Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 157


__ADS_3

     Zaldira kini sudah masuk ke dalam kamarnya, selera makannya jadi hilang begitu saja saat mendengar penuturan orang tuanya yang ia anggap sebuah kabar bahagia ternyata malah membuatnya tertekan.


     Ia bingung sekarang, ia sampai tidak tau harus bagaimana menjelaskan pada Kak Zamrud jika ia tidak bisa menerimanya.


     Selama ini mereka sudah saling menjaga hati antara satu dengan yang lainnya, bahkan sampai suatu hari saat Zamrud mengajaknya bermain di taman tiba - tiba saja Zamrud memintanya untuk menjadi pacarnya dengan memberikan sebuket bunga mawar merah.


     Zaldira yang pada saat itu memang benar - benar tak ingin berpacaran jadi terdiam membisu saat bunga tersebut sudah berada di depan matanya, harum. Tapi ia tidak sanggup untuk mengambilnya.


     "Maaf Kaka, aku tau kalau Kaka udah suka sama aku begitu pun sebaliknya." ucapnya sambil mendorong bunga tersebut.


     "Jadi, kau menolakku?" tanyanya murung.


     "Eh! bukan begitu maksudku Kaka..." responnya merasa tidak enak.


     "Lalu apa?" tanyanya lagi sambil menatap dalam ke arah matanya meminta penjelasan.


  


     "Kak... Aku sejak dulu itu sudah berniat untuk tidak pernah berpacaran sampai kapan pun, karna aku benar - benar ingin bebas seperti gadis lainnya." jelasnya.


     "Kan kita hanya pacaran Zaldira, dan aku tidak seperti Firdaus yang terlalu posesif saat Miftah di dekati oleh pria lain." resahnya tak terima.


     "Kak... Aku bingung ingin menjelaskan seperti apa, yang jelas aku takut! dengan kita berpacaran maka akan lebih mendekatkan kita kepada zina yang tanpa sadar menjerumuskan kita kedalam lembah dosa." ucapnya berkaca - kaca.


     "Lho! kok kamu malah nangis Zaldira? jangan nangis dong..." sedih Zamrud lalu menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


     "Kaka, kalau boleh jujur kaka lah orang pertama yang udah bikin aku luluh dan kaka lah yang berani mengungkapkannya langsung dengan penuh ketulusan." ungkapnya hingga membuat Zamrud tersenyum.


     "Memangnya selama ini gak ada yang berani ungkapin perasaannya ke kamu? yang benar saja gadis se imut kamu gak ada yang ingin memiliki," herannya.


     "Sebenarnya banyak juga sih yang nitip surat melalui temanku dan memberikannya padaku, namun mereka banyak yang playboy hingga teman - temanku pun ada yang di permainan." geramnya.


     "Mereka mendekati hanya karena kecantikanku semata, dan aku sungguh tak ingin jika karna hal itu." resahnya sambil menghembuskan napas panjang.


     Zamrud sekarang jadi paham, ia pasti tau jika Zaldira benar - benar tidak ingin di jadikan bahan kesenangan mereka sementara dan di tinggalkan saat sudah ada pengganti yang lebih di sukai lagi.


     "Zaldira," ucap Zamrud yang membuat sang pemilik nama menoleh ke arahnya.


     "Aku paham mengapa kau memilih keputusan yang seperti ini, kalau boleh aku cuma mau minta kamu jaga hati kamu aja untuk aku bisa gak?" tanyanya sambil menatap dalam ke arah matanya.


     "Jika Kaka hanya memintaku untuk menjaga hati maka akan ku usahakan, kenapa aku tidak mudah menerima dan memberi harapan apa lagi sampai berjanji adalah-" jedanya hingga Zamrud jadi penasaran di buatnya.


     "Adalah apa?" responnya meminta lanjutan kalimatnya.


     "Ya karena aku tidak tau apakah kita benar - benar berjodoh, sebab tak semua rasa yang dititipkan kepada hati kita itu nyata di miliki oleh sepasang kekasih yang nantinya akan menyatu dengan ikatan suci." jelasnya yang kini sudah menunduk.


     Zamrud jadi kagum dengan sosok Zaldira, meskipun umurnya terbilang muda tapi cara berpikirnya sudah benar - benar dewasa.


     "Aku salut sama kamu Zaldira! aku suka cara berpikirmu yang sangat dewasa dan aku yakin kamu pasti bisa jaga hatimu buat aku, tapi aku juga tidak memaksa hatimu untuk terus berdetak kencang saat denganku jika takdir tidak mengizinkan kita untuk bersatu." putusnya mantap.


     Zaldira jadi tersenyum saat mendengar kata - kata pujian Zamrud padanya.


     "Jadi aku akan terima mawar ini sebagai simbol pertemanan dan menghargai perasaan satu sama lain," ucapnya sambil mengambil alih sebuket bunga mawar merah yang masih hidup itu.



     "Makasih banyak ya Zaldira," responnya tersenyum dan Zaldira membalasnya.


     Kenangan indah itu membuat Zaldira semakin menangis deras sambil memukul bantal tidurnya.

__ADS_1


     "Kenapa sih? saat aku sudah mendapatkan orang - orang yang tepat dan tulus menyayangiku! jika bukan mereka yang pergi tinggalkan aku, malah aku yang tinggalkan mereka." dengusnya mulai membenamkan wajahnya kedalam bantal dengan kondisi tengkurap.


     Tiba - tiba saja ponselnya berbunyi akibat masuk notifikasi pesan dari Wa.


     Awalnya Zaldira tampak malas untuk membuka ponselnya hingga akhirnya rasa malas itu buyar dalam sekejap saat membaca nama sang pengirim pesan.


     "Kak Miftah," batinnya girang lalu langsung masuk kedalam cetan yang ada di Wa.


     - Miftah -


Assalamualaikum dek, maaf apakah ini masih nomor adek? 🙏


     - Zaldira -


Wa'alaikum salam Kaka... Iya ini nomor adek 😄


     - Miftah -


Syukurlah kalau begitu dek... Oh iya! gimana kabar adek sekarang? maaf ya dek... Kaka udah jarang chat adek karna Kaka lagi sibuk sama masalah Kaka... 🙏🙁


     - Zaldira -


Iya Kaka gak papa kok, Zaldira paham banget kondisi Kaka yang sedang buruk kemarin itu. Apakah sekarang sudah membaik kak? 😊


     - Miftah -


Alhamdulillah udah dek... Dan orang tua Kaka juga sudah bersatu lagi setelah Kaka dan keluarga Firdaus mempertemukan kembali 😇


     - Zaldira -


Wah... Syukurlah kalau begitu Kaka... 😆


     Zaldira jadi tersenyum, ia sangat senang jika kondisi Miftah saat ini sudah baik - baik saja dan orang tuanya pun telah bersama kembali meski sempat berpisah.


     - Miftah -


     - Zaldira -


Iya Kaka ada apa? Zaldira masih on kok 😊


     - Miftah -


Ini Zaldira... Insya Allah tiga hari lagi Kaka akan menggelar acara pernikahan Kaka dengan kak Firdaus, kamu jangan lupa datang ya... Jamnya nanti Kaka kasih tau 😇


     - Zaldira -


Wah... Benarkah? gak lama lagi berarti...


     Zaldira mengucapkan kata itu sambil menahan rasa sesak di dadanya, karna ia takut tidak ada waktu mengunjunginya sebab ia harus berangkat ke luar negri.


     Namun meskipun begitu ia akan mencuri - curi waktu untuk hadir di pernikahan Miftah yang sudah ia anggap seperti Kaka kandungnya sendiri.


     Tanpa ia sadari setetes air mata jatuh kembali di pipi indahnya meskipun sempat mengering beberapa saat.


     Lalu ia kembali fokus membaca balasan dari kakanya itu.


     - Miftah -


Iya dek gak lama lagi... 😊

__ADS_1


     - Zaldira -


Tapi kak, adek minta maaf ya sama Kaka


     Miftah yang kini sedang berbaring di kamarnya jadi bingung saat Zaldira meminta maaf kepadanya.


     - Miftah -


Kamu kan gak salah dek... Jadi gak perlu minta maaf... 😅


     - Zaldira -


Aku harus minta maaf karna aku takut nanti Kaka kecewa 🤧


     Zaldira mengertik sambil menggigit bibirnya cukup kuat dan melepaskan saat ia rasa sedikit sakit.


     - Miftah -


Cara bicaramu seperti orang yang sedang sedih dek, apa kamu punya masalah hmm? kalau ada cerita aja sama Kaka, mumpung Kaka masih punya banyak waktu luang saat ini.


     - Zaldira -


Kalau telponan aja boleh gak kak?


     - Miftah -


Jangankan teleponan, Vc aja Kaka mau kalau sama adek... Biar adek bisa lebih tenang 😊


     - Zaldira -


Makasih banyak ya Kaka... 🤧 Kak Miftah memang Kaka yang terbaik untuk Zaldira


     - Miftah -


Udah jangan sedih lagi... Ayo kita Vc


     - Zaldira -


Baiklah kak 😊


     Saat Zaldira hendak menekan tanda Vc ternyata Miftah sudah lebih dulu menekannya hingga ia tinggal mengangkatnya saja.


     "Ya ampun Kaka... Kenapa malah Kaka yang telpon? biar Zaldira aja kak... Kan Zaldira yang perlu sama Kaka," protesnya sambil menghembuskan napas panjang.


     "Adek ini udah kayak sama Kaka orang yang belum dikenal aja, ini Kaka kamu lho..." responnya sambil tersenyum.


     "Iya deh Kaka..." ucapnya pasrah sambil memperlihatkan wajahnya yang sejak tadi ia tutupi dengan satu telapak tangan.


     "Ya ampun dek... Itu kenapa mata kamu udah marah sama bengkak? wah! ada yang gak beres nih! pasti ada apa - apa kan?" tebak Miftah serius.  


     "Iya Kaka benar, tapi Zaldira harap saat Zaldira udah cerita Kaka jangan sedih ya..." pintanya.


     "Iya dek... Akan Kaka usahakan," responnya tetap memberi senyuman meskipun bibir Zaldira masih enggan untuk tersenyum.


     Akhirnya setelah ia menarik napas dalam lalu membuangnya baru ia angkat suara dan mulai menceritakan semuanya, termasuk masalah nya yang bingung ingin menjelaskan apa pada Zamrud nantinya agar tidak kecewa kepadanya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2