Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 87


__ADS_3

     Kini mereka sudah duduk di kursi mereka masing - masing, suasana masih saja terasa sunyi menskipun Firdaus telah memimpin doa makan sebelum mereka menyantap makanan.


     "Sayang... Bagaimana lamaran kerjanya hari ini? apakah diterima?" tanya sang mama sambil mengaduk - aduk nasinya yang telah ditaruh kuah dengan sendok dan garpu.


     "Alhamdulillah baik ma... Bahkan hari ini terus Miftah sudah boleh bekerja," jawabnya sambil tersenyum dan mama membalas senyumannya.


     "Syukurlah kalau begitu! mama sejak awal emang yakin banget kamu pasti akan diterima dengan mudah, tapi nyonya itu ada marahin kamu atau tidak disana?" tanya sang mama lagi.


     "Nyonya sedang tidak dapat hadir ma hari ini, makanya Miftah mudah diterima. Dan tampaknya banyak memang yang tidak menyukai sifat sang nyonya yang benar - benar tak memiliki perasaan saat mengatur bawahannya, sampai - sampai Manajer aja seperti terlihat begitu lelah dan dia baru saja sembuh dari sakitnya." cerita Miftah.


     "Tuh kan! makanya kamu harus hati - hati yah sayang... Apa lagi dandananmu yang seperti orang culun yang tak tau apa - apa itu malah semakin menambah seleranya untuk menjadikanmu bulan - bulanannya," peringat mama.


     "Iya ma... Miftah pasti akan lebih berhati - hati karna nyonya terkenal begitu licik," ungkapnya.


     "Ingat sayang! kalau nyonya itu licik maka kamu juga harus lebih licik dari dia supaya kamu bisa berhasil menyelesaikan misimu ini," ucap sang mama begitu bersemangat.


     "Baik ma... Itu sudah pasti," respon Miftah jadi terbawa semangatnya sang mama.


     "Sudah - sudah... Mama selesaikan dulu makannya! nanti kalau tersedak mama juga lho yang merengek sama papa," tegur sang papa sambil menepuk telapak tangan sang mama.


     "Je... Si papa! mau ngomong aja gak boleh," ambeknya.


     "Bukan gitu ma... Maksud papa lebih baik mama selesaikan makanan mama aja... Kalau sambil bicara nanti mama juga yang bakal sakit karna tersedak..." jelas Miftah secara lembut.


     "Tuh dengerin," dengus sang papa sambil menatap tajam ke arah sang mama yang tampak acuh saja dan tak terganggu sedikit pun.


     "Au ah!" respon sang mama sambil membalas tak kalah tajam tatapan sang papa.


     "Ma..." ucap Miftah untuk yang terakhir kalinya, matanya memelas meminta pengertian dan demi Miftah akhirnya mama memilih mengalah dari sang papa.


     "Kamu hebat juga yah bisa luluhin mamaku! biasanya kalau gak ada kamu pertengkaran kecil ini masih saja berlanjut," bisik Firdaus merasa kagum tepat ditelinga Miftah.


     "Ah! Kaka terlalu memuji... Ini cuma kebetulan doang pun," elaknya yang kini sudah menunduk.


     "Lah! baru dipuji gitu aja udah salting, apa lagi kalau aku gombalin." guraunya.


     "Kaka mau kutusuk pake tongkat iblis ini ya?" geram Miftah sambil menampakkan garpunya yang sudah tersemat potongan wortel dari kuah sopnya.


     "Hahaha! kamu kira aku takut sama tongkat iblis yang seperti ini hah? ini ma tongkat makanan iblis namanya bukan tongkat seramnya," ucapnya sambil terkekeh pelan dan dengan isengnya ia meraih tangan Miftah yang sedang memegang garpu tersebut lalu dengan cepat memakan potongan wortel tersebut hingga membuat Miftah semakin panas dibuatnya.

__ADS_1


     "Kaka! itu kan wortelku! kenapa malah Kaka yang makan! kan Kaka punya wortel sendiri tu dipiring Kaka! banyak lagi," geramnya.


     "Kurang nikmat kalau punya sendiri ma... Mendingan punya kamu! iya kan?" ucapnya sambil terus terkekeh dengan alis yang tak berhenti ia mainkan.


     "Huh! ma... Kak Firdaus malah ambil wortelku..." adu Miftah yang kini sudah mengeluarkan jurus ampuhnya untuk memberikan Firdaus pelajaran.


     "Mampus aku! kenapa dia harus mengadu? dia kan bukan bayi lagi tapi dimata mama sekarang ia tetap seperti bayinya," cemasnya.


     "Firdaus! kamu itu ya! suka benget gangguin Miftah! punyamu kan ada," omel sang mama sambil mengacungkan sendoknya ke arah Firdaus.


     Harapan Firdaus kini hanya ada pada sang papa, dengan tatapan mata yang tak berhenti memohon. Tapi harapan itu malah pupus saat sang papa malah berada di pihak mama.


     "Au! sudah besar juga! mau menikah lagi! tapi kelakuan masih saja seperti bocah yang demennya nangisin adeknya," cibirnya sambil terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


     "Jgerrrr!!!"


     Tidak ada lagi penolongnya untuk saat ini. Jadi, ia terpaksa menelan dalam - dalam ucapan mama dan papanya yang tak ada yang mau membelanya. Mentang - mentang ia adalah anak tertua ia jadi harus bersikap terlalu dewasa.


     "Sekarang kamu puas kan Ratuku?" tanya Firdaus sambil menaikkan satu alisnya menatap Miftah yang kini juga sudah membalikkan kepalanya dan sedikit mengadah untuk membalas tatapannya.


     "Sangat puas! aku sudah bersusah payah menahan kesabaranku sejak tadi tapi Kaka masih tidak puas memancingku setelah aku berusaha untuk melupakan kejadian sebelumnya," ucapnya sedikit berbisik agar tak didengar oleh sang mama dan papa.


     "Tapi jangan bawa ortuku segala... Mereka mana mau membelaku," komennya.


     "Iya - iya deh... Terserah kamu aja," ucapnya pasrah.


     "Oke! kalau terserah aku maka berhentilah mengaturku sebelum aku menjadi istri sahmu," pintanya yang tak ingin dibantah.


     "Permintaan macam apa itu?" herannya tak terima.


     "Ya permintaan macam itulah," respon Miftah acuh tak acuh lalu kembali menikmati makanannya yang sempat tertunda karna ulahnya.


     "Huh! kamu itu gak bisa diajak becanda ya ternyata," resahnya sambil memegang dahinya yang sedikit berdenyut.


     "Candaan Kaka dari tadi itu berlebihan tau..." ucapnya tak terima dengan pendapat Firdaus.


     Jelas - jelas Miftah sudah berusaha sabar meladeni tingkahnya yang sangat suka mengatur kehidupannya.


     "Padahal aku hanya berusaha untuk tidak menjadi agresif dan pemarah. Bahkan berlaku buruk kepadamu seperti dulu. Itulah yang membuatku ingin menembus semua kesalahanku dengan memberikan perhatian yang sangat khusus untukmu, tapi aku tak menyangka malah ini yang aku dapatkan darimu." ungkapnya dengan suara pelan tapi masih dapat didengar dengan jelas oleh Miftah.

__ADS_1


     Miftah yang awalnya sedang mengunyah makanan jadi berhenti sesaat saat mendengar penuturan Firdaus, ia tak menyangka dibalik sifat kerasnya seorang Firdaus ternyata masih tersembunyi sebuah kelembutan dan kasih sayang yang sudah lama tertutup oleh keegoisannya hingga sulit untuk dilihat.


     "Sudahlah kak... Miftah paham... Miftah minta maaf ya kak... Miftah sayang Kaka... I Very love you so much," bisiknya tepat ditelinga Firdaus hingga membuat sang pemilik tubuh yang awalnya lemas bak sebuah hp yang belum terisi batrei langsung segar kembali saat sudah di alirkan anergi listrik.


     "Are you ceadding me?" tanya Firdaus mencoba memastikan.


     "No! i'm serrous for you," jawabnya yang membuat jiwa Firdaus seperti terbang sesaat.


     "Aku pasti sedang bermimpi kan?" ucapnya masih tak percaya.


     "Terserah Kakalah! kalau masih gak mau percaya ya sudah aku akan menarik kembali kata - kataku menjadi i'm Very no-" belum sempat Miftah menyelesaikan ucapannya Firdaus langsung menaruh jari telunjuk kanannya dibibir Miftah hingga membuat Miftah diam sesaat dengan darah yang sudah mendesir didalam tubuhnya.


     "Oke - oke aku percaya! jangan kamu lanjutkan kembali Kalimat itu ya..." mohonnya.


     "Dengan senang hati," ucap Miftah sambil tersenyum dan berusaha menutupi kegugupannya dengan tubuh yang sudah sedikit bergetar akibat perbuatan Firdaus yang tiba - tiba itu.


     Kini mereka kembali menyantap makanan mereka dengan tenang. Usai acara makan bersama baru mereka kembali kekamar untuk beristirahat setelah pamit kepada sang mama dan papa.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...

__ADS_1


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2