur lelap dalam pangkuan Miftah.


     Sungguh jika ia benar - benar berada di dekat Miftah ia pasti akan merasa sangat bahagia dan ikut mengelus rambut putranya yang wajahnya begitu tampan bahkan sangat mirip dengannya.


     "Wajahnya sangat mirip denganmu mas, dan itu cukup membuat rinduku terobati saat kamu sudah tak ada lagi di sisiku mas." ucapnya.


     "Iya kamu benar sayang, aku sampai ingin mencubit pipinya gemas dan membawanya terbang ke udara dengan tangan kekarku ini." tawanya.


     "Iya semoga saja mas, kan besok kamu mau main ke sini." ucap Miftah yang sejak tadi memang sudah di putusan oleh Firdaus jika besok ia akan langsung ke sana.


     "Pasti kok sayang, doakan aku biar selamat dan mampu memelukmu lagi dan anak kita." doanya.


     "Amiiin ya rabbal a'lamin," responnya hingga setelah itu ponsel itu pun ditutup.


     Firdaus sempat melihat ke kiri kanan mencari sosok yang tadi sedang bersamanya kini telah hilang entah kemana.


     Bibirnya jadi kembali mengembangkan senyuman tat kala mengingat - ingat kenangan paling berharga yang mereka rajut bersama tadi malam walau pun tidak terlalu lama tapi cukup membuat Firdaus merasa puas.


     Setelah itu ia bangkit untuk menyimpan sejadahnya dan kembali tidur untuk menyambut azan subuh dan ia benar - benar tak sabar untuk cepat sampai ke pulau tempat istrinya tinggal bersama putranya sekarang.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2