Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 149


__ADS_3

     Kini mereka sudah sampai di lantai atas, Karondra memasukkan nya kedalam kamarnya.


     "Lho Karondra! kenapa kau mengajakku ke kamarmu? apa kau tidak takut kalau nanti terciduk oleh istrimu?" tanya Karlina cemas.


     Karondra hanya terkekeh saat mendengar apa yang Karlina katakan.


     "Karlina... Karlina! untuk apa sih aku harus takut terciduk?" tanyanya tampak acuh, lalu mendudukkannya di pinggir ranjang.


     "Ya kamu harus berhati - hatilah! aku tidak mau kalau sampai istrimu salah paham lagi sama aku, karna aku kan hanya berniat untuk bicara denganmu dan tidak pernah menginginkan ada perdebatan antara kamu dan dia nantinya di depan mataku." jawabnya serius sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.


     "Hahaha! dasar bodoh! kamu masih saja seperti dulu yah, terlalu percaya diri dengan apa yang kamu pikirkan meskipun kadang itu salah." responnya.


     "Apa maksudmu?" tanyanya tak mengerti.


     "Hmmm... Baiklah aku akan menjelaskannya, tapi setelah aku membantu mengompres kakimu yang sudah sedikit bengkak ini." jawabnya bergegas mengambil panci dan memasak air panas usai menuangkan air kedalamnya.


     Karlina merasa tersentuh saat menerima perlakuan lembut dari Karondra.


     Sejak dulu, belum pernah ada yang terlalu memanjakannya seperti ini selain Karondra saat mereka masih sekolah bersama.


     Karondra lebih tua tiga tahun darinya, dan jika pada saat itu ia masih duduk di bangku SMP maka Karondra telah duduk di bangku SMA.


     Kini Karondra sudah kembali mendekatinya usai menuangkan air panas ke dalam baskom dan menaruh sedikit air dingin agar terasa hangat.


     Ia juga mengambil sebuah anduk kecil yang terletak di dalam lemarinya.


     "Kalau sakit bilang ya?" ucapnya ketika sudah duduk bersilang di bawah Karlina.


     Karlina hanya mengangguk karna bingung untuk berkata apa.


     Setelah menyelupkan anduk kecil yang mulai basah baru ia memerasnya kemudian dengan hati - hati meletakkannya di kaki Kalina yang bengkak.


     "Au!" rintih Karlina sedikit menyipitkan matanya.


     "Oh! sakit ya? maaf - maaf! aku akan lebih hati - hati lagi sekarang," ucapnya lalu kembali fokus pada kaki Karlina.


     "Oh iya Karodra! katanya tadi kamu mau menjelaskan padaku tentang pertanyaan yang aku berikan untukmu tadi," peringatnya.


     "Hmmm..." lagi - lagi ia hanya berdehem.


     "Kenapa?" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya.


      "Ya aku sedikit penasaran sih! saat melihatmu yang begitu menginginkan jawaban tentang istriku, jangan - jangan kau sudah menyukaiku ya? tapi masih belum mau mengaku." tebaknya yang sukses membungkam mulut Karlina.

__ADS_1


     "Heh! jangan asal bicara ya! mana mungkin," elaknya tak terima dan masih terlihat begitu gengsi.


     "Udah ngaku aja napa sih? siapa yang bakal marah coba, kalau kamu mau ngaku." ucapnya masih fokus mengompres kaki Karlina.


    "Emang sih gak bakal ada yang marah! cuma akunya yang bakal malu tau gak sih?" sewotnya.


     "Kok malah marah sih?" heran Karondra.


     "Aku jadi makin penasaran sama kamu Karlina! semenjak kamu pergi dengan pria itu, kenapa watakmu jadi sangat keras begini? ada hal apa memang hingga membuat mu berubah dari lembut menjadi bengis?" tanyanya dan Karlina hanya diam sambil menunduk.


     "Aku tidak tau Karondra," jawabnya.


     "Tidak mungkin," responnya sedikit memaksa.


     "Baiklah! aku berubah jadi agresif karna aku ingin mendapatkan perhatian dari suamiku, dan sampai sekarang belum ada satu pun rencanaku yang dapat menarik perhatiannya." jelasnya.


     "Oh... Aku paham sekarang," responnya sambil mengangguk.


     "Tapi selamat ya! kau mungkin ingin bertemu denganku untuk menyampaikan kabar gembira bahwa kau telah di terima oleh suamimu," ucapnya sambil tersenyum tipis.


     "Apa maksudmu?" tanyanya bingung.


     "Ya! karna kamu sudah mendapatkan ciuman pertamamu dan itu pasti suatu hal yang sangat membahagiakan bagimu," jawabnya.


     "Kau tanya bagaimana aku tau? itu terlihat jelas dari bibirmu yang memang tampak sedikit membengkak, aku juga gak tau kenapa sih aku bisa mengatakan hal itu! namun, itu hanya tebakan kok! kamu tidak perlu menganggapnya serius." jawabnya yang sudah selesai mengompres kaki Karlina.


     "Nah! gimana kakimu sekarang? apa sudah terasa membaik?" tanyanya bangkit sambil memegang baskom.


     "Alhamdulillah sudah lumayan sih," jawabnya sambil menggerakkannya.


     "Seandainya tebakanmu benar, apakah kau akan marah padaku?" tanyanya ragu - ragu.


     "Marah? hehe! kau ada - ada saja Karlina, dia kan suamimu! jadi untuk apa aku harus marah jika ia melakukan hal itu padamu di bandingkan diriku yang bukan siapa - siapa." jawabnya yang kini sudah menaruh baskom di samping wastafel.


     "Kau salah Karondra! sampai kapan pun kau tetap akan menjadi Kaka terbaikku, yang sejak dulu selalu menjagaku dari kejahilan teman - temanku. Bagaimana mungkin aku melupakan itu semua begitu mudah? kau sungguh berarti Karondra," ucapnya serius.


     Karondra sangat terkejut saat mendengarnya, ternyata Karlina masih mengingat semua kenangan antara mereka berdua dulu saat masih menimba ilmu.


     "Terima kasih! masih mau mengingat kenangan itu," ucapnya yang sangat jelas sedang menutupi raut kesedihan dari wajahnya.


     "Aku tau aku mengingat kenangan itu, tapi itu hanya sebuah kenangan! dan kau juga tidak akan mungkin tau bahwa sejak dulu kenangan itulah yang membuatku semakin jatuh hati kepadamu setelah tau sifat baikmu," batinnya murung.


     "Karondra! apakah kata - kataku ada yang salah? kenapa Kaka tampak begitu bersedih?" tanyanya cemas dan ia dengan cepat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


     "Tidak ada apa - apa Karlina, aku hanya merasa bahwa kenangan kita hanya akan menjadi memori yang cukup di simpan tanpa perlu di ingat setiap saat." jawabnya.


     "Dan aku tau! kau tidak akan pernah mau membaca suratku sebab kau telah memiliki pria yang sudah pas menjadi imammu dan kau pasti sudah dianugrahkan buah hati yang kini sedang bersamanya, kalian memang sangat cocok meskipun awalnya sempat sulit untuk saling menerima antara satu dengan yang lainnya." responnya.


     "Kau bicara apa sih sejak tadi Karondra? berarti sekarang yang suka sangat yakin dengan pendapatnya sendiri bukan hanya aku saja, tapi kamu juga! kamu tau gak? kalau yang kamu pikirkan itu salah tau." ucapnya meluruskan.


     "Lalu hal apakah yang benar itu?" tanyanya yang masih tampak murung.


     "Buktinya kau tidak pernah membaca bahkan membalas kiriman surat yang ku titipkan pada sahabatmu, dan saat itu aku selalu berpikir positif bahwa kau mungkin masih sibuk tapi sampai sekarang ketika aku berniat berhenti mengirimnya untuk mencoba melupakanmu kamu malah datang untuk bertemu denganku." sambungnya yang tanpa sadar sudah mengucapakan isi hatinya.


     "Aku minta maaf Karondra! aku benar - benar tidak tau bahwa kamu adalah orang asli yang mengirimkan surat tersebut, karna temanku tidak pernah mengatakan ini darimu." jelasnya.


     "Ia hanya berkata bahwa aku harus membacanya dan itu membuatku sedikit malas, jadi aku berpikir kalau surat itu hanya keisengannya semata. Padahal jika ingin menyampaikan sesuatu sekarang kan sudah ada Wa dan dia juga punya nomorku," sambungnya yang bergitu merasa bersalah.


     "Karlina! kamu jangan murung, aku benar - benar minta maaf jika kata - kataku ada yang menyakitimu." responnya yang kini sudah duduk di sampingnya.


     Tiba - tiba Karlina manatapnya tajam dengan matanya yang merah dan sedikit membengkak akibat menangis.


     "Kamu! ih! kenapa kamu dulu sangat pengecut? harusnya jika sejak dulu kamu sudah menyukaiku kenapa tidak bilang? jadi aku tidak perlu susah - susah mencari pria lain agar mau menikah denganku, supaya tanteku tidak terlalu memaksakanku menikah dengan pria pilihannya." resahnya tak berhenti memukuli dada bidang Karondra.


     "Kamu pasti berpikir bahwa pria yang kini sudah menikahiku adalah pilihan tenteku, padahal tidak sama sekali! itu adalah pria yang aku cintai setelah aku mencoba melupakanmu." sambungnya.


     "Maksudmu melupakanku?" tanyanya bingung.


     "Jujur! aku dulu juga sangat menyukai mu kak, mungkin juga sudah bisa di bilang cinta. Tapi aku merasa tidak enak karena terus merepotkanmu, dan memilih memendamnya saja." sambungnya.


     Karondra jadi percaya tak percaya saat mendengarnya.


     "Kamu juga salah Karlina! harusnya kamu juga mengatakan hal itu pada Kaka dan Kaka pasti akan menerimamu bukan atas dasar rasa kasihan! tapi Kaka benar - benar tulis cinta dan sayang sama kamu," resahnya lalu tanpa meminta persetujuan sudah memeluknya erat.


     "Ya! mungkin kita sama - sama bodoh kak," ucap Karlina.


     "Kamu benar! aku benar - benar bodoh akibat bertahan dalam rasa sakit, yang tak mau untuk di ambil resiko dengan cara mengungkapkan." responnya.


     Kini pelukan mereka tanpa semakin erat, mereka sama - sama merasakan rasa bahagia yang tak terhitung jumlahnya karena dapat di pertemukan kembali dengan orang yang saling mencintai diri mereka satu sama lain tanpa ada syarat apa pun.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2