Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 82


__ADS_3

     Usai makan, tanpa menunggu waktu lama sang mama langsung menarik tangan Miftah untuk mengikutinya kekamar.


     Sang papa hanya membiarkan dan masih sibuk dengan makanannya begitu pun dengan Firdaus.


     Sesampainya mereka didepan kamar sang mama Miftah sedikit menahan langkah kakinya yang terus saja mengikuti sang mama.


     "Lho! sayang! kenapa kamu malah berhenti?" tanya sang mama.


     "Enggak kok ma! Miftah cuma merasa gak enak aja kalau harus masuk kekamar mama untuk berhias... Lebih baik alat make up nya dibawa kekamar Miftah aja ma..." usulnya tanpa berani melihat ke arah sang mama.


     "Lah... Kenapa? orang dikamar mama gak ada apa - apa kok!" herannya.


     "Bukan gitu ma... Gak sopan aja kalau Miftah masuk kesana," ucapnya.


     "Gak papa sayang... Kan udah mama izinin," jelasnya.


     "Terserah mama aja deh," ucap Miftah merasa pasrah dan mama hanya tersenyum saat melihat Miftah sudah menurut.


     "Oke! kalau terserah mama berarti kamu harus ikut mama ya..." pintanya.


     "Baik ma," jawabnya dengan tubuh yang sedikit bergetar.


     Sesampai didalam Miftah langsung dihias sedemikian rupa, sampai - sampai mama sendiri sedikit geli melihatnya dengan wajah yang penuh dengan tumpukan merah bekas jerawat.


     "Tak lupa sebuah kaca mata bulat berukuran sedang yang menempel diwajahnya.


     Usai dihias oleh sang mama baru ia di izinkan untuk melihat kearah kaca yang ada dimeja hias.


     Miftah hampir saja berteriak. Namun, cepat - cepak ia membekap kuat mulutnya agar suara teriakannya tak didengar oleh sang mama.


     "Gimana hasilnya?" tanya sang mama dan Miftah masih mematung memperhatikan dirinya didepan kaca tanpa menjawabnya.


     Ia hanya diam, termenung, dan bingung dengan dirinya sendiri.


     "Sempurna ma," ucapnya setelah diam beberapa saat dan mama jadi tersenyum semakin lebar.


     Tak berapa lama kemudian Miftah pun keluar dari kamarnya dengan wajah yang terus menunduk. Dengan langkah pelan ia mulai melewati meja makan untuk keluar rumah.


     Firdaus yang baru saja melihat Miftah jadi penasaran dengan sosok yang terus saja menundukkan kepalanya.


     "Hei kamu! berhenti sebentar," tunjuk Firdaus ke arah sosok tersebut.


     Miftah yang merasa jika Firdaus berbicara padanya hanya mampu menghentikan langkahnya.


     Ia terus saja berdiri. Ia tidak berani melihat kearah belakang, yang ia takuti hanya satu. Ia hanya tak ingin Firdaus tertawa saat melihat dadanan sang mama yang super zduper sukses membuatnya berubah dari cantik keseratus persen wanita biasa yang tampak begitu culun dengan sebuah kaca mata bulat.


     "Ratuku kenapa kamu masih tak mau membalikkan tubuhmu? Rajamu ini cuma ingin tau bagaimana hasilnya," bisik Firdaus tepat ditelinga Miftah.


     Miftah masih saja diam, Firdaus yang sudah sangat penasaran langsung saja membalikkan tubuh Miftah dia ia sangat terkejut ketika melihat wajahnya.


     "Ya ampun... Benarkan ini Ratuku? ternyata kamu bisa berubah juga ya," ucapnya merasa sangat terkejut.


     "Is! Kaka pasti ingin menertawai ku kan?" tuduh Miftah sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.


     "Hahaha! mana mungkin Rajamu ini ingin menertawaimu hmm? justru Rajamu ini jadi merasa senang," ucapnya sambil terkekeh pelan.


     "Alah! Kaka pasti cuma ngeles doang," elak Miftah tak percaya.

__ADS_1


     "Beneran Ratuku," responnya serius.


     "Dengan penampilanmu begini maka tak akan ada satu pun pria yang mau menggodamu dan biarlah cuma aku yang tau bahwa kamu itu seindah mutiara," bisiknya tepat didepan wajah Miftah yang jaraknya hanya beberapa senti.


     Miftah terdiam. Ia jadi beku sesaat. lidahnya terasa begitu kelu. Ia hanya dapat menatap sorot mata yang tak ada tanda - tanda kebohongan sama sekali dari Firdaus.


     "Ratuku... Aku sebenarnya hanya takut jika nanti kamu malah diperlakukan semena - mena disana karna perubahan parasmu! tapi aku lebih takut jika Ratuku nanti berpaling hati saat bertemu pria lainnya disana," ucapnya sambil menatap sendu ke arah Miftah.


     Tangannya yang sejak tadi ditaruh dikedua kedua pundak Miftah masih saja melekat sampai sekarang.


     Miftah kini sudah kehabisan kata - kata, ia benar - benar tak menyangka jika Firdaus akan mengatakan hal yang tak akan pernah ia duga sebelumnya.


     Ia pikir Firdaus nanti akan menghinanya dan membuatnya merasa tak lagi mempunyai kepercayaan diri, tapi kini justru Firdaus yang sedang mencemaskan nasibnya disana nanti.


     "Mif! dengan parasmu yang seperti ini kamu pasti akan mudah untuk dibuli karena kamu bakal dikira orang yang sangat kampungan tapi kamu tenang saja! nanti aku akan mengirim nomor mata - mata pribadi ku yang sangat handal dalam menyelesaikan kasus yang aku berikan selama beberapa hari saja," jelasnya dengan suara pelan.


     "Tapi kak a-" belum sempat Miftah menyelesaikan kalimatnya Firdaus langsung memotongnya.


     "Ratuku aku mohon... Ini juga demi keselamatanmu! yang penting kamu masih aku izinin untuk mencari informasi sendiri kan disana? buat berjaga - jaga aja kok," desak Firdaus.


     Miftah yang berpikir jika apa yang di ucapkan oleh Firdaus memang ada benarnya langsung mengangguk menyetujuinya sambil tersenyum.


     Firdaus jadi sangat bahagia dibuatnya, tanpa sadar kini ia sudah memeluk Miftah hingga darah Miftah jadi merasa berdesir dibuatnya.


     Mama dan papa yang melihat adegan tersebut hanya tersenyum dan tidak berniat mengganggu, mereka saling tatap sebentar lalu kembali sibuk melihat sinetron gratis dihadapan mereka.


     "Pa! mama senang banget deh pa," ucap sang mama sambil menepuk lengan sang papa pelan.


     "Senang kenapa ma?" tanya sang papa.


     "Itu lho... Putra kita yang dulunya keras kepala banget semenjak ketemu Miftah sudah kembali menjadi pria yang lembut dan sangat penyayang," jawab sang mama dan sang papa hanya mengangguk mengiyakan.


     "Iya ma... Apa yang mama katakan tadi itu benar kok!" ucap sang papa.


     "Telat kasih responan ucapannya! orang tadi kek," respon sang mama acuh tak acuh tanpa berniat untuk memalingkan wajahnya kearah sang suami.


     "Huh! gitu aja ngambek," cibir sang papa.


     "Apa? udah ah! papa lebih baik diem aja deh," dengus sang mama.


     "Kalau mama masih suka ngambek nanti waktu ultah papa gak bakalan ajak mama keluar negri lagi," ancamnya.


     "Jgerrrr!!!"


     Ketika mendengar ancaman suami itu sukses membuat sang mama langsung melihat ke arah papa sambil tersenyum.


     "Apa senyam senyum begitu?" tanya sang papa sambil mengangkat satu alisnya.


     "Emangnya gak boleh mama sanyum sama papa? yaudah sekalian aja lama - lama gak senyum lagi," ambeknya sambil melipat kedua tangan dibawah dada dengan kedua mata terpejam.


     Niat ingin mengancam malah ia yang kena ancaman kembali. Papa Firdaus jadi pasrah dan mau tidak mau ia membaiki istrinya kembali.


     "Udah - udah... Mama jangan marah dong... papa kan hanya bercanda," ucapnya sambil mengelus puncak kepala istrinya penuh tanda sayang.


    "Iya deh... Mama juga minta maaf karna tadi udah ancam papa juga yah... Dan kesel waktu menjawab pertanyaan papa," sedihnya sambil memeluk pinggang suaminya yang duduk disebelahnya.


     "Ya ampun... Istriku ternyata sadar juga ya... Dan mau minta maaf kembali sama suaminya," senang papa Firdaus.

__ADS_1


     "Hehehe! biar bisa pergi keluar negri nantinya," ucapnya sambil menyengir kuda.


     "Hadeh... Papa pikir perkataan mama tadi tulus! ternyata oh ternyata..." respon sang papa sambil menggeleng - gelengkan kepalanya saking tak habis pikir dengan istrinya.


     "Udah... Jangan dimasukkan hati... Kan papa juga tau kalau mama emang sayang sama papa bukan karna uang papa," jujurnya.


     Papa Firdaus jadi kembali tersenyum lalu mengecup singkat dahi istrinya.


     "Makasih ya ma..." ucapnya sambil menatap bola mata istrinya dalam.


     "Sama - sama pa..." respon sang istri yang juga balas menatap ke arah sang suami.


     Miftah yang baru saja sadar atas perlakuan Firdaus kepadanya langsung mendorong tubuhnya pelan.


     "Ya ampun kak... Itu dibelakang Kaka padahal ada mama sama papa... Apakah Kaka tidak merasa malu?" heran Miftah lalu langsung berjalan dengan langkah lebar menuju ke arah mama dan papa.


     "Lho! kok film romansa tanpa suaranya berhenti sih sayang?" tanya sang mama sambil melihat ke arah Miftah.


     "Iya nih!" sambung sang papa.


     "Ma! pa! tadi tidak seperti apa yang mama pikirkan karna kami benar - benar gak sengaja," jelasnya.


     "Santai aja sayang... Mama paham kok... Gak usah cemas begitu," respon sang mama.


     "Iya ma! makasih ya ma," ucapnya sambil mencium punggung tangan sang mama dan sang papa.


     "Yaudah kalau gitu Miftah pamit dulu yah ma! pa! kak Firdaus!" ucapnya sedangkan mereka hanya mengangguk sambil berkata "ia."


     Tanpa membuang - buang waktu Miftah langsung mempercepat langkahnya untuk menuju keluar rumah, ia melihat jika Haris sudah sejak tadi sampai didepan gerbang rumah Firdaus.


     "Haris!" seru Miftah sambil melambaikan tangannya kearahnya dan Haris ikut membalasnya sambil tersenyum.


     Setelah sampai dihadapannya ia langsung memakai helm pemberian Haris, Haris tidak merasa terkejut karna semalam Miftah sudah menceritakan semuanya padanya.


     Setelah naik dibelakang motor barulah Haris menyalakan gas motornya dan kini mereka sudah melaju menjauh dan meninggalkan pekarangan rumah yang terkenal sangat mewah itu.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...

__ADS_1


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2