
Firdaus dan sang papa baru saja selesai melaksanakan sholat Dzuhur usai azan tadi. Mereka mulai melangkahkan kaki mereka keluar dari tempat penginapan, melewati jembatan setapak yang ada di atas laut.
"Pa... Sepertinya Firdaus sudah mulai lapar nih pa."
"Iya... Papa juga sama nih! saking asyiknya berenang kita sampai gak sadar kalau kita udah menguras tenaga kita begitu banyak,"
"Kira - kira kalau panas begini enaknya makan apa ya pa?"
"Ya sudah tentu es krim lah!"
"Jangan makanan pencuci mulut dulu lah..."
"Terus apa juga dong?"
Dari kejauhan terlihat om Anggara setengah berlari kearah mereka.
"Woy! Alterio! Alterio!" teriaknya.
Sesampainya didepan mereka ia tanpa sadar langsung melayangkan pukulan pada bahu temannya.
"Plak,"
"Jeh! datang - datang udah langsung bawa pukulan! ada apa sih kamu sob?"
"Hah... Hah... Hah..."
Om Anggara masih mencoba untuk mengatur nafasnya yang masih naik turun tak beraturan.
"Kamu ini udah kayak mantan pelari tercepat aja! apa - apa harus tergesa - gesa,"
Papa Firdaus tak habis pikir dengan sikap temannya yang satu ini, ia memang terlalu heboh sejak dulu. Namun, karna hal itulah ia banyak disukai oleh temannya yang lain, sehari saja ia tidak masuk kelas pasti akan dipertanyakan, karna kelas akan berasa seperti kuburan tanpa kehadirannya.
"Ingat umur! udah tua! udah punya cucu! tuh pinggang encok baru tau," canda papa Firdaus dan temannya masih mangacuhkannya.
"Ni anak kita ajak ngomong malah diem aja! sawriawan ya mulutmu?"
"Berisik!"
"Situ yang berisik dari tadi teriak - teriak aja kayak ada yang kelelep ditelan tanah! malah aku yang dibilang berisik."
"Au ah! au ah! pusing nafasku,"
"Nafas kok malah pusing,"
"Ya pusing lah dia! baru juga mau tenangin diri dia biar gak naik - turun kayak per ayunan bayi udah kamu interogasi duluan aja,"
"Je... Gitu aja pun darahmu langsung naik! mana ada pelawak cepat baper,"
"Ada kok! kamu aja yang kurang perhatian."
__ADS_1
Om Anggara hanya mendengus usai mengucapkan kalimatnya, dia benar - benar sudah dibakar api emosi oleh temannya itu meskipun temannya sama sekali tidak menyadarinya.
"Jadi ada tujuan apa kamu tadi lari - lari begitu hah?"
Papa Firdaus mengangkat sebelah alisnya.
"Oh... Itu karna aku ingin mengajak kalian untuk makan bersama dipinggir pantai,"
"Ya ampun... Cuma gara - gara itu kamu harus lari toh?"
Papa Firdaus sangat tak menduga jika temannya sampai segitunya, padahal makanan itu kan bukan hanya untuknya.
"Sudah... Lebih baik ayo kita kesana saja! nanti makanannya keburu dingin lagi,"
"Baiklah."
"Oh iya! itu makanannya kamu tinggalin gitu aja dipinggir pantai? entar kalau ada elang lewat terus nyambar makanan kita gimana?"sambung papa Firdaus.
"Ya ampun... Kamu benar! hadeh... Kasian ayam goreng kremesku... Aku sudah tak sabar mencicipinya! nanti malah duluan sang elang lagi."
Om Anggara tanpa ba bi bu langsung berlari ketempat semula, tanpa pamit terlebih dahulu, sekarang yang ada dipikirannya cuma satu.
"Ayam, ayam dan ayam."
Papanya dan Firdaus hanya mampu menggeleng - gelengkan kepala melihat tingkah om Anggara yang begitu candu dengan ayam goreng kremes yang memang sangat terkenal kelezatannya disekitar pantai ini, lagian tadi ia hanya bergurau saja dengan ucapannya yang begitu mudah dipercaya oleh temannya hingga ia dan Firdaus hanya terkekeh melihatnya.
Tanpa pikir panjang mereka langsung mengikuti jejak om Anggara yang sudah berlari tanpa melihat kiri kanan, hampir saja ia menabrak orang yang sedang berlalu lalang ditempat nya.
Sesampai disana mereka dapat melihat jelas bahwa om Anggara sudah duduk diatas daun sambil meluruskan kakinya dengan nafas yang tak beraturan, wajahnya sudah merah padam.
"Kamu udah kayak orang abis lari maraton aja!"
Om Anggara yang sempat terkejut saat mendengar ucapan mendadak dari seorang pria yang sebaya dengannya hanya mampu menatap malas pada sang pemilik suara.
"Sudahlah! jangan banyak sekali bicara! perutku sudah berkokok nih sejak tadi! mana kalian dandannya lama banget lagi didalam, mirip ondel - ondel pun enggak itu muka setelah lama mengeram disana."
Sang papa dan Firdaus lagi - lagi hanya merespon dengan suara tawa yang lumayan besar saking lucunya, intinya kalimat apa saja yang di ucapkan orang biasa akan terasa lebih bernada jika di ucapkan oleh temannya itu.
"Hahaha! ternyata kau sudah sangat lapar ya sob! napa harus nunggu kami segala?"
Om Anggara hanya menyengir kuda.
"Enggak apa - apa kok! ini kokokan ayamnya sudah saya sumpal mulutnya dengan cacing perut,"
Dan itu kembali meledakkan tawa sang papa dan Firdaus.
"Kalian dari tadi kerjaannya cuma hahaha! hihihi! enggak capek apa? itu perut kalian kebal juga yah nahan sakitnya,"
Tunjuk om Anggara kearah perut mereka satu persatu.
__ADS_1
"Oh tenang om... Perut kami sudah kebal dari tadi diajak ketawa mulut sama mulut om,"
Om Anggara malah bertambah heran, akibat perutnya tak bisa diajak kompromi sejak tadi pikirannya jadi tidak nyambung.
"Hadeh... Perut kok kebal!"
"Ya bisalah om! kan dibisa - bisain,"
"Ya sudah... Terserah kamu!"
"Nah... Gitu dong om! Kan lebih baik."
"Terpaksa aku yah! kalau bukan perutku yang membuat konterasiku jadi hilang! aku pasti akan lawan debat nanti denganmu seperti biasa."
Firdaus hanya terkekeh sesaat.
"Oh... Jadi gitu,"
"Oh... Jadi gitu! ya iyalah! masak iya! oh... Jadi gak gitu..." ucap om Anggara sambil meniru sedikit ucapan Firdaus untuk meledeknya.
"Sudah... Kamu pun Anggara udah kayak anak kecil aja! sama Firdaus pun mau kamu aja perang mulut! kamu sebenarnya cewek cowok sih?" tanya sang papa saking tak habis pikir dengan sikap temannya itu.
"Bencong!!!" geram om Anggara.
"Lagian ya om... Ini kan udah zaman modern... Harusnya tadi om telpon papa aja! jadi kan lebih gampang dari pada lari sini lari sana! ingat ini! ingat itu! terus ini lagi, mana ada cowok dadan yang ada malah dikira bencong lagi! hadeh... Om... Om... Ada - ada aja om ini!"
"Suka - suka!"
Om Anggara hanya menjawab dengan acuh ucapan panjang lebar Firdaus yang dirasa sepanjang sungai Nil.
"Gini nih kalau terlalu banyak lawak, sekali serius aja beneran kayak orang kesambet."
Om Anggara hanya mampu memberikan kontakan mata tajam pada temannya itu, tapi ia memilih berpaling kearah lain saat papa Firdaus membalasnya dengan tatapan mata yang lebih tajam darinya.
Mata om Anggara aja berasa dicongkel tanpa darah olehnya. Namun, ia lebih memilih untuk bersikap biasa.
"Kalian mau sampai kapan berdiri begitu? sampai besok tah?"
Sang papa dan Firdaus yang tak ingin membuat om Anggara semakin memanas memilih untuk langsung duduk diatas daun juga.
Kini mereka mulai makan makanan yang sudah disediakan dengan hikmat, makanan yang mampu membuat lidah tak berhenti memohon meminta lebih saking nikmatnya.
Ditambah suasana pantai yang pemandangan nya mampu menghipnotis orang yang melihatnya jadi tak ingin berpaling dari hamparan laut biru yang tampak berkerlap kerlip tat kala cahaya matahari memantul menebus kedalaman laut.
Angin sepoi - sepoi yang berhembus meniup rambut depan mereka, hingga sedikit bergoyang kesana kemari dan mampu membuat rasa gerah mereka jadi menghilang dalam sesaat.
Beginilah mereka, duduk bertiga menghadap kearah lautan sambil memakan hidangan mereka masing - masing, usai melakukan Scuba diving benar - banar membuat tenaga mereka habis terkuras saking dalamnya mereka berenang.
__ADS_1
Dan karena itulah selera makan mereka jadi lebih meningkat dari pada biasanya saat dirumah atau pun pergi bekerja.