
Kini tampaklah sepasang kaum Adam dan hawa yang masih mematung di atas Rooftop menggunakan baju berwarna ungu cerah yang sama persis hingga mereka memang benar - benar tampak serasi dikala itu.
Hitungan berakhir, Firdaus tanpa ada rasa keraguan mulai berbalik menghadap kearah Miftah yang masih menunduk.
"Kenapa kamu masih menunduk Ratuku? apakah kamu benar - banar tidak ingin melihat wajah calon suamimu?" tanyanya.
Miftah yang mendengarkan apa yang Firdaus ucapkan perlahan - lahan mulai mengangkat wajahnya untuk menghadap kearah lawan bicara yang langsung membuatnya merasa kaku bahkan sampai tak sanggup berbicara apa - apa lagi.
"Kau!" tunjuk ya tak menyangka hingga akhirnya ia memilih untuk melangkah mundur dengan mata yang sudah berkaca - kaca, hatinya sungguh sakit setelah mengetahui siapa sosok Firdaus yang selama ini ia anggap orang lain ternyata justru malah sosok yang pernah berniat untuk melayangkan nyawanya hanya karna suatu hal biasa.
Dengan gesit Miftah mencoba membalikkan tubuhnya, ia hendak melangkah untuk pergi dari tempat itu yang awalnya terlihat sangat indah tapi kini keindahan itu telah diganti dengan sebuah rasa muak.
"Mau kemana Ratuku?" tanya Firdaus sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Bukan urusanmu!" jawabnya acuh.
"Oh! apakah kamu lupa Ratuku? bukannya kamu sebelumnya sudah berjanji dihadapanku dengan sejumlah bintang, bulan dan langit yang menjadi saksi ucapanmu." peringatnya.
Miftah yang mendengar hal itu merasa sangat kecewa, ia sungguh membenci dirinya untuk pertama kali pada malam hari ini karena suatu hal bodoh yang sudah ia ucapkan dengan mudah tanpa berpikir.
"Andaikala waktu bisa diputar kembali aku sangat ingin dihari itu aku sakit sehingga aku tidak masuk kedalam tempat yang akan membuatku jadi berjumpa dengannya,"
"Andaikala aku tau bahwa itu adalah sosok yang tak pernah ingin kutemui lagi pasti aku tidak akan pernah memperdulikannya dan hanya membisukan ruangan itu,"
__ADS_1
"Andaikala saat ia meminta berteman denganku aku tidak menerimanya pasti hubungan ini tidak akan berjalan begitu jauh,"
"Andaikala aku bisa mengatur perasaan hatiku sendiri miskipun aku tidak mengenalmu pasti itu akan jauh lebih indah,"
"Andakala aku tau bahwa pria yang hampir membunuh ku itu bernama Firdaus pasti pada detik itu juga aku akan memutuskan kontak diantara kita tapi sayangnya semua sudah terlambat,"
"Kenapa? kenapa? kenapa kebenaran ini selalu saja terlihat diakhir? harus begaimana aku sekarang? dadaku terasa sangat sesak,"
Andai Miftah sambil memegang dadanya dengan air mata yang sudah meluap keluar dari tempatnya, Firdaus yang melihat Miftah menangis entah kenapa ia jadi ikut merasakan sesak.
Miftah sampai jatuh terduduk saking lemasnya lalu berusaha untuk bangkit kembali dengan langkah yang lemah dan Firdaus yang awalnya masih mematung mulai menahan kepergian Miftah dengan menggenggam tangannya erat sambil berkata "apakah kamu tau ciri - ciri orang munafik Miftah? aku yakin kamu pasti tidak lupa akan hal itu 'ciri - ciri orang munafik ada tiga yaitu apa bila ia berkata ia berbohong, apa bila ia berjanji ia mengingkari dan apa bila dipercaya ia menghianati' lalu setelah aku mengingatkan hal ini padamu masihkan kamu berniat untuk pergi?" jelasnya.
Miftah yang sudah tersulut emosi jadi sulit untuk berpikir jernih.
"Tau apa kamu?!! kamu gak paham siapa aku!!! kamu hanya mau menang sendiri dan memutuskan keputusan sesuka hatimu!!! bahkan kamu bisa dibilang pria yang hampir tak memiliki perasaan sama sekali pada wanita!!! perbuatanmu itu memang sangat sulit untuk diamaafkan Firdaus!!! sulit!!! asal kamu tau itu!!!" bentaknya dan Firdaus hanya diam.
"Aku benar - benar tidak menyangka kamu selicik ini padaku dan aku benar - benar tak menyangka nyalimu sungguh besar juga yah setelah apa yang telah kamu perbuat kamu malah dengan mudah memberikanku cinta yang berisi sebuah harapan yang tanpa kamu sadari ketika aku menerimanya itu malah membuatku seperti mendapatkan hadiah sebuah racun yang akan membuatku muram selamanya," geramnya.
"Miftah," ucap Firdaus berniat ingin menenangkan.
"Apa? mau jelasin apa lagi kamu? apakah karna aku tidak dapat kamu bunuh dengan mudah maka kamu masih memikirkan cara lain dengan cara menikahiku lalu ujungnya kamu akan menyiksaku sesukamu? oh kurasa aku masih waras dan mana mungkin mau menerimanya," dengusnya dengan mata yang sudah bengkak dan memerah.
"Mif... Aku tau aku salah Mif! tapi tolong berikan aku kesempatan untuk menutupi rasa sakitmu itu," pintanya.
__ADS_1
"Kamu pikir aku wanita yang mudah memberikan kepercayaan pada orang lain hah? jangan mimpi!" resahnya lalu hendak melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
"Kamu gak tau Mif... Semenjak aku mencelakaimu aku selalu dihantui rasa bersalah disetiap waktu ditambah lagi aku harus mendengarkan kemarahan orang tuaku yang membuatku hampir frustasi melanjutkan kehidupan ini sebab mereka memintaku untuk menikahimu karna kejahatan ku terhadapmu sudah terdengar ditelinga mereka," jelasnya.
"Kau tau? mamaku sangat menyukai buah terongmu bahkan beliau memintaku untuk selalu datang ketempat mu agar aku saja yang langsung memetiknya hingga dapat membawa pulang dalam keadaan yang masih segar." ceritanya.
"Ya kamu benar! aku memang kejam! hanya gara - gara kamu memintaku untuk membuat rekaman yang mana rekaman itu dapat memajukan bisnis terongmu aku malah berpikir hal yang aneh! aku kira kamu sengaja ingin membuat wanita lain cemburu terhadapmu ternyata bukan! lagian pada saat itu pun padahal kita sudah sepakat jika aku mau membantumu membuat rekaman maka kamu akan membantuku untuk memetik buah terong yang kualitasnya lebih bagus," jujurnya.
"Sekarang kamu bisa salahkan aku! kamu boleh tumpahkan rasa kekesalanmu itu dengan cara memukulku sekuka hatimu Miftah! dan jika kamu ingin aku melompat untuk bunuh diri dari atas gedung ini aku akan memenuhinya tapi asal kau tau perasaan hatiku terhadapmu ini tidak akan pernah bohong apa lagi berubah Miftah," ungkap nya lalu mulai berjalan kearah balkon.
Saat Firdaus ingin menaiki kakinya keatas balkon Miftah yang sudah berbalik badan merasa terkejut.
"Firdaus! apakah kamu sudah gila ya? kamu ingin mengakhiri hidupmu hanya gara - gara ini?" tanya Miftah cemas.
"Lalu aku harus pakai cara apa agar kamu tidak terlalu membenciku Miftah? cara apa Ratuku? aku tidak akan tenang seumur hidupku jika tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk memulihkan lukamu," resahnya yang hendak menjatuhkan dirinya tapi gerakannya tertahan karna Miftah langsung berlari kearah Firdaus dan menariknya menjauh dari area yang mengerikan itu.
"Sudah! lagian ini memang salah ku juga karena sudah mudah mempercayai mu dan berjanji sesuka hatiku hingga mau tidak mau aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kukatakan dan aku sadar setiap orang pasti harus bisa memberikan kesempatan pada orang yang sudah menyakitinya disaat ia menjadi pemegang peran korban begitu pun sebaliknya jika nanti roda sudah berputar tanpa sepengetahuan kita," ucapnya.
"Jadi! kau masih mau melangkah untuk mengahadapi masa depan bersamaku? orang yang hampir membunuhmu ini? apakah aku tidak salah dengar dengan kecepatan pikiranmu yang mudah berubah dan mengambil keputusan?" tanyanya bertubi - tubi.
"Aku serius Kaka! aku akan berusaha melupakan semuanya karena itu terjadi tak sepenuhnya salahmu," ucapnya tulus.
Firdaus merasa sangat bahagia karena Miftah sudah ingin memanggilnya Kaka kembali entah kenapa ia jadi ikut merasakan kesenangan yang begitu hangat, sebelumnya rasa hangat itu tidak pernah ia rasakan didalam kehidupannya karna orang tuanya lebih sering menekannya untuk menggapai mimpi hingga kebebasan sangat sedikit ia dapatkan.
"Terimakasih Ratuku," ucapnya sambil tersenyum manis lalu tanpa sadar saking bahagianya ia hendak memeluk Miftah yang dengan cepat menghindar dari hadapan Firdaus.
"Kaka... kita kan belum halal," peringatnya.
"Hahaha iya ya Kaka lupa, yasudah mari kita berbincang di sana sambil menikmati pesanan," ajaknya.
__ADS_1
"Baiklah Kaka," responnya sambil membalas senyuman hingga akhirnya suasana ketegangan yang sempat mereka rasakan itu seakan - akan hanya menjadi angin malam yang menumpang lewat disekitar mereka lalu pergi tanpa arah.