
Kini Zaldira mulai mencari akal agar dapat berbicara hanya dengan Zamrud seorang. Ia berpikir cukup keras hingga alisnya tampak terus bertambrakan beberapa kali.
Zamrud yang tak sengaja melihat tingkah Zaldira jadi menimbulkan beberapa tanda tanya di pikirannya.
"Zaldira kenapa ya? kok sejak tadi ia tampak begitu berpikir keras," batinnya merasa heran.
Tanpa pikir panjang ia meminta izin pada orang tua Zaldira untuk langsung mengantar Zaldira ke tempat penitipan barang berat yang akan di bawa melalui pesawat angkutan barang lainnya.
Ibu dan Ayah Zaldira hanya mengangguk dan langsung masuk duluan ke dalam gedung, sedangkan Zamrud yang sedang malas untuk mengangkat suara hanya mengambil alih koper yang Zaldira seret tadi sambil menarik sebelah tangannya dengan satu tangan kanannya yang menganggur.
"Eh! Kaka kenapa sih main tarik - tarik Zaldira aja?" tanyanya merasa heran.
"Harusnya Kaka tau yang tanya sama Kamu yang sejak tadi sibuk mengerutkan dahi akibat berpikir keras," responnya.
"Aku? berpikir keras?" bukannya menjawab ia malah mengeluarkan pertanyaan konyol.
"Ya ampun Za... Sudah jelas - jelas kalau kamu sejak tadi itu sedang berpikir keras... Masih aja suka ngelak ya," resahnya tak habis pikir.
"Ya memangnya kenapa kalau aku emang lagi berpikir keras hah?" sewotnya.
"Je... Di tanya malah sensi aja kamu ini," resah Zamrud sambil memegang dahinya.
"Ya maaf Kaka... Namanya aku tadi lagi sibuk," responnya sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.
"Sibuk? sibuk apa kamu selain mau naik pesawat nantinya Zaldira..." herannya.
"Ya sibuk mikir lah Kaka," jawabnya sambil memegang kepalanya.
"Hadeh... Mau berangkat kamu gak perlu banyak mikir lagi, nanti yang ada jadi bengong. Pas naik pesawat malah salah masuk mau emang?" tegurnya.
"Iya deh iya..." angguknya patuh.
"Oke, kalau gitu ayo ikut Kaka untuk antarin koper kamu." ajaknya.
"Tapi ibu sama ayah gimana?" tanyanya yang tak menyadari jika Zamrud sejak tadi sudah menyuruh mereka ke gedung saja, sebab ia yang akan menemani Zaldira memberikan kopernya.
"Udah pergi duluan," jawabnya cepat.
"Lha! pergi kemana? apa udah pulang duluan? yang benar saja," resahnya sedikit kesal.
"Duh... Udah deh gak perlu banyak mikir lagi, sekarang kamu pokonya ikut Kaka aja oke." putusnya yang tak ingin di bantah.
"Tapi-" ucapan Zaldira terpotong.
"Sssstttt! jangan ucapankan apa pun, kamu cukup gunakan kakimu untuk mengikuti saja. Tidak dengan mulutmu," responnya sambil menatapnya tajam.
Zaldira sampai bingung di buatnya. Karna ia sedang tidak ingin berpikir panjang, ia pun hanya menurut dan tanpa sadar sekarang cara inilah yang membuatnya bisa dekat dengan Zamrud saja tanpa perlu mencari banyak trik lagi.
Zaldira yang awalnya masih tampak bengong, tiba - tiba tersadar dengan tujuannya saat suasana yang sedang ia lewati bersama Zamrud lumayan sunyi.
"Kak," ucap Zaldira saat mereka hampir sampai ke tempat memberikan barang bawaan yang berat.
__ADS_1
Zamrud yang mendengar panggilan dari Zaldira langsung menoleh ke arahnya.
"Iya Zaldira ada apa?" tanyanya sambil menghadap kearahnya dengan langkah kaki yang masih berjalan.
"Abis kita menaruh koper bisakah kita bicara sebentar di samping gedung ini?" tanyanya ragu - ragu.
"Boleh kok, tapi kenapa mesti di samping gedung? kan bisa sekarang bicara langsung aja." heran Zamrud.
"Ih... Intinya nanti aja udah," putusnya tak ingin di bantah.
"Hmm... Baiklah kalau begitu, gimana maunya kamu aja." responnya lalu kembali menarik Zaldira masuk ke dalam ruangan.
Usai menaruh koper baru mereka berjalan ke samping gedung yang tampak begitu sunyi. Pandangan Zaldira mengarah ke beberapa tempat. Berharap tidak ada Cctv yang memantau mereka nantinya.
Memang ia tidak akan berbuat hal yang tak semestinya dengan Zamrud, tapi tetap saja ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan bagi yang lainnya.
"Baik, kita sudah berapa di samping gedung. Sekarang kamu mau ngomong apa Zaldira sama aku?" tanya Zamrud.
"Sebenarnya ini gak terlalu penting sih... Aku cuma mau kasih Kaka ini," ucapnya sambil mengambil Syal yang melingkar di lehernya.
Sebelum memberikan kopernya Zaldira lebih dulu mengambil Syal yang letaknya di bagian paling atas dan melingkarkannya di lehernya.
Zamrud juga tidak bertanya karna ia berpikir jika itu hanya untuk menghangatkan Zaldira saja ternyata bukan sama sekali.
"Kak, ini adalah Syal yang aku buat seharian penuh hanya untuk Kaka. Aku harap ini mampu mengobati rasa rindu Kaka selama aku keluar negri, maaf jika hasil rajutanku masih hancur. Lagian waktuku tidak banyak untuk membuat ini," ucapnya sambil menyerahkan Syal tersebut ke arahnya yang masih tampak mematung.
"Iya Kaka... Zaldira serius... Itu benar - benar Zaldira yang rajut tau..." jawabnya meyakinkan.
"Dalam sehari?" tanyanya lagi.
"Hadeh... Iya kakaku sayang... Itu Zaldira rajut cuma sehari... Khusus buat Kaka terbaik." jawabnya sambil tersenyum lebar.
Zamrud sangat senang mendengarnya hingga tanpa sadar ia langsung memeluk Zaldira dan membawanya berputar sambil terus tertawa.
Zaldira yang sempat kaget jadi ikutan tertawa akibat sikap Zamrud kepadanya.
"Ya Allah Kaka... Udah... Udah cukup putar - putarnya... Nanti Kaka pusing," pinta Zaldira.
"Aku gak bisa berhenti Za... Tubuhku begitu bahagia," jawabnya asal.
"Tubuh? bukannya hati Kaka?" tanya Zaldira membenarkan dan masih menikmati putaran ringan yang Zamrud berikan.
"Hehe, iya hati maksudnya." jawabnya sambil terkekeh pelan.
"Oke kalau gitu udah cukup sekarang putarnya ya..." pintanya.
"Aku mau kamu memohon dulu," tolak Zamrud.
"Untuk apa? je... Enggak ah," responnya merasa enggan.
__ADS_1
"Yaudah kalau kamu gak mau memohon dengan gaya imutmu aku tidak akan memurunkanmu Zaldira," ancamnya.
"Baik - baik, Kaka sayang cepat turunkan Zaldira ya... Zaldira takut kalau Kaka putar - putar terus..." ucapnya sambil menyipitkan matanya dan memanyunkan bibirnya.
Karna sukses membuat Zamrud merasa gemas akhirnya putaran itu berhenti dan kaki Zaldira jadi dapat bertemu dengan tanah kembali.
"Alhamdulillah... Turun juga akhirnya," syukurnya.
"Kenapa? takut ya kamu Kaka gendong?" tanyanya menyelidik.
"Enggak kok... Cuma khawatir aja nanti takutnya Kaka pusing terus malah jatoh..." jawabnya seadanya.
"Cieee... Cieee... Ada yang perhatian nih," godanya.
"Aku kan memang perhatian sama Kaka, kakanya aja yang kadang cueknya mengalahkan ikan lele." ucapnya tak jelas.
"Hahahaha ada - ada aja kamu Zaldira... Zaldira," tawa Zamrud ambil mencubit gemas sebelah pipinya.
"Au! sakit tau... Emangnya pipi Zaldira kaka kira bakpau apa?" dengusnya sambil mengelus pipinya.
"Iya, saking gemasnya pengen Kaka gigit." guraunya.
"Essstt... Jangan dong... Kaka ini enggak - enggak aja," cegahnya.
"Hahaha kamu ini jangan serius - serius gitu dong... Kaka kan hanya bercanda, sudah kamu pasangkan saja syalnya ke leher Kaka ya..." pintanya memohon.
"Hadeh... Emang ya dasar Kaka manja, padahal Kaka kan bisa pakai sendiri." resahnya sambil memegang dahinya.
"Ya kan Kaka pengen di pakein sama gadis tercantik Kaka sebelum pergi ninggalin sampai beberapa tahun," sedihnya.
Zaldira yang paham langsung menyuruh Zamrud sedikit menunduk agar ia mudah mengalungkan Syal ke lehernya.
Setelah di rasa pas ukuran panjangnya ia langsung melilitkannya di leher Zamrud.
"Nah! sudah ya Kaka," ucapnya girang.
"Makasih banyak ya Zaldira... Kaka sangat senang... Syalmu sangat nyaman dan hangat... Senyaman dan sehangat dirimu juga," gombalnya sambil memegang Syal yang melilit lehernya itu.
"Hahaha Kaka ini bisa aja, yaudah ayo kita ke ibu dan ayah. Kasian ibu sama ayah pasti udah nungguin kita lama," ajaknya yang di angguki cepat oleh Zamrud.
"Baiklah Za, ayo." responnya lalu kembali menggandeng tangan Zaldira untuk berjalan beriringan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1