Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 29


__ADS_3

      Disisi lain, disebuah kantor yang mewah Firdaus sedang sibuk mengerjakan berkas - berkasnya yang sudah menggunung tinggi karna ia sedikit lalai akibat sibuk mencari orang yang cocok untuk memata - matai Miftah beberapa hari yang lalu.


     "Maaf pak! mata - mata anda sudah datang," beritahunya setelah sudah sampai dihadapan Firdaus.


"Suruh dia masuk," responnya dengan kefokusan yang masih tertuju pada berkas.


     "Duduk," perintahnya saat simata - mata datang dan dia hanya menuruti apa yang diperintahkan Firdaus dengan wajah tegang.


     "Jadi begini pak! Miftah itu hanyalah anak yang diasuh oleh sepasang suami istri yang sudah tua diperkampungan itu," ucapnya.


"Lalu siapa orang tuanya?" tanya Firdaus yang mulai mengabaikan berkasnya.


     "Kalau untuk itu saya belum tau pak. Tapi saya akan mencoba menyelidikinya lagi, sepengetahuan saya ia sepertinya adalah seorang anak yang dibuang oleh orang tuanya karna sebuah konflik." jawabnya.


     "Apakah kerjaannya hanya menanam terong?" tanya Firdaus.


"Nah! itu adalah pertanyaan yang bagus, karna untuk masalah itu saya sudah mendapatkan suatu info yang menarik." ucapnya sambil tersenyum.


     "Apa itu?" tanya Firdaus.


"Ia sering menghabiskan waktunya dengan bermain di Mangatoon saat malam! ia adalah seorang dubing terkenal disitu karna kebagusannya dalam membaca novel atau pun komik," jelasnya.


     "Apanya info yang bagusnya?" tanya Firdaus penasaran.


"Jadi begini pak! kan ia sering main ke catroom... Bagaimana kalau bapak menyewa beberapa orang diruangan cetroom untuk membantu bapak," jelasnya.


     "Maksudnya, tugas mereka adalah mencomblangkan aku dengan dia?" tanya Firdaus yang mulai paham dan sedikit tersenyum.


"Benar pak," jawabnya.


      "Apakah dia seorang penulis juga?" tanya Firdaus lagi.


"Ia pak, benar sekali! ia juga seorang penulis. " jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1



"Apa nama akunnya?" tanya Firdaus.



"Bapak sangat beruntung, karna ia hanya memiliki satu akun yang namanya Ratu terong." jelasnya.


     "Nah... Yang namanya seorang ratu pasti juga membutuhkan seorang raja," ucap Firdaus yang kini tak berhenti tersenyum setelah seharian merasa dunia seperti bencana yang hanya terus menimpanya.


     "Benar sekali pak!" responnya.


"Ini hpku! aku mau kamu daftarkan aku di Mangatoon dengan nama Raja terong," perintahnya.



"Baiklah," ucapnya sambil meraih ponsel yang harganya sangat fantastis itu.


     Setelah Firdaus mengatakan paham, baru ia duduk kembali ketempat semula.


"Jadi dalam suatu ruangan cetroom itu ada sekitar sembilan orang dengan hosnya sekaligus?" tanyanya.



"Iya pak," jawabnya.


     "Baiklah kalau begitu, aku ingin kamu mencari tiga orang pemusik laki - laki dan tiga orang pemusik perempuan dengan suara bagus untuk kita jadikan umpan di catroom yang paling sering ia masuki." perintah Firdaus.


"Baiklah pak! saya akan mengusahakannya," responnya sambil tersenyum tapi masih merasa khawatir karena takut salah dalam hal memilih.


     "Kamu sudah boleh pergi, karna aku ingin kembali mengerjakan tugasku." ucapnya.


"Terima kasih pak! kalau begitu saya izin pamit," responnya senang karena akhirnya ia bisa keluar dari ruangan yang penuh dengan hawa ketegangan itu sedangkan Firdaus hanya meresponnya dengan anggukan dan kefokusannya sudah tertuju kembali pada laptop yang ada dihadapannya.

__ADS_1


     Tiba - tiba telponnya berdering, lalu ia pun bergegas untuk mengangkatnya.


"Firdaus... Apakah kamu lupa ya?" ucap papanya dengan nada jengkel.



"Apa lagi pa..." responnya resah.


     "Mama lagi kepengen pecel lele, jadi kamu harus segera membelinya sekarang juga... Padahal dari kamu baru berangkat kerja papa bilang! tapi kamu masih aja ngeyel! kamu dengar apa enggak sih?" omel papanya.


     "Padahal mama juga mau lahiran, tetap aja masih ngidam." cibirnya kecil tapi masih mampu didengar oleh papanya diseberang ponsel.


"Apa kamu bilang? coba ulangi lagi," pinta papanya geram lalu "tut..tut..tut.." Firdaus langsung mematikan ponsel tanpa menjawab.


     Dengan langkah lebar ia mulai berjalan keluar kantor untuk membeli pecal lele yang diperintahkan oleh papanya.


"Papa ini... Padalah sudah tua juga," resahnya dalam hati dengan wajah sangarnya yang membuat karyawan lain merasa sedikit merinding saat lewat bersebelahan dengannya.


     "Mau kemana pak... Kok tergesa - gesa banget?" tanya kang Juki santai.


"Maaf ya kang... Saya harus pergi sekarang," responnya.



Walau pun begitu, Firdaus tidak pernah menghina kang Juki yang memang sangat ramah dan sering membantu menyelesaikan masalahnya.


     Sesampai didepan mobil mewahnya, ia pun langsung masuk dan dengan kecepatan tinggi ia mulai melajukan mobilnya kepasar untuk membelinya.


     "Ya ampun... Tugasku padalah masih banyak banget... Apakah papa emang gak ada waktu apa untuk membelinya sendiri?" geram Firdaus dengan tatapan yang masih fokus pada jalan.


     "Untungnya aku bisa sedikit tenang, karna nanti malam permainan itu akan segera dimulai. Dan kamu Miftah akan segera mendapatkan kejutan yang tak pernah kamu duga sebelumnya," ucapnya sambil tersenyum miring.


    

__ADS_1


__ADS_2