
Di sisi lain Firdaus yang baru saja memasuki kantornya tak sengaja mendengar sebuah gosip yang membuat indra pendengarannya sedikit terbakar.
Bagaimana tidak? ia melihat ada beberapa karyawan perempuan yang sedang membisikkan seorang gadis yang namanya tak asing dalam kehidupannya.
"Hey! kalian tau gak? aku itu kesel banget tau, udah beberapa kali aku teror istri pak Firdaus tetap aja dia masih bertahan dengannya."
"Emang gak tau malu ya dia, pas aku liat - liat sepertinya lebih sempurna aku dari pada dia yang cuma bermodal mulus kulit wajah doang."
"Aku meskipun agak terlihat bekas jerawat nih ya! tapi aku pintar dandan. Sedangkan dia kayaknya dandan aja gak bisa, sibuk dengan daster aja akibat terlalu menikmati kekayaan pak Firdaus aja kali ya?"
"Huh! emang manja ya istri pak Firdaus itu, yang kalau gak salah namanya Jannah deh! namanya doang bagus karna surga tapi hatinya kan belum tentu, siapa tau dia cuma manfaatin kekayaan pak Firdaus aja. Liat aja buktinya dia dirumah sibuk nyilang kaki doang."
Semua lontaran penuh penghinaan itu dengan lancarnya keluar dari mulut seseorang yang hampir tak ia percaya sebelumnya.
Karna biasanya ia terlihat begitu sopan bahkan manis saat berhadapan dengannya ketika berkerja, sama sekali tidak terbesit di benak Firdaus jika bibirnya bisa saja sepedas itu dalam menjelekkan orang lain yang mana itu istri Firdaus sendiri.
Memang ia masih berusaha mencintai Jannah kembali, tapi ia sungguh tidak rela jika sampai ada yang memperlakukan hal yang buruk pada siapa pun yang sudah menjadi anggota keluarganya.
Karyawan lain ada yang hendak ikut mengangkat suara mereka juga untuk merespon apa yang sekertaris Firdaus katakan.
Tapi mulut mereka jadi terkunci dan mimik mereka yang awalnya ikut merasa kesal bahkan hendak memaki Jannah jadi terhalang begitu saja.
"Hey! kalian kenapa pada diam aja sih? biasanya kalian itu selalu respon apa yang aku katakan tentang perempuan yang tidak tau malu itu, sampai ikut - ikutan memberikanku ide ya... Meskipun tak berguna ujungnya." protesnya sedikit kesal sambil memelintirkan rambutnya.
Karna tak ada yang mengangkat suara juga akhirnya ia kembali memarahi mereka.
"Is! kesel banget aku ngomong sama patung kayak kalian ya! di ajak ngomong malah pada bengong aja," dengusnya dengan tangan yang masih asyik pada rambutnya.
__ADS_1
"Ekhem! aku mau tanya dong, siapa sih wanita yang kau maksud tidak tau malu itu sekertarisku?" bisik Firdaus selembut mungkin tepat di telinga sekertarisnya yang tentu saja sudah tampak begitu pucat.
"Aduh! mati aku, bagaimana bisa bos Firdaus tiba - tiba aja ada di sini? bukannya biasanya jam segini dia sudah duduk anteng di dalam ruangannya? tapi," batinnya yang sudah panas dingin.
"Duh... Kamu rupanya sekertarisku yang penuh dengan tata Krama ternyata hanyalah seorang penggibah yang tiada harga," sambung Firdaus penuh penekanan.
"Kurang ajar! berani sekali dia berkata hal yang memalukan di hadapan karyawan lain, tentang aku lagi." batinnya merasa geram, kedua telapak tangannya saja sampai mengepal kuat.
"Hehe! permisi pak Firdaus... Tolong jangan di ambil hati ya pak atas apa yang bapak dengar barusan karna saya hanya bercanda kok, lagian saya mendengar kabar itu dari salah satu rekan kerja saya hingga saya jadi ikut benci dengan istri bapak yang ternyata hanyalah wanita penjilat." responnya yang memang seperti insan yang telah putus urat malu.
"Ya ampun... Aku sejak dulu benar - benar bodoh ya, sampai tertipu dengan penampilanmu ini." ucap Firdaus yang kini sudah menatapnya dalam dan jangan lupakan kata tajam.
"Oh... Tentu saja pak! mata bapak kan memang sudah tertipu dengan penampilan sederhana ku sebagai seorang sekertaris pemilik perusahaan yang begitu tampan ini, padahal aku memang mirip bidadari kan pak?" responnya PD.
Tanpa ia sadari tangan Firdaus sejak tadi sudah mengepal kuat di bawah sana, ingin sekali ia menunju wajah wanita centil yang dengan lancarnya menghina istrinya habis - habisan tanpa rasa malu bahkan takut dengan resiko kedepannya seperti apa.
"Sampai - sampai karna terlalu indah, wajahmu saja sampai banyak yang buru hingga retak dan sekarang aku yakin kalau kau sedang menggunakan topeng muka untuk menutupi kecacatanmu itu." sambungnya penuh penekanan.
"Tunggu! maksud bapak apa ya?" tanyanya bingung.
"Maksudnya kau sangat pintar bermain topeng wajah sekertarisku, seandainya sejak dulu kau lepaskan topengmu pasti sudah banyak orang yang akan memburumu. Sayangnya kamu cukup pintar juga ya, tapi nasibmu sungguh naas dalam urusan tahta hingga hanya bisa menyebar berita - berita buruk tentang istri bosmu sendiri."
"Kamu sadar tidak? jika perbuatan lidah dan topengmu yang sudah terbuka ini benar - benar akan mengantarkanmu ke depan pintu kesialan yang tak pernah kau duga sebelumnya,"
"Aku pastikan setelah ini tidak ada satu pun perusahaan yang mampu menerimamu lagi, karna mereka bukanlah orang - orang bodoh jika berita tentang seorang sekertaris yang tak tau di untung sudah menerima gaji melebihi batasnya karna di kira begitu memiliki tata krama,"
"Hanyalah ibarat senjata mainan yang ternyata senjata sesungguhnya, lebih mematikan bahkan dengan beraninya ingin merebut kedudukan istri bosnya yang sangat menghormatinya tapi malah di manfaatkan begitu saja."
__ADS_1
Ucapan Firdaus sejak tadi benar - benar membuat gadis itu membeku di tempat, ia tak pernah membayangkan jika bosnya segitu mengerikan ini dan sama sekali tak akan membelanya.
Tamat sudah riwayatnya sebentar lagi, martabat yang sempat ia dapatkan pasti akan melayang begitu saja hanya karna dirinya yang sama sekali tak bersyukur bahkan menjaga rezeki yang saat ini sedang ia dapatkan.
"Emmm... Pak, sa-saya mi-minta ma-maaf pak sama bapak. Lidah saya benar - benar khilaf," ucapnya yang benar - benar konyol.
"Hahahaha sekarang dengan mudahnya kamu minta maaf setelah cukup lama kamu membuat istri saja tertekan? enak saja, pantas saja istri saya selama ini tampak murung juga dan gak pernah mengadu pada saya. Jika sejak dulu ia mengatakan hal ini pada saya, pasti sejak dulu juga kau cepat tertangkap."
"Tapi sayang karma ternyata begitu cepat menghampirimu ya, kesabaran istriku malah membuatmu jadi semakin menjadi - jadi tanpa mau berhenti sebelum di ketahui olehku."
"Sekarang enyahlah kau dari hadapanku bahkan seluruh anggota perusahaan ini untuk selamanya."
ucapan Firdaus cukup menjadi petir yang menghanguskan dirinya dalam sekejap.
Ia bahkan di hempasan begitu saja di atas lantai oleh Firdaus yang mulai memanggil bodyguardnya untuk menyeret wanita tersebut tanpa belah kasian alias secara tidak hormat.
Ia kini menulikan pendengarannya dari suara wanita yang sejak tadi memohon belah kasihan terhadapnya.
"Untuk kalian, jika tidak ingin senasib sama dengan perempuan bertopeng tebal itu. Jangan sekali - sekali ikut dalam gibah tentang apa pun lagi, apa lagi yang menyangkut istriku. Kalian paham!!?" peringatnya yang di iringi gertakan di akhir ucapannya hingga membuat mereka mengangguk mengerti dengan tubuh yang sudah bergetar hebat.
"Ba-baiklah pak," jawab mereka terbata - bata.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇