Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 153


__ADS_3

     Sesamai di luar rumah Firdaus menyuruh Rangga mengambil mobil hitamnya untuk ia pakai keluar.


     "Kenapa harus pakai mobil kak? apa Kaka tidak ingin menggunakan motor pagi - pagi? udara pagi juga sejuk banget lho kak..." usul Miftah.


     "Hmm... Kamu benar Ratuku! tapi kali ini aku hanya ingin mengajakmu menaiki mobil saja," responnya sambil tersenyum.


     "Oh iya! kok tumben kamu usulin Kaka naik motor? biasanya kamu paling males kalau di boncengin sama Kaka, apa jangan - jangan Ratuku ini lagi rindu yah sama Rajamu ini..." tebaknya sedikit menggoda.


     Miftah yang baru sadar tentang ucapannya hanya mampu mengumpat untuk dirinya sendiri berulang kali.


     "Aduh! dasar bodoh! ngapain coba kamu ngajakin Kaka buat naik motor sama kamu hah? Kamu kan tau sendiri kalau kamu belum muhrim, dan nanti tidak mungkin Firdaus mau menolak ucapanmu yang tak ingin memeluknya erat." batinnya merasa resah sambil memegang dahi.


     "Tuh kan Ratuku gak tau mau jawab apa, pasti Ratuku benar - benar lagi rindu berat nih sama Rajanya." girangnya sambil senyam senyum sendiri.


     "Is Kaka apaan sih! geer banget deh! orang Miftah cuma ingin rasakan sejuknya udara pagi, kan kalau dengan motor lebih terasa." elaknya membela diri.


     "Hmmm... Maca cih..." ledeknya sambil memanyunkan bibirnya.


     "Yaudah kalau Kaka gak mau percaya sama Miftah," ambeknya sambil melipat kedua tangan di bawah dada.


     "Jadi ceritanya ini mau ngambek sama kaka ya?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Ya kan Kaka yang minta! jadi Miftah cuma turutin aja lah," jawabnya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


     "Yaudah... Jangan ngambek gitu dong... Rajamu ini percaya dan gak bakal ganggu kamu dulu," hiburnya sambil mengelus puncak kepala Miftah.


     Miftah jadi merasa senang dengan ucapan Firdaus, lalu kembali menatap kearahnya sambil tersenyum lebar.


     "Seneng deh jadinya kalau Rajaku malah ngalah sama Ratunya," ucapnya yang tanpa sadar sudah memeluk pinggang Firdaus dan menaruh kepalanya di dadanya.


     "Jadi ceritanya sekarang malah modus biar bisa peluk - peluk aku ya..." tawanya balas memeluk Miftah.


     Miftah yang sadar atas kelakuannya langsung melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Firdaus.


     "Eh! maaf Kaka, Miftah gak sengaja tadi." ucapnya sambil menunduk.


     "Iya gak papa kok! mau sengaja atau enggak, aku malah senang kok kalau kamu peluk aku Ratuku." responnya hingga membuat pipi Miftah jadi bersemu merah.

__ADS_1


     "Isss... Kaka bisa aja deh! dasar Raja gombal," cibirnya sambil mencubit pelan siku tangan Firdaus.


     "Kan hanya untukmu Ratuku... Kalau sama yang lain Kaka gak mungkin kayak gini," responnya sambil menoel ujung hidung Miftah dengan satu jari telunjuknya.


     Tanpa mereka sadari, Sekar yang sejak tadi berdiri menjaga pintu rumah sedang berusaha menahan rasa gelinya saat melihat kedekatan mereka yang begitu menggemaskan.


     "Miftah kayaknya memang pilihan calon istri terbaik deh bagi bos Firdaus, berkatnyalah bos Firdaus akhir - akhir ini jadi makin berubah menjadi seorang pria yang lebih baik lagi." batinnya merasa senang.


     "Semoga saja pernikahan mereka nanti dapat berjalan dengan lancar," batinnya mendoakan yang terbaik untuk calon pasangan yang saling mencintai dalam pertengkaran kecil itu.


     Dari jauh terlihat sebuah mobil berwarna hitam sudah berdiri tepat di depan rumah Firdaus.


     Rangga yang sejak tadi mengemudi lalu keluar untuk kembali melanjutkan tugasnya berjaga di depan pintu rumah karna Firdaus lah yang akan mengambil alih mengemudi.


     "Ayo Ratuku! kita masuk sekarang," ajaknya sambil menarik satu tangan Miftah dan menggenggamnya erat.


     Miftah yang hendak melepaskannya dari genggaman Firdaus hanya mampu pasrah karna tenaganya tidak mencukupi.


                 🍆 Di dalam Mobil 🍆


     "Miftah! jan lupa pakai sabuk pengamanmu ya," peringat Firdaus.


     Tak berapa lama kemudian mobil itu pun sudah melaju keluar dari pintu gerbang saat pak satpam sudah membukanya.


     Suasana di dalam mobil begitu terasa sunyi, tak ada yang memulai pembicaraan sejak beberapa menit yang lalu. Mereka hanya sibuk melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.


     Karna merasa jenuh, akhirnya Miftah pun memutuskan untuk mengangkat suara.


     "Maaf kak! sebenarnya kita mau kemana sih kak?" tanyanya yang sejak tadi sudah berusaha mengubur dalam - dalam rasa penasarannya.


     "Kamu mau tau aja, apa mau tau benget Ratuku?" bukannya menjawab Firdaus malah balik bertanya.


     "Pertanyaan macam apa itu? Kaka kan pasti tau kalau aku sudah bertanya intinya aku ingin tau... Bukannya malah di tanya lagi... Menyebalkan," dengusnya kembali melihat keluar jendela.


     "Ya kan Kaka hanya ingin tau kalau kamu itu mau tau aja, apa mau tau banget Ratuku..." jelasnya.


     "Huh! terserah Kaka aja deh! capek aku kalau ngomong sama Kaka," ucapnya kembali mendengus kesal.

__ADS_1


     "Yaudah jangan kesel gitu dong mukanya sama Kaka... Oke - oke! Kaka akan kasih tau kamu Ratuku," responnya sambil tersenyum.


     "Jadi apa kalau gitu?" ucapnya kembali bertanya.


     "Kaka hari ini ingin mengajakmu untuk membeli baju pengantin Ratuku... Karna tiga hari lagi kita Insya Allah akan melangsungkan pernikahan kita," beritahunya sambil berpaling untuk mengahadap ke arah Miftah.


     "Benarkah? kok Miftah gak tau sih kak?" tanyanya heran.


     "Kamu ini! apakah kamu sudah lupa hmm? saat mamaku berkata jika pernikahan kita itu akan di tunda sampai semua masalahmu selesai," jawabnya masih fokus menyetir mobilnya.


    "Oh iya ya! maaf ya Kaka karna Miftah sempat lupa, tapi bagaimana dengan Kakanya kaka yang masih di luar negri?" tanyanya lagi.


     "Kalau masalah itu kamu tenang saja yah Ratuku, mereka pasti akan datang sebelum hari pernikahan kita di mulai." responnya meyakinkan.


     "Syukurlah kalau begitu kak," ucapnya sambil menghembuskan napas pelan dengan pandangan yang kembali menatap jalanan yang ada di sampingnya.


     Tiba - tiba ia jadi teringat Zaldira, begitu pun dengan Firdaus dan Wahyu yang sejak dulu sudah memberikan warna warni indah dalam kehidupannya.


     Ia hanya tersenyum saat mengingat kenangan mereka ketika sibuk bercanda tawa bersama.


     Firdaus yang melihat Miftah tersenyum sendiri memutuskan untuk bertanya padanya.


     "Ratuku! kenapa kau senyam senyum sendiri hmm? apa karna kau merasa bahagia saat mendengar hari pernikahan kita?" tebaknya dan Miftah hanya meresponnya dengan gelengan kepala.


     "Enggak Kaka... Miftah tersenyum karna mengingat kenangan Miftah dengan Zaldira juga kak Zamrud dan kak Wahyu," jujurnya.


     "Tapi kamu gak rindu banget sama Zamrud kan?" tanyanya yang masih saja merasa cemburu.


     "Hehe, ya enggaklah Kaka... Kaka jangan cemburu gitu dong... Kan Kaka sudah tau kalau sekarang yang berhasil menangkan hatiku itu hanya Kaka! dan gak ada siapa pun yang bisa menggantikannya," hiburnya meyakinkan hingga Firdaus jadi menghembuskan napas lega sambil tersenyum.


     "Bagus deh kalau gitu Ratuku," responnya yang tanpa ia sadari kini tempat yang sudah ia tuju sudah tak terlalu jauh lagi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2