
Dimalam hari Miftah masih sibuk mengumpulkan beberapa bahan yang harus ia siapkan untuk melamar kerja sebagai mandor besok. Mulai dari poto copy ijazah, KTP, dan beberapa hal lainnya yang perlu ia siapkan agar mudah diterima esoknya.
Kemarin sore ia sudah bersepakat dengan Firdaus untuk membantunya. Sang mata - mata tak jadi langsung diserahkan kekantor polisi untuk kerja sama dan diberi kesempatan. Awalnya Firdaus sempat menolak, namun karna Miftah sudah sangat memohon padanya mau tidak ia menyetujuinya.
"Ya ampun... Kenapa tadi sore aku gak langsung ketempat Poto copy yah abis sholat! kalau harus besok terus kan gak sempat," resahnya sambil memegang dahinya dan memijitnya pelan.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar rumah malam ini juga, lagian ini juga baru saja abis Isya dan ia pun telah menunaikannya.
Tanpa berpikir banyak ia pun langsung bersiap - siap untuk keluar rumah, ia menggunakan baju kaos warna hitam dengan rok hitam tak lupa jilbab segi empat berwarna coksu yang ia kenakan supaya tak hitam semua.
Ia membawa tas selempang berwarna hitam dan menggantungnya dipundaknya.
Sebelum keluar dari kamar ia sempat mengintip keadaan luar kamarnya, takutnya orang yang ia khawatirkan akan datang dan menghalangi langkahnya dan itu adalah hal yang paling menyebalkan baginya.
"Bismillah... Semoga aja gak ketahuan Kaka... Bisa - bisa huh! keluar undang - undang ciptaannya lagi," batinnya was - was.
Dengan perlahan ia membuka pintu kamarnya, lalu dengan hati - hati menggerakkan gagang pintu untuk menutupnya hingga tak terdengar suara yang besar.
"Sip... Sejauh ini masih aman," batinnya senang dan nasibnya sungguh tak menguntungkan saat langkah kakinya hendak menyentuh anak tangga, padahal ia baru saja ingin menurunkan satu kakinya.
"Hmmm... Malam - malam begini udah cantik ples rapi aja! mau kemana tu... Kok gak lapor dulu sama Rajamu... Untung Rajamu ini baik hati! kalau enggak! aku pasti akan memberikanmu pelajaran," ucapnya setelah menaruh sebelah telapak tangannya diatas pundak Miftah.
Miftah masih saja diam.
"Hai Ratuku! apakah kamu tidak mendengar kan apa yang Rajamu katakan tadi? apa perlu aku ulang lagi hmm? atau jangan - jangan ini bukan Ratuku lagi," racaunya.
Miftah masih diam membatu. Ia tidak berpaling. Dan juga tidak menjawab apa yang Firdaus tanyakan. Toh! ujung - ujungnya itu juga tidak berjalan sebaik apa yang ia harapkan.
Otak cantiknya terus saja berputar, mencari cara agar dapat terbebas dari kukungan predator yang siap memangsanya setelah berhasil menangkapnya.
"Kau masih berani mendiamiku ya Ratuku? apa kamu tidak takut jika nanti Rajamu ini murka kepadamu? bisa - bisa aku akan terus mengurungmu dirumah ini tanpa boleh keluar kemana pun meskipun mama dan papa mengizinkanmu," ancamnya.
Saat mendengar apa yang Firdaus katakan tadi baru Miftah berbalik badan menghadap kearahnya, ditangannya terdapat sebuah map yang berisi beberapa hal yang perlu ia Poto copy untuk lamaran kerjanya besok.
__ADS_1
"Kaka... Bisakah Kaka memberikanku sedikit kebebasan? apa Kaka gak capek terus mengawasiku? aku ini sudah besar kak! bukan anak kecil yang masih suka lari sana lari sini terus jatuh dan menangis," keluhnya.
"Baru sekarang kamu menjawab apa yang Kaka tanyakan sejak tadi, dari tadi kenapa kamu tidak menjawabnya langsung hah? perlukah sedikit ucapan ancaman agar kamu langsung meresponku?" geramnya.
"Kaka ku yang ganteng! seganteng - gentengnya pokoknya, adikmu ini hanya ingin keluar sebentar saja bukan untuk main keluyuran gak jelas terus mabuk ditengah jalan... Tapi adikmu ini hanya ingin ketempat poto copy! paham?" jelasnya sambil menatap bola mata abu - abu Firdaus.
"Kenapa kamu tidak memintaku untuk mengantarmu?" tanya Firdaus.
"Kaka... Lagian jarak ketempat Poto copy juga gak terlalu jauh dari sini, jalan kaki aja sebentar sudah sampai dan aku juga tak ingin merepotkanmu! kan ini juga sudah masuk waktu istirahat bagi Kaka... Gak capek apa seharian tadi tungguin aku sampai pegal didalam mobil?" ucapnya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Ya kalau untuk kamu ya aku gak bakalan capek," gombalnya.
Miftah yang hanya mampu menepuk keningnya pelan saking pusingnya dengan tingkah Firdaus yang semakin hari semakin terlihat begitu bucin.
"Kaka... Dulu kayaknya Kaka selalu cuek dan gak peduli denganku yang ingin kemana kek kemana, bahkan Kaka pun tidak pernah menyapa ku saat berpapasan denganmu ketika aku baru pertama kali menginjakkan kakiku kesini. Jangankan menyapa! melihatku saja Kaka tampak enggan," herannya dan Firdaus hanya diam saat Miftah mengungkapkannya.
Firdaus tak menyangka ternyata Miftah segitu rincinya memerhatikannya, ia sebenarnya sangat menyesal dengan sikapnya dulu yang sangat acuh kepadanya, tapi ia bersyukur karna ia belum terlambat untuk mengubah semuanya karna ikatan pernikahan belum terikat diantara mereka.
"Jangan bahas lagi masa lalulah Ratuku... Rajamu ini dulu masih terlalu sibuk dengan banyaknya berkas yang menggunung diatas meja... Jadinya kan agak setres kepalaku ini," alasannya sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal.
"Ya udah... Kalau alasannya seperti itu bisa ku terima," responnya sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.
"Ya ampun... Ratuku imut banget sih... Kan Rajamu ini jadi gemas liatnya..." senyumnya sambil mencubit pelan hidung Miftah.
"Jadi! boleh ya? boleh ya..." rengeknya sambil memanyunkan bibirnya.
"Huh!" hembusnya pelan.
"Oke! karna kamu berhasil meluluhkan hati Rajamu! malam ini aku mengizinkanmu keluar," ucapnya sambil memijat dagunya pelan dengan sebelah tangannya.
"Yuhu... Berhasil - berhasil yes!" seru nya sambil menirukan nada Dora.
"Eisst! jangan senang dulu... Pasti ada syaratnyalah Ratuku..." ucapnya yang langsung membuat kesenangan Miftah jadi hilang bagai ditiup angin dan hanya dapat dirasakan sementara.
"Ya ampun... Kakaku ini ternyata sungguh pelit ya untuk adiknya sendiri... Posesif banget sih jadi Kaka! pantesan yang lainnya pada kabur karna punya Kaka seperti ini," resahnya sambil menggerakkan sedikit tubuhnya.
Tanpa sadar kaki Miftah yang awalnya sudah naik kini hendak turun ke anak tangga dengan tubuh yang masih menghadap kedepan. Itu sungguh membuat keseimbangannya hilang dan ia berusaha menyesuaikan keseimbangannya kembali yang hampir terjungkal kebelakang.
__ADS_1
"Eh!"
"Eh!"
"Eh!"
Ucapnya dengan tangan yang sudah melebar, dengan sigap Firdaus pun langsung menahannya dipinggangnya, lalu memeluknya erat, ia memindahkan Miftah kebelakang nya hingga ia jadi sedikit jauh dengan tangga.
Dengan jarak sedekat itu membuat mereka mampu merasakan detakan jantung mereka satu sama lain, mata abu - abu yang sama mulai bertemu disatu titik.
Saking terkejutnya Miftah bahkan sampai melingkarkan tangannya dileher Firdaus begitu erat. Ia baru melepaskannya saat Firdaus telah menurunkan tubuhnya yang sedikit terangkat tadi.
"Deg!"
"Deg!"
"Deg!"
Bahkan saat mereka sudah sedikit menjauh dan menjaga jarak antara keduanya detak jantung mereka masih saja berdetak begitu kuat, rona merah yang sedikit memanas tampak jelas terlihat dibalik wajah mereka yang kini sudah menghadap kearah lain.
Tubuh mereka saja sudah terasa sangat kaku. Namun, ada sebuah perasaan bahagia yang terus bermekaran dihari mereka untuk saat ini.
"Ma - makasih ya Kaka..." ucap Miftah sedikit terbata - bata karna masih merasa syok akibat kejadian tadi.
Firdaus sedang berusaha mengontrol dirinya sendiri. Detak jantung yang terus berdengup kuat ini begitu menyiksanya dan hal ini sudah pernah ia rasakan berulang kali saat ia menatap dalam bola mata Miftah yang tampak teduh itu.
Setelah menarik nafas berat, baru Firdaus mengangkat suara.
"Sudah... Tidak apa - apa kok! kamu tidak perlu khawatir oke! lebih baik kamu tunggu aku disini sebentar karna syaratnya kamu harus aku temani," jelasnya lalu sedikit tergesa - gesa berjalan menjauh dari hadapan Miftah.
Tubuhnya sedikit lemas, setelah sampai kedalam kamarnya ia langsung menutup pintu lalu bersender padanya, ia mulai memegang dadanya yang masih tak berhenti berdetak kuat.
"Kenapa lagi - lagi harus ini yang aku rasakan saat bersamamu? aku sebenarnya tak ingin berpisah dengan mu nantinya setelah kau tau kebenarannya Miftah... Tapi kamu harus tau! bahwa hatiku sekarang lebih berat mengarah ke arahmu," resahnya lalu menyambar asal salah satu jaketnya yang tergantung digantungan yang letaknya tak jauh dihadapannya.
Usai mengenakannya dan menghembuskan nafas pelan baru ia keluar untuk menemui Miftah.
"Nah! aku sudah siap! ayo kita pergi sekarang sebelum malam terlalu larut," ajaknya sambil menarik tangan Miftah untuk mengikutinya, Miftah yang masih mematung usai kejadian tadi hanya menurut tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
Kini mereka mulai menuruni anak tangga dengan posisi Firdaus yang berada lebih depan dihadapan Miftah.