Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 172


__ADS_3

     Usai azan Ashar berkumandang Zaldira sudah sampai juga di rumah, meskipun ia tidak melakukan apa pun tapi cahaya matahari tadi siang yang begitu terik sedikit menguras tenaganya meski menaiki kendaraan.


     Sesampai di rumah ia mulai masuk ke kamarnya yang sudah tampak kosong, hanya ada sebuah kasur yang di balut dengan sprai bermotif corak.


     Beberapa barang yang awalnya terlihat penuh kini tampak kosong karna sudah ia masukkan ke dalam koper semalam.


     Dalam hati ia masih saja merasakan perasaan yang tidak rela untuk pergi meninggalkan rumah yang penuh kasih sayang juga kehangatan.


     Selama ini ia tidak pernah pergi jauh - jauh selain dari jarak beberapa meter dari rumahnya, tapi sekarang entah keberanian apa yang membuatnya yakin untuk terbang keluar negri bersama paman dan istrinya.


     Zaldira memang sangat pandai berbicara bahasa Inggris, itu sebabnya ia dapat di terima dengan mudah di salah satu fakultas yang ada di sana.


     Impiannya sudah sangat besar sejak dulu untuk sampai ke jenjang perkuliahan.


     Yang paling penting baginya ialah dapat mengangkat derajat orang tuanya akibat kesuksesannya.


     Ia tak ingin hanya karna pekerjaan orang tuanya yang tak terlalu tinggi menjadikan alasan bagi orang lain untuk menjatuhkan nya sewaktu - waktu.


     Itu sebabnya ia berniat menjadikan dirinya contoh untuk bisa maju meskipun mata pencarian orang tuanya tidak seberapa.


     Apa lagi Zaldira adalah ada tunggal dari ibu dan ayahnya. Jika ia gagal, ia bingung ingin menaruh di mana wajahnya di hadapan orang tuanya.


     Memang orang tuanya tidak akan pernah memaksanya untuk bisa mendapatkan sesuatu yang tak ia sanggupi. Tapi meskipun begitu begitu, Zaldira punya keinginannya sendiri yang tak dapat untuk ia hindari.


     Tanpa sadar air matanya mulai jatuh menuruni pipi indahnya. Dengan cepat Zaldira langsung menghapus aliran tersebut supaya tak lagi mengalir deras nantinya jika terus di biarkan.


     "Klek," suara gagang pintu yang terbuka dari luar sontak membuat Zaldira hampir melompat saking terkejutnya.


     Bagaimana tidak? Zaldira masih saja mematung di depan pintu kamarnya sejak ia masuk ke dalam dan hanya terdiam setelah melamun sesaat.


     "Zaldira," ucap suara yang tak asing di dengar olehnya.


     "Eh ibu, iya ada apa Bu?" tanyanya sambil memasang senyumannya, berharap matanya tak terlihat sembab di depan ibunya.


     "Tidak ada apa - apa nak, ibu cuma mau tanya apakah kamu sudah sholat? soalnya mobil Zamrud 20 menit lagi akan sampai," beritahu ibunya.


     "Apa? oke bu, kalau gitu Zaldira mau Sholat terus mandi dulu ya Bu." responnya dan ibu mengangguk lalu keluar tanpa di pinta karna sudah paham.

__ADS_1


    


     Tanpa membuang - buang waktu Zaldira langsung bergegas untuk mengambil wudhu dan menunaikan sholat ashar baru mandi setelahnya.


     Entah sudah berapa menit waktu yang ia habiskan sejak tadi untuk menyelesaikan semuanya dan kini ia sudah tampak cantik dengan baju potong biru mudah dan celana jeans hitam yang menjadi kesukaan.



     Jilbab hitam beserta topi hitam malah membuatnya lebih terlihat kece.


     Ia membuka gagang pintu dengan satu tangannya sedangkan yang satunya ia gunakan untuk menyeret koper yang isinya lumayan berat.


     "Ibu... Ay-" ucapannya jadi terpotong saat ibunya juga balas memanggil namanya.


     "Iya ibu," jawabnya cepat.


     "Zaldira udah siapa juga kok ini Bu..." sambungnya yang mempercepat gerakan langkahnya.


     Kini Zaldira sudah sampai di pintu depan rumah, sebelum keluar ia sudah lebih dulu melihat sebuah mobil merah menyala sedang di parkir di depan rumahnya.


     Seorang pria yang duduk di kursi mengemudi mulai keluar dari mobil yang ia kendarai itu.


     "Wa'alaikum salam Kaka... Iya dong udah siap! ngapain coba lama - lamain diri sendiri. kan sayang waktunya Kaka," responnya.


     "Iya manis amino," ledeknya sambil mencubit pipi Zaldira pelan saat langkah kakinya sudah berhenti tepat di hadapannya.


     "Baik deh... Aku gak mau bertengkar soalnya Kaka, jadi tolong jangan keluarkan kata - kata yang membuatku marah nantinya ya..." peringat Zaldira sambil menggerakkan satu jari tunjuknya ke sana kemari.


     "Iya Za... Tenang aja kamu ma... Hari ini aku akan menjadi abang yang baik buat kamu ya... Jadi tak perlu cemas jika sampai aku memancingmu dengan kata² itu masih tidak memungkinkan untuk saat ini." responnya serius.


      "Alhamdulillah kalau begitu Kaka," ucap Zaldira sambil tersenyum dan Zamrud membalas senyumannya.


     Ibu yang sejak tadi memanggil Zaldira akibat sempat menghilang karna panggilan dari ayah yang mengarah di dapur.


     Usai dengan kesibukan di dapur sebentar barulah ibu dan ayah ikut masuk ke dalam mobil Zamrud untuk menuju ke bandara.


     Ibu dan Zaldira duduk di kursi belakang sedangkan Zamrud dan ayahnya sudah duduk di kursi depan.

__ADS_1


     Koper Zaldira hampir saja tertinggal barusan. Namun Zamrud dengan sigap menghentikan mobilnya dahulu baru mengambil koper gadisnya dan menaruhnya di bagasi belakang mobil.


     Untung pintu rumah sudah lebih dulu ibunya kunci hingga sekarang ibunya hanya tinggal santai menunggu di dalam mobil.


     Setelah di rasa tak ada lagi yang tertinggal, barulah mobil Firdaus melaju ke arah tujuan.


     Di sepanjang perjalanan Zamrud tampak sibuk bertukar cerita dengan ayah Zaldira. Meraka tampak semakin akrab saja akhir - akhir ini, buktinya setiap bertemu mereka masih saja ada banyak bahan yang perlu di jadikan topik pembahasan.


     Ibu jadi ikut senang saat melihat kedekatan mereka berdua saat ini begitu pun Zaldira.


     Tak terasa entah sudah berapa menit Meraka melakukan perjalanan hingga akhirnya mobil Zamrud berhenti di depan sebuah plang besar.


     Kebetulan hari ini tempat parkiran terlihat sedikit kosong hingga Zamrud harus cepat - cepat mengisinya sebelum di ambil alih orang lain.


     Meraka sampai di bandara sedikit lebih awal, kira - kira satu jam lagi baru keberangkatan pesawat yang di naiki Zaldira nantinya terdengar.



     "Ibu Zaldira turun duluan ya," izinnya pada ibu dan ayahnya.


     "Iya nak... Jan lupa bawa kopermu ya," respon sang ibu mengingatkan.


     Zaldira hanya mengangguk lalu keluar dari dalam mobil bersamaan dengan Zamrud yang ikut keluar untuk mengambil koper Zaldira di bagasinya.


     Zaldira menerima kopernya sambil mengucapkan terima kasih pada Zamrud yang balas tatap penuh senyuman ke arahnya.


     "Sama - sama Zaldira," responnya lalu menutup kembali pintu belakang bagasinya.


     Ibu dan ayah Zaldira juga ikut keluar untuk mengantarkannya sampai ke dalam, mereka baru berniat pulang setelah pesawat yang Zaldira naiki benang - benar sudah lepas landas.


      Untung semalam Zaldira ingat untuk memberikan hadiah Spesial nya pada Zamrud dengan cara menyimpannya di koper paling depan.


      Sebuah benda yang sudah ia buat susah payah untuk Zamrud selama beberapa jam saja.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2