Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 123


__ADS_3

Keesokan paginya Miftah sudah terbangun dari tidurnya, dengan hati - hati ia mulai membuka balutan perban yang ada di kakinya.



     Dengan langkah yang sedikit tertatih Miftah mulai berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


     Usai dengan urusannya di kamar mandi ia pun langsung melaksanakan ibadah sholat subuh lalu mengaji sebentar.


     "Tok! tok! tok!"


     Suara ketukan pintu membuat Miftah harus menunda membaca ayat suci tersebut.


     "Krek,"


     Suara pintu terbuka mulai terdengar dan terlihatlah Firdaus yang sedang berdiri menatap Miftah.


     "Ada apa Kaka?" tanyanya sambil membalas tatapan Firdaus.


     "Kamu lagi ngaji ya?" bukannya menjawab pertanyaan Miftah Firdaus malah balik bertanya.


     "Iya Kaka... Tapi ada hal apa hingga membuat Kaka mengetuk pintu kamarku jam segini?" tanyanya.


     "Lah! emangnya gak boleh tah? orang aku ada perlu sama kamu," ucapnya sedih.


     "Ih... Bukan gitu Kaka... Tapi kan kalau pagi Miftahnya agak sibuk..." responnya merasa tidak enak.


     "Yaudah Kaka minta maaf karna udah mengganggu waktumu," ucapnya.


     "Kaka gak perlu minta maaf... Mungkin aja Kaka beneran mau bilang sesuatu..." responnya.


     "Gak papa kalau kamu lagi sibuk... Nanti aja," ucapnya hendak pergi tapi di cegah oleh Miftah.


     "Eh! Kaka! tunggu - tunggu," ucapnya.


     Firdaus tak menjawab keinginan Miftah, ia hanya membalikkan badannya saja.


     "Kalau gitu gimana kalau kita bicaranya di ruang tamu aja," usulnya.


     "Terserah kamu... Aku mau kekamar aja dulu," ucapnya hendak pergi.


     "Ngapain?" tanya Miftah.


     "Ya ngapain aja," jawabnya acuh.


     "Udah... Sekarang Kaka tunggu aku aja di sofa dulu yah... Abis aku ngaji dikit lagi aku akan samperin Kaka terus..." pintanya.


     "Jangan lupa ya?" peringatnya.


     "Iya Kaka..." jawabnya sambil tersenyum.


     Firdaus juga balas tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju ketempat yang sudah Miftah suruh.


     Beberapa menit kemudian Miftah pun sampai di ruang tamu.


     "Akhirnya Ratuku datang juga, sini duduk." ucapnya sambil menepuk sofa disampingnya.


     "Baik Kaka," jawabnya menurut.

__ADS_1


     Setelah Miftah duduk baru Firdaus membuka topik pembicaraan.


     "Ratuku! apakah kamu tau bahwa hari ini hari apa?" tanyanya.


     "Tidak," jawabnya sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


     "Ratuku! hari ini sebenarnya adalah hari pernikahan kita berlangsung, tapi karna suatu hal Kaka dan mama juga papa memutuskan untuk menunda hari pernikahan kita." jelasnya.


     Miftah sangat terkejut saat mendengar apa yang Firdaus ucapkan.


     "Jadi kapan kita akan menikah kak?" tanyanya.


     "Kita akan menikah setelah masalahmu selesai Ratuku," jawabnya sambil tersenyum.


     "Apa kaka tidak keberatan?" tanyanya lagi.


     "Sama sekali tidak, karna Rajamu ini sangat tidak ingin melihat Ratunya murung di hari kebahagiaannya hanya karna orang yang Ratunya sayangi tak kunjung hadir." jawabnya sambil menatap Miftah dalam.


     "Makasih banyak ya Kaka..." ucapnya terharu.


     "Sama - sama Ratuku! dan aku pasti akan membantumu untuk keluar dari permasalahanmu ini," ucap Firdaus serius.


     Saking bahagianya Miftah tanpa sadar sudah memeluk Firdaus dengan sangat erat.


     Air matanya sudah tumpah membasahi pipinya.


     "Ratuku! kenapa kamu menangis?" tanyanya cemas lalu menghapus air mata yang mengalir turun ke pipi Miftah.


     "Aku hanya terharu dengan kebaikan Kaka... Aku bersyukur banget bertemu dengan pria seperti Kaka, aku harap Kaka memang jodohku dan tak akan pernah menghianati cinta kita nanti." ungkapnya yang sukses membuat Firdaus mematung.


     Firdaus balas memeluknya, ia tidak bisa berkata apa - apa, matanya ikut berkaca - kaca.


     "Aku gak tau apakah kamu mau bersamaku lagi atau tidak jika semua telah terbongkar dan aku sangat ingin kamu menyimpulkan itu semua dengan hatimu bukan dengan egomu," batinnya lagi.


     "Karna aku gak mau kehilangan kamu Miftah! selagi kamu masih ada dalam genggamanku, aku tak akan pernah berhenti memberikan kebahagiaan untukmu." tekatnya.


     Saat sadar Miftah langsung melepaskan pelukannya.


     "Maaf," ucapnya sambil menunduk.


     "Sudahlah Ratuku... Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu," responnya sambil memegang kepala Miftah yang di tutupi jilbab.


     "Ya aku hanya tidak enak karena udah peluk Kaka tanpa izin," jelasnya.


     Firdaus hanya tersenyum.


     "Ratuku! itu tidak masalah bagiku, dan itu adalah hal yang sangat aku inginkan! sebuah pelukan hangat yang mampu membuatku tenang mau pun dirimu. Seandainya kau telah menjadi istriku aku mungkin akan sering memelukmu," ucapnya hingga membuat Miftah sangat tersipu saat mendengarnya.


     "Oh iya! Ratuku, kamu bisa buat bakwan gak?" tanyanya.


     "Bisa kak! kenapa?" jawabnya balik bertanya.


     "Boleh gak kamu buatkan untuk Rajamu ini?" tanyanya dan Miftah langsung mengangguk tanda setuju.


     "Ya sudah! ayo ikut Miftah ke dapur kak," ajaknya sambil menarik tangan Firdaus.


     "Eh! hapus dulu dong sisa air matanya... Nanti kalau jatuh ke adonan bisa - bisa ikutan asin lagi," guraunya sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


     "Hahaha Kaka ini bisa aja," responnya kalau langsung menghapus bekasan aliran matanya hingga tak terlihat lagi.


     "Bagaimana?" tanya Miftah sedikit mengadahkan wajahnya yang telah kembali berseri.


     "Nah! ini baru Ratuku yang ceria," senangnya lalu mencubit pelan batang hidung Miftah.


     "Duh... Kaka kebiasaan banget deh..." dengusnya sambil mengelus pelan bekas cubitan Firdaus.


     "Padahal kan cuma di cubit gitu doang... Memang manja ya Ratuku ini," ledeknya.


     "Mana ada," elaknya sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.


     "Jadi gak nih makam bakwan gorengnya?" tanya Miftah sambil menatap malas kearah Firdaus.


     "Ya jadi dong! masak iya gak jadi sih..." jawabnya.


     "Tapi senyum dulu dong..." pintanya sambil tersenyum lebar.


     "Iya Miftah bakal senyum nih... Udah kan?" tanyanya dan kini malah Firdaus yang menarik tangan Miftah ke dapur usai mendapat sebuah senyuman.


     Sesampai di dapur mereka mulai sibuk mencincang sayur seperti beberapa lembar kol dan daun bawang.



     "Kaka... Itu Kaka cincangnya terlalu besar tau... gimana cara makannya nanti..." tegur Miftah yang kini sudah mengambil alih benda dari tangan Firdaus.


     "Ya aku tau kalau urusan dapur kamu emang jagonya... Tapi aku hanya ingin membantumu agar cepat siap," jelasnya.


     "Baiklah biar aku yang kasih tugas untuk Kaka," ucapnya.


     "Apa itu?" tanyanya Firdaus girang.


     "Gimana kalau Kaka kupasin wortel terus Kaka parut juga," usulnya.


     "Setuju," responnya sambil mengangkat satu tangannya dengan jari tunjuk yang ia acungkan.


     "Kalau itu ma urusan gampang," sambungnya lagi.


     "Jadi mana wortelnya?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Miftah.


     "Yaudah... Kaka bisa ambil wortelnya di dalam kulkas yang ada ditempat sayur ya..." beritahunya.


     "Oke Ratuku... Siap laksanakan." responnya sambil membentuk isyarat tangan berbentuk oke.


     Akhirnya mereka mulai sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing - masing, tak jarang Miftah hanya tertawa saat melihat Firdaus yang sedikit kesusahan untuk mengupas kulit wortel menggunakan alat parut.



     "Kamu Ratuku bukannya di semangatin Rajamu malah di ketawain mulu," ucap Firdaus merajuk sambil memanyunkan bibirnya.


     "Hahaha maaf - maaf... Kalau begitu semangat ya Rajaku..." responnya hingga membuat Firdaus kembali tersenyum lebar.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2