
Sang mama yang tak kunjung mendapat jawaban dari putranya hanya dapat mengembuskan napas kasar.
"Baik! acuhin aja terus kalau mama sedang bicara," ambek mamanya kembali mengunyah makanannya.
Sang papa yang melihat istrinya di abaikan oleh putranya sendiri jadi ikut angkat suara kembali.
"Firdaus! lagi - lagi kamu berani mengacuhkan mamamu ya? apa kamu lupa jika surga itu ada di bawah telapak kaki ibumu?" geram papanya.
Firdaus hanya diam, ia masih tak mampu untuk bicara dan hanya menatap Miftah dalam.
"Ada apa dengan kak Firdaus? kenapa kak Firdaus tampak begitu murung?" batinnya bingung.
"Bagaimana ini? apakah aku harus mengatakan pada mama dan papa jika aku lupa memberikan obat yang di titipkan oleh dokter padanya," batinnya yang kini telah menunduk.
"Aku yakin banget! seandainya aku bersikap jujur akan hal itu, mama sama papa pasti akan marah besar." batinnya merasa resah.
Miftah yang penasaran dengan apa yang di pikirkan oleh Firdaus mulai mencari trik agar dapat berbicara hanya berdua dengannya.
"Ma... Pa... Sepertinya Miftah harus ke kamar mandi sebentar deh! dan Miftah hanya ingin di antar oleh kak Firdaus, boleh gak?" tanyanya sedikit memelas.
"Gak papa sayang... Biar mama aja yang antar kamu..." tawar mamanya.
"Enggak ma... Soalnya Miftah sekalian mau minta tolong sama Kak Firdaus untuk mengambil obat Miftah yang terletak di atas lemari yang tinggi," alasannya yang tiba - tiba saja mengatakan obat.
"Lho! obat apa sayang?" tanya mamanya heran.
"Ini ma... Kemarin itu Miftah lupa bilang sama kak Firdaus untuk mengambil kembali obat nyamuk yang sempat Miftah beli," jelasnya terpaksa berbohong.
"Lha! untuk apa obat nyamuk Miftah? bukannya dirumah kita ini sangat bersih? terus untuk apa harus membeli obat nyamuk?" heran papanya yang mulai curiga.
"Anu pa! jadi gini... Kemarin itu mama Miftah minta tolong sama Miftah untuk beliin obat nyamuk," responnya memaksakan senyuman.
"Lalu?" tanya sang mama sambil mengangkat sebuah alisnya.
"Ya obat nyamuk itu rencananya mau di pasang di dalam isiannya karna kemarin itu sempat habis ma... Lagian mama kan tau sendiri kalau rumah yang gak pernah di tinggali dan di bersihkan semuanya pasti bakal banyak nyamuk," resahnya.
Mama dan papa jadi mengangguk tanda mengerti sedangkan Firdaus dibuat terheran - heran dengan karangan berbohong Miftah yang tampak lancar itu.
"Baiklah kalau begitu, kamu boleh naik dulu sebentar ke kamarmu ya... Abis itu kembali lagi untuk makan di sini." ucap sang mama mengizinkan.
"Makasih banyak ya ma..." responnya sambil tersenyum lalu meminta tolong Firdaus untuk memapahnya sampai ke atas.
Saat langkah kaki Miftah sudah hampir sampai di dekat anak tangga ia jadi di kejutkan dengan kelakuan Firdaus yang tiba - tiba membopongnya tanpa izin.
__ADS_1
"Aaaa!" pekiknya terkejut.
Matanya jadi mematung pada mata Firdaus yang turut menatapnya dengan bibir yang tak berhenti tersenyum lebar.
"Maaf ya aku main bopong - bopong kamu aja Ratuku, karna aku sudah tidak sabar untuk sampai di kamarmu." ucapnya.
Miftah yang mendengar apa yang Firdaus katakan hanya bisa menatapnya tajam, karena ia benar - benar tidak ingin di bopong olehnya.
"Huh! dasar Kaka! kebiasaan banget deh! aku yakin banget meskipun aku menolak untuk di bopong oleh mu kamu akan tetap saja melakukan kehendakmu," dengusnya sambil melipat kedua tangan di bawah dada.
"Ya maaf lah Ratuku... Rajamu ini hanya tidak ingin kaki mu kenapa - napa... Nanti Rajamu ini jadi sedih..." responnya sambil memanyunkan bibirnya.
Pipi Miftah jadi bersemu merah, entah kenapa sikap Firdaus yang sekarang tampak begitu imut. Rasanya ia ingin sekali mencubit kedua pipinya untuk menyalurkan rasa gemasnya tapi di tahan.
"Ya ampun sadar Miftah! dia belum menjadi suamimu," batinnya menegur diri sendiri.
Firdaus hanya terkekeh saat melihat rona merah yang muncul dari pipi Miftah. Ia dengan hati - hati membopong Miftah sampai kedepan kamarnya.
"Kak! kita udah sampai, jadi tolong turunkan aku." pintanya.
"Gak usah Ratuku," tolaknya yang kini sudah membuka pintu menggunakan satu telapak tangannya.
Miftah hanya menggeleng saat keinginannya di tolak oleh Firdaus.
Sesampai di dalam ia mendudukkan Miftah di atas kasur.
"Iya Ratuku sama - sama," responnya yang sudah tampak lelah lalu duduk di samping Miftah.
"Kaka terlihat kelelahan, apa aku keberatan ya?" tanyanya cemas.
"Eh! enggak kok... Siapa bilang kamu keberatan Ratuku? yang ada itu tangganya yang kepanjangan," guraunya hingga membuat Miftah terkekeh jadinya.
"Kaka ini ada - ada aja," responnya sambil menutup mulutnya dengan satu telapak tangan saat tertawa.
"Hehe! udah lebih baik kamu ketawa aja itu lebih baik," ucap Firdaus yang ikutan tertawa saat melihat ekpresi wajah Miftah.
Kecantikan jadi bertambah 1000°c menurutnya, ya meskipun dari kita terbilang mustahil jika ada yang berkata 1000°c. Palingan lebih banyak yang berkata 100% cantik.
Namun entah apa yang membuat Firdaus malah berpikir 1000°c, ada - ada saja dengannya.
Miftah yang sempat terdiam usai tertawa jadi kembali mengingat apa tujuannya membawa Firdaus ke kamarnya.
"Oh iya! aku hampir lupa," serunya.
"Kamu lupa apa Ratuku?" tanya Firdaus sambil mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
Kini tatapan Miftah sudah kembali tertuju pada Firdaus, bukan tatapan teduh yang ia layangkan melainkan tatapan tajam yang penuh dengan sorot tanda tanya.
Firdaus jadi merasa jika bulu kunduknya ikutan merinding saat merasakan aura yang sedikit mencengkram di depannya.
"Ratuku! kenapa tatapanmu seperti itu? jangan membuatku jadi tegang," pintanya.
Saat mendengar apa yang Firdaus katakan barulah Miftah menatapnya secara biasa.
"Maaf Kaka, ada hal ingin ku tanyakan padamu hingga aku memintamu untuk masuk ke kamarku." responnya yang masih tak ingin memalingkan tatapannya.
"Katakan saja," ucapnya mempersilahkan dengan kondisi tubuh yang sudah sedikit tenang.
"Kaka! Miftah cuma mau tanya sama Kaka, kenapa tadi Kaka tidak menjawab pertanyaan Miftah sama mama soal obat yang Kaka paksa untuk meminumnya tanpa penjelasan." beritahunya dan Firdaus jadi terdiam di buatnya.
"Oh... Jadi itu alasan kamu membawaku kesini Ratuku?" tanyanya memastikan.
"Ya! Kaka benar, aku hanya ingin tahu lebih jelas, soalnya kalau di sana aku tidak ingin kaka kena masalah jika memang sedang menyembunyikan sesuatu." ungkapnya.
Firdaus jadi terharu saat mendengar kata - kata Miftah, ia tak menyangka jika gadisnya sangat berniat untuk melindunginya.
Tanpa sadar kita tangannya sudah bergerak untuk memeluk Miftah erat.
Miftah sampai terkejut dibuatnya, tapi ia tidak berani untuk mendorong Firdaus saat ini.
"Ratuku! aku minta maaf! gara - gara aku kakimu jadi sakit kembali," ucapnya dengan suara serak.
"Lho! kok gara - gara Kaka? kan Kaka gak salah Kaka... Emang sakit kakiku ini sudah dari kemarin kadang - kadang suka muncul, jadi Kaka tidak perlu menyalahkan diri Kaka ya..." responnya ikutan sedih saat mendengar nada suara Firdaus.
Firdaus semakin mempererat pelukannya saat mendengar pembelaan Miftah padanya yang sama sekali tidak menyimpan pikiran buruk untuknya.
"Ratuku! kamu harus tau kalau ini semua salahku, tapi aku hanya memintamu untuk tidak memberitahukannya pada mama dan papa. Bisa - bisa mereka marah besar padaku Ratuku..." harapnya.
"Untuk apa aku harus memberitahukannya pada mama dan papa kak? lagian Kaka kan sudah memberikan ku obat, meskipun tadi aku sempat ragu dengan bertanya tapi ternyata setelah meminumnya beberapa menit yang lalu rasa sakit yang ada di kakiku jadi menghilang." bingungnya.
"Baiklah! tapi berjanjilah jika kau tidak akan mengatakan hal ini pada mama dan papa," pintanya sedikit bergetar.
"Baik! aku berjanji kak," responnya tanpa pikir panjang.
Setelah menghembuskan panjang baru Firdaus berniat untuk mengatakan semuanya, ada rasa trauma di dalam dirinya yang membuatnya jadi takut jika terlibat masalah dengan orang tuanya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇