
Kini, mereka sudah duduk di kursi mereka masing - masing. Pak Abraham lebih memilih duduk disofa yang letaknya dihadapan Miftah dan Virgo dibandingkan dikursi khususnya sendiri yang sangat nyaman.
"Jadi kamu ingin melamar apa?" tanyanya membuka topik pertanyaan sambil menatap ke arah Miftah dengan begitu lekat.
"Sebagai Mandor panen pak," jawabnya.
"Wah... Kebetulan sekali karna Mandor kami yang dulu sudah lama dipecat oleh nyonya," ceritanya.
"Maaf pak! kok bisa?" tanya Miftah merasa heran.
"Pak! lebih baik jangan dibicarakan disini... Bagaimana kalau nanti nyonya mendengarnya? apakah bapak tidak takut?" peringatnya merasa cemas.
"Untuk apa aku takut pada pemimpin seperti itu?" resahnya sambil menghembuskan nafas kasar.
"Tapi pak nyo-" belum sempat Virgo menyelesaikan ucapannya pak Abraham langsung saja memotongnya.
"Kamu tidak perlu menghiraukan aku... Ini demi kebaikan kita bersama! apakah kamu tidak ingat ada berapa banyak mandor yang sudah dipecat setelah dihina habis - habisan olehnya? hingga tidak ada lagi para pelamar kerja yang datang sebagai mandor dan kini saat kita telah menemukannya kita tidak bisa tinggal diam saja seperti kemarin dan membiarkan yang baru terluka lagi," kekehnya dan Virgo hanya mampu pasrah, lagian apa yang dikatakan oleh pak Abraham juga ada benarnya.
Miftah yang sejak tadi hanya menyimak kini jadi sedikit paham tentang apa yang dimaksud oleh mereka.
"Tak apa pak! saya paham! bapak tidak usah khawatir oke! percayakan saja semuanya pada saya... Saya tidak akan pergi kok sebelum semuanya berhasil," ucapnya sambil tersenyum dan kalimat terakhirnya malah memunculkan tanda tanya tanpa Miftah sadari.
"Berhasil? dalam hal apa?" tanyanya merasa bingung.
"Hahaha! gak ada pak! maksud berhasil dari Kalimat saya itu... Anu pak!" jawabnya sedikit mematahkan kalimatnya untuk berpikir jawaban yang tepat sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Anu apa?" tanyanya lagi semakin merasa penasaran.
"Itu lho pak... Kan saya telah dipercayakan sebagai Mandor dikebun ini, jadi saya tidak akan pernah melangkahkan kaki saya untuk pergi sebelum semua usaha yang ada dikebun ini berhasil." jawabnya sambil memaksakan senyuman yang terasa begitu berat.
"Oh... Gitu... Kamu ini! bilang langsung napa dari tadi! bikin saya penasaran aja," responnya balas tersenyum.
"Baiklah! hari ini kamu diterima tanpa syarat," ucapnya yang langsung membuat Miftah terbelalak saking terkejutnya.
"Ya ampun... Yang benar pak?" tanyanya seakan ini semua adalah mimpi.
"Iya... Mana mungkin saya bohong," jawabnya yang tak pernah luntur senyuman.
"Ya Allah terima kasih... Alhamdulillah aku dapat diterima dengan sangat mudah tanpa syarat! jika memang harus membawa syarat otomatis ia harus menjelaskan kenapa ia tidak memiliki kartu keluarga.
Bagaimana tidak? kartu keluarganya dulu tertinggal semua didalam kamarnya, lagian tidak mungkin juga ia menjelaskan tentang kejadian suram yang sebenarnya terjadi dengannya beberapa tahun lalu.
__ADS_1
"Baik! kalau begitu kamu sudah bisa bekerja hari ini terus karna para pekerja kebun lainnya sangat membutuhkan panduan darimu," jelasnya hingga membuat Miftah kembali terkejut.
"Ya ampun... Bapak tidak bercanda kan?" tanyanya merasa heran dan terus menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Ngapain saya becanda? ini serius lho..." jelasnya yang membuat mata Miftah jadi berbinar dibakar api semangat.
"Sudah... Kalau kamu udah diterima lebih baik kamu langsung pergi aja sana kebelakang, para pekerja lainnya pasti akan menyambutmu setelah kamu memperkenalan diri." jelas Virgo.
"Plak,"
Bunyi sebuah pukulan ringan mulai mendarat disebelah bahu Virgo.
"Aduh! bapak ini... Kenapa saya tiba - tiba dipukul coba! salah saya apa sih pak?" rintihnya sedikit memelas.
"Kamu ini lho! udah lama mantauin tempat ini masih juga gak paham toh!" resahnya.
"Maksudnya apa pak?" tanyanya masih tak mengerti.
"Ya para pekerja itu mana mau percaya kalau bukan kamu yang bicara karna kamu kan udah lama dikenal oleh mereka meskipun gak terjun langsung buat arahin mereka," jelasnya.
"Oh iya ya..." responnya cengengesan sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal.
"Dasar kamu ini... Itu aja harus di ingatkan selalu, meskipun kamu seorang mata - mata pribadi nyonya tetap saja kamu kan masih diberi tanggung jawab untuk menjaga sekitar kebun juga olehnya." jelasnya lagi.
"Sudah... Kamu tidak perlu minta maaf! cepat sana antarkan saja gadis ini. Oh iya! bisakah saya mengetahui nama anda?" tanyanya sopan.
"Tentu saja! nama saya adalah Jannah," jawabnya.
"Cuma Jannah saja? apakah kamu tidak memiliki nama panjang?" tanyanya lagi.
"Maaf pak! saya tidak memiliki nama panjang! karna nama saya cuma diberi Jannah," jelasnya terpaksa berbohong.
"Baiklah kalau begitu," responnya.
"Oke deh pak! kalau begitu saya mau pamit kekebun belakang dulu ya... Makasih banyak ya pak..." ucap Miftah.
"Sama - sama Jannah! semoga kamu betah ya bekerja disini karna kami sangat membutuhkan keahlian mu ini meskipun aku tidak pernah melihatmu sebelumnya tapi sepertinya aku sudah sangat percaya kepadamu," ungkapnya.
"Iya pak! saya pasti akan berusaha semampu saya, agar bisnis kebun terong maksudnya jeruk ini bisa berhasil dengan mudah." responnya yang kembali gugup karena sempat salah menyebut jenis kebun saat berbicara tadi.
"Lho! kamu dulunya pernah nanam terong?" tanyanya sedikit terkejut.
__ADS_1
"Iya pak," jawab Miftah sambil tersenyum tipis dengan kepala yang menunduk.
"Wah... Kalau kebun terong saja bisa kamu olah apa lagi kebun jeruk! oke! kamu memang tak bisa diragukan lagi! kepercayaan saya sudah semakin meningkat! baiklah! semoga berhasil ya," semangatnya.
"Oke pak! sekali lagi terima kasih ya pak," ucapnya merasa sangat tenang dengan tubuh yang sedikit dibungkukkan.
Awalnya ia sempat mengira jika pak Abaraham akan menghinanya saat mengetahui ia dulunya bisa menanam kebun terong ternyata tidak sama sekali, beliau adalah pria yang benar - benar memiliki hati yang baik dan sikap lembut juga penuh perhatian pada semua pekerja hingga banyak disayangi.
"Sama - sama," responnya sambil tersenyum lebar lalu mulai bangkit untuk duduk di kursi pribadinya. Tangannya secara perlahan mulai membuka leptop untuk kembali bekerja.
Miftah dan Virgo akhirnya memilih keluar dari ruangan tersebut untuk menuju kekebun belakang yang pastinya sudah banyak dipenuhi oleh para pekerja.
Sesampai di sana Virgo langsung mengumumkan kalau Miftah adalah seorang Mandor baru untuk mereka. Ada yang merasa senang dan tak sedikit juga yang tak percaya setelah melihat penampilannya, sayang! seperti bocah ingusan yang tak tau apa - apa.
Namun, Miftah memilih untuk tidak menghiraukan nyinyiran mereka dibelakangnya karna yang terpenting baginya sekarang adalah bagaimana caranya untuk mengorek informasi secara dalam tentang nyonya untuk memperlihatkannya pada sang papa.
Ia sangat berharap bisa menyelesaikan urusan ini sebelum acara pernikahannya dengan Firdaus tiba, karna ia sangat ingin papanya menjadi wali dalam pernikahannya dengan kehadiran sang mama yang menonton untuk melepaskan putrinya agar menjadi tanggung jawab suaminya.
_____________________________________
Hai kaka semuanya... 🤗
Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇
"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"
Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊
Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄
Dimana bulan disitu bintang 😀
Dimana gelap disitu terang 🤣
Terima kasih bila tlah datang 😆
Star beri ucapan salam sayang 😘
Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...
Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃 🙏🙏🙏 🍃🍃🍃🍃🍃