Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 192


__ADS_3

     Pagi ini di meja makan mama merasa heran dengan sikap putranya yang terus saja senyam senyum sendiri, ia juga memakan makanannya dengan lahap dan tak seperti biasanya.


     "Firdaus sayang, mama lihat hari ini kamu sangat bahagia. Apakah itu tanda - tanda jika Jannah mempunyai kabar baik untukmu mengenai kehamilannya?" tanya mamanya hingga membuat Firdaus hampir tersedak.


     "Eh! enggak kok ma," jawabnya setelah meneguk segelas air putih.


     "Lalu jika tidak karna hal apa kamu bisa seceria ini?" tanyanya lagi penasaran.


     "Karna Firdaus mau ketemu Miftah dan cucu mama," jawabnya dengan senyum mengembang.


     "A-apa? ba-bagaimana bisa?" kaget sang mama sampai terbata - bata saat berbicara.


     Jannah yang paham langsung menjelaskan semuanya tanpa di pinta, di bantu oleh sang papa.


     Sang mama sampai tak menyangka hingga berlinangan air mata.


     "Tapi Jannah, apakah ini tidak berat bagimu sayang?" tanya sang mama yang baru kali ini memanggilnya dengan sebutan sayang dan hal itu membuat Jannah senang meskipun karna ada alasan.


     "Insya Allah tidak ma, Jannah yakin kalau Firdaus memang lebih pantas bersama Miftah. Lagian mereka sama - sama mencinta dan aku benar - benar tak ingin menjadi penghalang hubungan mereka yang terhambat." jelasnya.


     "Ya ampun Jannah... Mama benar - benar gak nyangka dan sangat berterima kasih ya sayang... Berkat keputusan kamu ini Firdaus jadi terlihat lebih baik lagi," girang sang mama yang mulai bangkit untuk menghampirinya dan memberikan pelukan hangat yang tak pernah ia rasakan lagi selain pada acara pernikahannya selesai.


     "Iya ma sama - sama," angguknya pelan.


     "Oh iya Firdaus, mama boleh ikut gak? mama kan kangen juga pengen ketemu mantu mama lagi sama liat cucu mama... Ngomong - ngomong cucu mama itu laki - laki apa perempuan?" tanyanya penasaran.


     "Alhamdulillah laki - laki ma," jawabnya cepat.


     "Wah... Awas aja ya kalau sifatnya malah ngikutin kamu yang suka keras kepala," ledek sang papa.


     "Esst... Papa ini ada - ada aja, ya enggak lah... Firdaus pun kan udah berubah ini pa gak kayak dulu lagi," elaknya sambil menatap malas sang papa.


     "Hehe, tu sikap kamu aja masih kayak anak kecil. Di gangguin dikit aja langsung ngambek dan pasang muka yang gak enak untuk papa lihat," ucap sang papa membenarkan apa yang ia katakan.


     "Iya deh iya terserah papa aja," responnya tak ingin ambil pusing.

__ADS_1


     "Firdaus sayang!" seru sang mama yang jawabannya belum tuntas.


     "Ada apa mama? kenapa harus teriak - teriak?" resahnya sambil memegang dahinya.


     "Ya lagian kamu pertanyaan mama belum selesai di jawab semua," dengus sang mama yang mulai cemberut.


     "Bagian mana itu ma?" tanya Firdaus bingung.


     "Kamu ini ya Firdaus, masih muda tapi udah pikun aja." geram sang mama.


     "Yaudah Firdaus minta maaf ya mama..." ucapnya sambil menatap mata sang mama dalam.


     "Oke deh! mama cuma mau tanya kalau mama boleh ikut kamu gak ke sana?" responnya mengulang kalimat.


     "Mama? mau ikut? ya jangan dulu dong mama..." jawabnya.


     "Lah! memangnya kenapa sayang?" heran sang mama tak terima.


     "Jika untuk sekarang biarlah Firdaus dulu yang ke sana ma, nanti juga Firdaus bawa Miftah kembali ke sini. Firdaus kan mau berdua - duaan dulu sama Miftah, kalau ada mama-" ucapannya jadi terpotong.


      "Udah lah ma... Masak itu aja mama gak paham sih ma... Kalau orang yang sudah lama tak bertemu pasti akan rindu berat, mereka kan gak mungkin bisa bebas jika ada mama sebagai Cctv di dalam rumah nanti." jelas sang papa ikut mengangkat suara.


     "Baiklah," responnya lalu berjalan kembali ke kursinya tanpa ingin mengatakan sepatah kata pun lagi.


     Jannah hanya menggeleng saat melihat sikap keluarga kecil ini yang sebenarnya benar - benar heboh jika sudah cocok dengan orang yang tepat.


     Namun sayang jika sosok yang mereka sayangi dan sangat nantikan itu bukanlah dirinya, tapi orang lain yang sudah ia ketahui namanya. Miftahul Jannah. Wanita dengan sejuta keunikan dalam dirinya.


     Setelah sarapan mereka mulai mengantarkan Firdaus ke pelabuhan untuk menaiki kapal laut.


     Saat berpisah mama tak berhenti mengingatkan Firdaus untuk memberi salam sayangnya pada Miftah mantunya.


     Firdaus mengangguk mengiyakan lalu memeluk tubuh mamanya erat.


     "Doain Firdaus ya ma, semoga Firdaus bisa sampai dengan selamat ke sana. Dan mampu membawa Miftah dan cucu mama kembali ke rumah kita sekarang," harapnya.

__ADS_1


     "Amiiin... Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu sayang, pergilah." responnya sambil memegang kedua pipi putranya.


     "Baik ma, makasih banyak ya. Dan maaf malah membuat mama tidak bisa ikut bersama dengan Firdaus," murungnya sambil memegang dua tangan sang mama yang masih menempel pada pipinya.


     "Iya gak papa ya sayang... Udah sana pelukan dulu sama papa," unjuk sang mama ke arah suaminya.


     Firdaus mengangguk lalu mulai memeluk papanya erat.


     Ia juga mengatakan hal yang sama seperti apa yang ia katakan pada mamanya dan papanya juga merespon dengan doa yang terbaik untuknya.


     Tak lupa Firdaus berjalan menghampiri Jannah yang sudah tampak berkaca - kaca, ternyata semenyakitkan ini jika membiarkan orang yang kita cintai pergi bertemu dengan wanita lain dan bukan karna hal pekerjaan.


     "Jannah, aku tidak tau harus bagaimana membalas semua kebaikan mu ini. Semangat dan arahanmu yang membuatku sadar berhasil merubah diriku sendiri dan tak terlalu bergantung pada orang lain.


     "Kamu juga termasuk istriku yang sangat sabar, juga tidak mempunyai sikap dendam sedikit pun hingga aku mulai kembali jatuh cinta padamu meski belum sebesar cintaku pada Miftah." ungkapnya hingga bibir Jannah jadi memancarkan senyuman.


     "Iya mas, kalau begitu hati - hati di jalan ya, setelah kamu kembali nanti kita akan langsung mengurus penceraian kita ya mas." angguknya sambil tersenyum tipis.


     "Pasti Jannah, sekali lagi terima kasih. Semoga nanti Allah akan memberikan jodoh yang lebih baik untukmu, di bandingkan pria yang tak memiliki hati sepertiku." ucapnya lalu mengecup dahinya sebentar.


     "Sudahlah mas... Kamu tidak perlu terlalu merendahkan dirimu lagi... Lagian itu kan bukan sepenuhnya salahmu, aku paham. Terkadang kita tidak tau sampai kapan hati kita bisa bertahan dengan satu hal, dan itu tidak bisa untuk kita kontrol jika sudah masuk ke dalamnya." responnya.


     "Iya kamu benar, kalau begitu aku pergi dulu ya." pamitnya yang di angguki olehnya.


     Firdaus masuk ke dalam kapal sambil menggendong tas yang berukurang sedang, di dalamnya berisi beberapa potong baju untuk ia tinggal di sana menghabiskan waktu dengan wanita bahkan anak yang sangat ia cintai.


     "Miftah, tunggu aku di sana ya sayang. Aku pasti akan pergi menemui mu bahkan anak kita, bismillahirrahmanirrahim." batinnya lalu masuk ke dalam kapal usai melewati jembatan.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2