Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 187


__ADS_3

     Di meja makan semua terasa begitu hening, tak ada yang mengangkat suara. Jannah juga masih tak ingin banyak bicara karna ia benar - benar berusaha menenangkan dirinya untuk nanti malam.


     Usai acara makan siang Jannah langsung kembali ke kamar, ia tak mendengar panggilan Firdaus kepadanya di belakang.


     "Jannah, kamu kenapa tampak murung saja? apa sekertaris ku itu masih menjahatimu?" tanya Firdaus merasa cemas.


     Jannah cukup kaget saat mendengarnya, entah dari mana Firdaus bisa mengetahuinya.


     Memang wajah Jannah tampak murung, tapi bukan karna apa yang di tebak oleh Firdaus. Meskipun apa yang di katakannya kemarin itu sempat membuatnya ikutan resah.


     "Enggak mas, bukan karna hal apa - apa." jawabnya setelah terdiam cukup lama.


     "Jannah! aku mohon sama kamu untuk tidak menutupi masalahmu, kalau ada yang jahat bilang saja padaku. Aku pasti akan melindungimu sebagai suamimu," jelasnya hingga membuat Jannah bergitu terharu saat mendengarnya.


     Jujur hati Jannah begitu tersentuh, sempat terbesit dari hatinya untuk tak jadi meninggalkan Firdaus karna perubahan sikapnya yang tampak sudah benar - benar bisa menerimanya.


     Tapi ia kembali menggelengkan kepalanya, keputusannya sudah tak dapat di ganggu gugat lagi. Ia tak ingin jika nanti malah jatuh semakin dalam ke dalam pesona Firdaus.


     Sudah cukup selama dua tahun ia hatinya begitu tersiksa akibat perubahan sikap Firdaus yang entah kenapa jadi dingin terhadapnya, hingga lebih banyak mengunci diri sampai jarang berbicara meskipun dengannya bahkan orang tuanya.


     "Mas! bukannya aku tadi sudah bilang sama kamu, kalau aku itu gak kenapa - napa mas." elaknya.


     "Tapi aku tidak percaya jika kamu baik - baik saja Jannah, aku dapat melihatnya dari matamu. Kau tampak tertekan. Tapi tenang saja, sekertaris ku itu sudah aku pecat demi kamu." beritahunya.


     "Lho kok demi aku mas? bukannya dia sangat handal dalam membangun perusahaanmu? bagaimana dengan tugasmu nanti jika tidak di bantu olehnya?" tanya Jannah merasa heran.


     "Jannah, aku tidak habis pikir ya sama kamu. Kenapa kamu hanya diam saat diri kamu di tindas hah?" bukannya menjawab Firdaus malah baik bertanya.


     "Karna aku tidak mau memperbesar masalah mas, memang dia ingin agar kamu menceraikanku. Tapi semua trik yang ia lakukan baru melalui ancaman saja, aku yakin rumahmu pasti di jaga dengan sangat ketat dan ia juga was - was akan hal itu." jawabnya.


     "Tapi tetap saja kamu harus kasih tau aku Jannah... Kalau sampai nanti kamu keluar rumah, tiba - tiba ketemu sama dia pasti dia akan mencelakaimu. Awalnya aku juga tak menyangka jika sifatnya begitu buruk, namun semua itu terbukti saat aku mendengar sendiri apa yang ia ucapkan." resahnya.


     "Ya sudah mas, aku sedang tak ingin membahas ini dulu. Sekarang kalau mas masih cepek, mas silahkan istirahat lagi aja ya... Nanti pas azan ashar aku akan bangunin mas kok," tawarnya.


     Firdaus mulai mengangguk, memang benar apa yang Jannah katakan. Ia memang lebih merasa lelah saat sekertarisnya tidak ada, untuk besok ia pasti akan mencari sekertaris yang baru.


     "Baiklah, kalau gitu aku mau lanjut istirahat dulu ya sayang." ucapnya sambil mencium dahi Jannah, tangannya juga mengelus puncak kepalanya penuh sayang.


     Jannah kini jadi membeku di tempat, sudah lama Firdaus tak memperlakukannya semanis ini.


     "Mas, kenapa kamu malah semakin manis di saat niat hatiku benar - benar ingin melepasmu mas? lebih baik kamu kembali dingin saja agar hatiku tidak terlalu merasakan sakit mas." batinnya menjerit.

__ADS_1


     Tanpa Jannah sadari matanya mulai berair. Sebelum mengalir di pipi ia langsung menghapusnya cepat. Ia juga terus menguatkan batinnya untuk mengatakan kata perpisahan nanti malam dan menolak untuk di minta hak oleh suaminya.


     Kini kakinya mulai melangkah keluar rumah, ia hendak menuju ke saung yang ada di samping kebun terong. Ia berniat untuk menelpon Miftah di sana, karna jika langsung di kamar itu tidak mungkin.


     Saat langkahnya sudah melewati pintu depan ia sempat di tanya oleh Rangga dan Sekar.


     "Maaf non Jannah mau kemana ya?" tanya Rangga.


     "Iya tampaknya agak terburu - buru gitu," sambung Sekar.


     "Eh! enggak kok, emang keliatan ya kalau aku jalannya cepat - cepat?" guraunya.


     "Hahaha atu nampak lah non Jannah..." respon Rangga.


     "Yaudah kalau gitu aku mau ke sana dulu ya," unjuknya di tempat kebun terong.


     "Lho, ngapain panas - panas begini ke sana non Jannah? apa lagi kepingin terong ya? jika ia biar saya sama Rangga aja yang petikin non," tebak Sekar.


     "Eh! gak perlu kok Kak Sekar, aku mau kesana sekalian cari angin kok. Mau Selvi juga, kasian Status wa ku kosong gak ada ceritanya." jawabnya asal lalu bergegas pergi dari hadapan mereka sambil melambaikan satu tangannya.


     "Hmmm... Kok tumben ya non Jannah aktif di sosmed? biasanya non Jannah kan lebih suka habisin waktu baca kitab di dalam rumah," heran Rangga.


     "Udah lah positif thinking aja kita... Mana tau ada hal penting apa gitu," respon Sekar sambil menepuk pundak Rangga.


     Matahari memang agak terik hari ini, tapi Jannah tetap pada niatnya ingin malam ini juga cepat - cepat mengatakan hal tersebut pada Firdaus.


     Setelah di rasa tempatnya cukup aman, ia mulai duduk di saung.


     Tangannya dengan lincar mulai mencari nomor telpon Miftah yang ada di Wa.


     Syukurlah nasib baik sedang berpihak padanya karna kebetulan Miftah sedang aktif sekarang.


     Awalnya ia agak sedikit ragu - ragu untuk menekan tanda panggilan, namun ia kembali memberanikan dirinya.


     "Huh! bismillah," ucapnya setelah membuang napas berat.


      "Dreeet... Dreeet... Dreeet..."


      Ponselnya mulai berdering dan keberuntungannya kembali berpihak padanya karna Miftah langsung mengangkatnya.


     "Assalamualaikum, maaf ini siapa ya?" tanya suara di balik telpon.

__ADS_1


     "Wa'alaikum salam mbak Miftah, perkenalkan saya Jannah." jawabnya.


     "Lho! kok kamu tau nama saya? apa kita pernah saling kenal ya sebelumnya?" heran Miftah.


     "Iya kita memang sudah pernah saling kenal sebelumnya, cuma hanya sebentar." jelasnya.


     "Oh... Pantas saja saya lupa, maaf ya..." responnya yang mengira jika itu mungkin salah satu teman kenalannya, tapi Miftah benar - benar tak menyadari jika yang sedang berbicara saat ini dengannya adalah wanita yang sempat ia berikan cincin pernikahannya untuk menikah dengan Firdaus.


     "Iya mbak gak masalah kok," ucap Jannah dengan tubuh bergetar.


      "Hmmm... Aku harus bicara apa ya ini? kata - kata Miftah masih santai, mungkin saja ia mengira saya ini orang lain. Bukan wanita yang sempat menghancurkan keromantisannya dengan Firdaus di pantai beberapa tahun yang lalu," batinnya merasa cemas.


     "Oh iya mbak, ada keperluan apa ya mbak menelpon saya?" tanyanya yang membuat Jannah masih ragu untuk menjelaskannya.


      "Saya ingin membicarakan hal penting dengan mbak," jawabnya akhirnya.


     "Iya bicara apa ya mbak? silahkan katakan aja, mana tau saya bisa bantu." responnya santai.


     "Apa mungkin kamu akan dengan mudah mengatakan hal itu jika kamu tau siapa aku Miftah? yang akan membantuku dengan cara kembali pada pria yang sempat kamu benci itu," batinnya sambil menghela napas panjang.


     "Lho! mbak kenapa? apa mbak lagi lelah ya?" tanya Miftah saat mendengar hembusan napas Jannah.


     "Iya mbak saya sedang agak lelah," responnya.


     "Oh...pantas aja, istirahat aja mbak. Tapi kalau memang sangat penting langsung katakan aja mbak... Enjoy aja sama saya ya..." tawar Miftah.


     "Baik, tapi bisakah Vc saja mbak? dan ketika mbak mengenali saya bahkan saat saya berbicara pun tolong janji jangan matikan Vcnya ya," pinta Jannah sedikit memohon.


     "Hahaha kamu ini, mana mungkin saja langsung matikan saat ada orang yang sedang berbicara dengan saya. Oke! saya janji gak akan matikan dan dengar semua yang kamu katakan nanti sampai selesai." ucapnya.


     "Baiklah mbak terima kasih banyak ya... Oke! kita Vc sekarang ya?" tanyanya meminta persetujuan.


     "Silahkan mbak," respon Miftah.


     Kini sambungan telah terhubung, dengan perlahan Jannah hendak memperlihatkan wajahnya ke layar ponselnya agar Miftah dapat mengenalinya dengan tangan yang sedikit bergetar lemas.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2