Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 182


__ADS_3

            🍆 Lima Tahun Kemudian 🍆


     Firdaus sedang bersiap - siap untuk pergi ke kantor, akhir - akhir ini tubuhnya juga sudah tampak begitu kurus karna ia sudah berbulan - bulan tidak nafsu makan.


     Selepas kepergian Miftah dari rumahnya bahkan sampai saat ini ia juga masih belum mengetahui di mana istrinya itu berada, hidupnya jadi terasa begitu suram.


     Tak pernah lagi terlihat ukiran senyuman yang terpancar dari bibirnya. Bahkan Jannah yang kini sudah berstatus sebagai istrinya juga tak mampu menghilangkan rasa kesedihan di balik wajah suaminya.


     Fahman dan Permata baru saja menikah dua tahun yang lalu, dan Miftah juga tak bisa datang ke acara pernikahan mereka. Hanya titipan selamat yang ia berikan langsung pada kak Permata dan Fahman melalui Vc secara diam - diam saat mereka sedang berada di pelaminan.


     Fahman yang paham tentang kondisi Miftah yang memang membutuhkan ketenangan memilih menutup mulutnya juga sampai ia kembali keluar negri untuk berkerja.


     Adik - adik Firdaus yang sempat hadir di acara pernikahannya nya setelah sebulan berada di rumah juga kembali ke luar negri.


     "Mas... Apakah kamu tidak ingin sarapan dulu?" tanya Jannah sambil merapihkan kerah dan dasi suaminya.


    


     "Aku tidak lapar, kamu makan saja duluan dengan mama dan papa ya sayang." ucapnya lalu mengecup pelan dahi istrinya.


     Ia tau Firdaus selalu berusaha menjaga perasaan Jannah, tapi ia juga tidak sadar jika akhir - akhir ini ia sering menyiksa dirinya sendiri karna rasa bersalah itu masih saja menghantui dirinya begitu dalam.


     Kini Jannah sudah berapa di meja makan, wajahnya juga ikut terlihat suram karna suaminya tak merasa bahagia sedikit pun.


     "Jannah, apa Firdaus masih saja terlihat sedih akhir - akhir ini?" tanya papa Firdaus di sela - sela makannya.


     "Iya pa, Jannah saja sampai bingung ingin menggunakan cara apa agar mas Firdaus dapat kembali ceria." ucapnya sambil menunduk.

__ADS_1


     "Huh! obat Firdaus itu hanya mantu kesayangan mama pertama, jika ia tidak ada mana mungkin Firdaus dapat kembali ceria. Sejak dulu mama kan sudah bilang, jika Firdaus sepertinya sudah lebih terikat kepada Miftah." ucapnya asal dan tentu saja benar.


     "Ma... Mama gak boleh gitu, mama harus menghargai juga perjuangan Jannah sebagai istri keduanya." nasihat papa.


     "Tapi pa tetap saja kan? apa pun yang dia lakukan tidak ada yang berhasil," dengus sang mama.


     "Sudahlah, mama juga udah gak selera makan sepertinya." sambungnya bangkit lalu berlalu dari meja makan hendak ke dalam kamarnya.


     Jannah sangat terkejut, baru kali ini sang mama memperlihatkan raut kekesalannya kepadanya. Selama ini mama selalu tampak ceria terhadapnya dan apakah itu semua hanyalah topeng sebagai penghargaan juga tanpa rasa sayang? rasanya kehadirannya betul - betul tak terlalu di harapkan.


     Pernikahan antara ia dan Firdaus saja tidak di gelar secara terbuka, dengan alasan Firdaus baru saja menggelar acara pernikahan besar supaya menjaga nama baik keluarga agar Firdaus tidak di kira pria playboy.


     "Jannah, papa harap kamu tidak mengambil hati apa yang mama katakan padamu tadi ya. Mama sebenarnya sayang juga kok sama kamu, cuma akhir - akhir ini memang memang sedang mudah terpancing emosi." ucap sang papa berniat menenangkannya.


     "Iya pa, Jannah sadar kok. Lagian selama pernikahan Jannah dengan mas Firdaus yang sudah berjalan lima tahun ini, mas Firdaus masih juga tak dapat menyentuh Jannah seutuhnya seperti pasangan suami istri lainnya." ungkapnya.


     "Saat Jannah tanyakan alasannya mas Firdaus selalu diam dan ujung - ujungnya ia hanya berkata bahwa ia masih belum sanggup untuk mengungkapkannya," sedihnya.


      "Iya pa, tak jarang saya juga pernah mendapatkan banyak ancaman dari salah satu sekertaris mas Firdaus karna saya yang di duga istri pertama mas Firdaus hingga ia mengancam saja untuk berpisah dengannya." ungkapnya lagi.


      Jujur! sebenarnya Jannah juga hampir tak sanggup lagi untuk bertahan dengan Firdaus, jika sikapnya hanya seperti ini dan tak terlalu serius usai janji menikahi itu di tunaikan. Kenapa ia hanya menyimpannya saja? hingga ketika perasaan Jannah telah tumbuh besar masih tak mendapatkan balasan.


     "Pa, bolehkah Jannah minta satu permintaan?" tanyanya ragu - ragu tapi ini memang harus ia lakukan.


     Ia tak mau membuat orang tuanya khawatir dan mengira jika ia tidak subur, padahal ia memang belum di sentuh dan itulah alasan sebenarnya.


     "Permintaan apa itu?" tanya papa Firdaus.

__ADS_1


     "Apakah papa bisa membawa Jannah ke rumah orang tua istri pertama Firdaus? mungkin jika Jannah yang bertanya langsung mereka dapat memberikan Jannah jawaban, hingga akhirnya Firdaus bisa bersatu kembali dengan Miftah." ucapnya serius.


     Papa Firdaus sampai kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jannah kepadanya. Ia benar - benar tak menyangka jika Jannah bisa saja menyerah pada titik di mana Firdaus sudah mau memperlakukannya sebagai istri walau belum menyentuhnya lebih.


     Padahal tak lama lagi Firdaus juga akan jatuh pada pesona Jannah dan melupakan sosok Miftah, ia sendiri yang mengatakan hal itu pada papanya malam kemarin bahwa ia akan segera memberikan papanya cucu meskipun papanya belum tau bahwa sejak dulu mereka belum melakukannya.


     "Tapi Jannah, bagaimana denganmu? nanti Firdaus akan kembali lebih dekat dengan Miftah, sedangkan tadi malam Firdaus sempat berkata jika ia akan meminta haknya padamu." beritahu sang papa hingga membuat Jannah terkejut tapi kembali berpikir jernih.


     "Tapi pa, percuma saja. Kini Jannah paham. Firdaus selama ini tidak menyentuh Jannah karna ia tidak ingin asal mengambil kehormatan Jannah, tapi tak mampu membalas dengan sempurna nantinya hingga berujung luka seperti kejadiannya dengan Miftah. Sekarang karna ia sudah tidak memiliki jalan lain makanya ia sedang mencoba membangun rumah tangganya yang nyata dengan Jannah," jelasnya hingga sang papa mengangguk membenarkan.


     "Jannah gak mau egois pa, Jannah gak mau. Dan sekarang Jannah-" ucapannya jadi terhenti.


     "Rela memberikan Firdaus seutuhnya pada Miftah tanpa ingin berharap banyak hal lagi, yang penting Firdaus sudah menunaikan Janjinya untuk menikahi Jannah. Bahkan sudah memberikan warna warni keindahan ketika berumah tangga bersamanya, saat awal - awal menjadi istrinya." ucapnya berkaca - kaca.


     "Jannah, papa tidak tau harus berkata apa lagi kepadamu. Kamu memang wanita yang baik Jannah. Papa harap apa yang menjadi keputusanmu sekarang bisa mendapatkan hal yang lebih baik untuk kedepannya," harap sang papa.


     "Amiiin ya rabbal a'lamin... Kalau begitu tolong papa rahasiakan ini pada siapa pun termasuk mama sekali pun, apa lagi mas Firdaus. Dan sekarang bisakah papa antarkan Jannah langsung sebelum Jannah berubah pikiran pa? Jannah sangat takut jika itu sampai terjadi." sambungnya memohon.


     "Baik Jannah, kalau begitu mari kita berangkat sekarang." ajak sang papa.


     "Iya pa, sekali lagi terima kasih pa." ucapnya berusaha tersenyum.


     Sang papa yang sejak tadi sudah ikut berkaca - kaca hanya bisa membalas senyumannya sambil berkata sama - sama.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2