
Miftah kini sudah berada di pelabuhan, menunggu kapal yang membawa suaminya datang. Sedangkan Fajar sejak tadi tidak bisa diam, berulang kali ia berjalan ke sana kemari karna tak sabar melihat sosok ayahnya yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Ummi, kapal Abi yang mana ya mi? kok dari tadi Fajar liatin, Ummi belum juga berjalan ke sana." tanyanya sambil menarik gamis bagian bawah Jannah.
"Sabar ya sayang... Semoga saja nanti ada kapal yang membawa Abi ya..." jawabnya menenangkan.
"Hmm... Tapi Fajar gak sabar mau ketemu Abi ummi... Fajar pengen tau Abi Fajar seperti apa," rengeknya.
Ada rasa bersalah dalam hati Miftah karna telah memisahkan anaknya dengan ayahnya, harusnya meskipun hubungan mereka tak ingin ia jalani lagi tapi tetap saja jika sudah tertanam janin di rahimnya Firdaus berhak untuk melihatnya.
Ia jadi teringat ucapan Firdaus saat dulu, untuk tidak menyimpulkan semua perbuatannya dari penglihatan saja namun dari perasaannya.
"Bagaimana ini? kenapa sekarang aku merasa sangat menyesal? apa sebenarnya Firdaus tak sepenuhnya salah?" batinnya bertanya - tanya.
"Apa di benar - benar tidak berniat untuk menghindari ku sama sekali? jadi semua yang Jannah katakan itu memang benar adanya?" lagi - lagi Miftah bertanya pada dirinya sendiri.
Mata Miftah mulai berair, air matanya juga sudah terjun ke pipinya dengan deras. Fajar yang tak sengaja melihat hal itu jadi terkejut di buatnya.
"Eh! Ummi, Ummi kenapa nangis mi? apa kata - kata Fajar sudah menyakiti Ummi? Fajar minta maaf Ummi, Fajar mohon sama Ummi jangan nangis ya... Fajar janji, kalau Fajar gak akan tanya tentang Abi lagi. Ummi..." ucapnya lalu merendahkan suara di akhir ucapannya.
Miftah kini menatap putra kecilnya yang sudah tampak begitu dewasa, sejak dulu Fajar tidak pernah menyusahkannya. Ia selalu berusaha mendiri, ketika Miftah berniat untuk memandikannya Fajar selalu menolak.
"Nak, sini biar Ummu mandiin, nanti di belakangnya gak bersih lho..." ucap Miftah saat itu.
"Gak papa Ummi, Fajar bisa kok. Nih Ummi lihat, Fajar bisa pakein sabun di punggung Fajar dengan busa sabun panjang ini." unjuknya.
"Oh iya Ummi, jangan di buka ya mi pintunya, Fajar malu." pintanya yang masih di dalam kamar mandi sedangkan Miftah di luar.
Meskipun ujung - ujungnya Miftah yang akan memakaikan bajunya, tapi Fajar tidak pernah langsung membuka anduknya sebelum memakai pakaian dalamnya.
Miftah mulai menghapus aliran kristal yang mengalir di pipinya. Tangannya kini meraih puncak kepala putranya sambil tersenyum kearahnya.
"Sayang... Ummi nangis bukan karna salah Fajar kok, Ummi hanya terharu aja karna gak lama lagi kita kan akan ketemu Abi." responnya berbohong.
"Enggak, Fajar gak percaya sama Ummi. Fajar yakin kalau Ummi nangis karna Fajar, Ummi maafin Fajar dulu ya." pintanya yang ikut berkaca - kaca.
Miftah yang melihat hal itu langsung mensejajarkan dirinya dengan Fajar.
"Lho... Kok anak Ummi nangis? jangan dong... Kan Ummi udah bilang kalau Ummi nangis bukan karna anak Ummi," ucapnya sambil mengelus puncak kepala putranya penuh rasa sayang.
"Iya tapi Ummi maafin Fajar dulu ya," pintanya lagi sambil menempelkan satu telapak tangan Miftah pada sebelah pipinya.
__ADS_1
"Iya sayang, Ummi pasti maafin putra Ummi yang baik ini ya..." responnya sambil mengecup dahinya.
"Makasih banyak Ummi," ucapnya sambil mengucek matanya yang sudah memerah menahan tangis.
"Sama - sama sayangnya Ummi," responnya yang hendak bangkit tapi ia jeda.
"Oh iya, Ummi mau ngomong sesuatu sama Fajar. Setelah Fajar dengar gak papa kok kalau nanti Fajar marah sama Ummi, karna ini memang salah Ummi." ucapnya serius.
"Apa itu mi?" tanyanya penasaran.
"Ummi juga mau minta maaf sama Fajar, karna Ummi udah pisahin Fajar dari Abi. Ummi dulu marah sama Abi, makanya Ummi gak mau ketemu sama Abi lagi." beritahunya pelan - pelan.
Dan raut wajah Fajar benar - benar tak bisa Miftah duga sebelumnya.
"Gak papa Ummi, Fajar paham pasti Ummi sama Abi lagi punya masalah. Yang penting sekarang Ummi sama Abi udah mau ketemu lagi kan? itu udah cukup bagi Fajar Ummi," responnya.
Miftah sangat terkejut saat mendengar kata - kata Fajar barusan, ia tak menyangka anak sekecil Fajar bisa dengan mudah berkata hal yang seperti itu.
"Jadi Fajar beneran gak mau marah sama Ummi?" tanyanya lagi memastikan.
Fajar hanya menggeleng.
"Fajar gak akan pernah marah sama Ummi selagi Ummi punya alasannya, Fajar sayang sama Ummi. Bukannya Ummi pernah bilang sama Fajar, kalau Surga itu adanya di bawah telapak kaki ibu. Ummi kan ibu Fajar, kalau Fajar mau dapatin Surganya Fajar berarti Fajar harus bahagiakan Ummi dulu dong mi." ucapnya panjang lebar hingga Miftah jadi kehabisan kata - kata lalu memeluknya erat.
"Sama - sama Ummi, Fajar juga mengucapkan makasih kepada Allah SWT. Karna Allah lah yang telah memberikan Fajar seorang ibu secantik bidadari seperti Ummi," ucapnya yang lagi - lagi membuat Miftah terheran.
"Ya ampun anak Ummi ternyata pinter ngebombal juga rupanya, ini pasti turunin Abi." responnya terkekeh pelan sambil menoel hidungnya.
"Hehe, Fajar jadi malu." ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tiba - tiba saja pandangan mereka jadi teralihkan oleh suara bising yang terdengar dari arah jembatan, seorang pria yang baru saja memakai jas pelampung mulai terjun ke bawah jembatan.
Beberapa anggota polisi lain jadi ikut berdatangan, suasana menjadi riuh dalam seketika.
"Cepat, cepat selamatkan pria itu." begitulah ucapan yang Miftah dengar sejak tadi.
"Ummi, ada apa ya itu pak polisi ribut - ribut?" tanya Fajar sambil menunjuk ke arah jembatan.
"Ummi juga gak tau sayang, kalau begitu Fajar tunggu di sini dulu ya... Biar Ummi yang ke sana aja," pintanya yang di angguki oleh putranya.
Dengan tergesa - gesa Miftah mulai melangkahkan kakinya kesana, entah kenapa perasaannya mulai tidak enak dan saat ia hampir sampai ia malah di hadang oleh salah seorang polisi.
"Maaf mbak, mbak tidak bisa masuk ke sini dulu. Karna tadi baru saja ada seorang pria yang tampaknya berhasil selamat dari ledakan kapal, memang kedengarannya mustahil tapi inilah kebesaran Allah mbak. Entah sejauh apa pria ini berenang hingga bisa sampai di sini," beritahunya.
__ADS_1
"Maaf pak, kalau boleh tau siapa nama pria itu pak?" tanya Miftah yang sangat terkejut dan menduga - duga jika itu memanglah Firdaus.
"Kalau tidak salah kata rekan saya yang tadi menjatuhkan diri ke bawah jembatan berkata jika nama pria itu adalah Firdaus Alfajar, ia adalah anak dari salah satu teman rekan saya tersebut." beritahunya.
Miftah kini mulai menutup mulutnya erat, air matanya tak kuasa mengalir dari pipi indahnya. Dadanya juga ikut merasa sesak.
"Pak, itu suami saya pak. Bisakah saya bertemu dengannya pak? pantas saja saya dan putra saja menunggu kedatangannya sejak tadi tidak terlihat juga," pintanya memohon.
"Maaf mbak, bisakah mbak menunjukkan bukti jika mbak benar - benar istri dari pria tersebut?" tanya polisi tersebut.
"Kira - kira bukti apa ya pak? saya hanya kenal dengan papa dan mamanya. Nama papanya adalah pak Alterio sedangkan mamanya Dahra pak," jawabnya hingga membuat polisi tersebut terkejut.
"Sepertinya mbak memang benar istri dari pria itu, kami juga sangat mengenali pak Alterio. Kalau begitu mari ikut saja dengan saya menaiki mobil polisi untuk menuju ke rumah sakit suami mbak," tawarnya hingga membuat Miftah sangat terharu ketika mendengarnya.
"Yang benar pak? apakah anak saya boleh ikut pak?" tanyanya sambil tersenyum lebar meskipun air mata masih enggan berhenti mengalir dari pipinya.
"Tentu saja mbak, mari." ajaknya lagi sambil mengulurkan tangan ke arah sebuah mobil putih polisi itu.
"Baik pak, sekali lagi makasih banyak ya pak." ucapnya.
"Sama - sama mbak," jawabnya yang kini sudah menuju ke arah mobilnya sedangkan Miftah dengan tergesa - gesa berjalan ke arah putranya lalu menggendongnya supaya cepat.
Fajar sebenarnya tidak ingin di gendong oleh Umminya, namun saat melihat wajah cemas Umminya ia jadi memilih diam saja untuk sekarang.
Fajar sebenarnya sempat bertanya - tanya. Kenapa Umminya malah membawanya masuk ke dalam mobil polisi? apa mungkin ini ada hubungannya dengan Abi?
Fajar dengan cepat menggeleng dan mulai melihat Umminya yang tak berhenti menangis sambil memeluk tubuh mungilnya yang kini sudah duduk di atas pangkuannya.
Miftah duduk di kursi belakang karna ada dua orang polisi yang duduk di kursi depan.
Tak berapa lama kemudian mobil itu pun melaju membelah pasir pantai dan menuju ke jalan raya untuk ke rumah sakit.
Miftah terus saja berdoa di dalam mobil dengan berbagai pikiran buruk, ia sangat berharap semoga saja Firdaus bisa selamat.
"Ya Allah, tolong selamatkan suamiku. Aku sangat menyesal telah meninggalkannya dan langsung mengambil keputusan sepihak tanpa berpikir matang - matang terlebih dahulu, padahal suamiku sudah beberapa kali memberitahukannya kepadaku tapi aku masih belum mau mengerti juga." batinnya tersiksa sekaligus bercampur kesedihan yang di warnai penyesalan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1