
"Jadi begini pak, Bu. Memang saya adalah istri kedua dari mas Firdaus, tapi siapa sangka rumah tangga kami tak seindah yang di kira oleh banyak orang."
"Firdaus sebelum menikahi saya itu memang sudah lebih dulu menjalin kasih kasih dengan putri bapak, awalnya memang karna paksaan karna ia sudah pernah mencelakai Miftah."
"Namun lama - kelamaan itu malah menjadi cinta yang begitu nyata baginya, sampai - sampai ia rela memprivasikannya Wassapnya dan jarang menanyakan kabarku seperti biasanya."
"Itu tandanya ia benar - benar sudah serius dengan Miftah, namun ada satu hal yang menghalanginya hingga bisa secemas itu."
"Yaitu janji yang sudah kami berdua buat saat masih di pondok pesantren, ia berkata bahwa ia akan menikahiku dalam janji itu usai ia tamat pesantren."
"Namun papa Firdaus tidak mengizinkan ia menikah dengan umur yang cukup muda, sampai ia harus membangun perusahaan papanya terlebih dahulu sampai bisa sesukses sekarang ini."
"Hingga akhirnya ia bertemu putri bapak dan ibu akibat mamanya Firdaus mengidam terong yang kebetulan sangat enak saat di beli dari kebun Miftah."
"Lalu cinta itu mulai tumbuh seiring berjalannya waktu, entah bagaimana caranya Firdaus mampu membawa Miftah masuk ke dalam keluarganya dan saat itulah keinginannya untuk memiliki Miftah tanpa ada paksaan dari sang papa atau mamanya lagi."
"Meskipun begitu ia belum mempunyai cukup keberanian untuk mengatakan hal itu pada putri bapak dan ibu bahkan saya hingga kesalahan pahaman terjadi malam itu."
Penjelasan Jannah membuat pak Askari dan Rosalia mengangguk mengerti, namun mereka juga tak dapat berbuat banyak hal karna tampaknya Miftah sudah berbahagia di sana tanpa hadirnya sosok Firdaus di sisinya.
"Tapi kami sendiri juga sudah tidak dapat berbuat apa - apa lagi, sekarang semuanya tergantung dengan putri kami." respon pak Askari.
"Jika bapak mengizinkan bolehkan saya yang berbicara langsung dengan putri bapak melalui telepon? saya janji untuk tidak menekan putri bapak. Karna saya tulus membantu hubungan putri bapak dengan suami saya," ucapnya.
"Bahkan saya sekarang tidak mau terlalu memikirkan diri saya lagi, ini sudah cukup bagi saya. Saya bahkan berniat untuk berpisah dari suami saya demi kebahagiaannya, yang akhir - akhir ini kondisinya juga tampak sedikit memburuk semenjak beberapa tahun terakhir." sambungnya yang sontak saja membuat pak Askari dan Rosalia kaget saat mendengarnya.
"Apakah kamu serius nak?" tanya Rosalia yang turut prihatin dengan sikap Jannah yang sama sekali tidak egois seperti kebanyakan istri kedua lainnya.
Ini memang gila bagi Jannah, bagaimana ia rela dengan mudahnya menghancurkan rumah tangganya yang sebentar lagi akan utuh menjadi miliknya karna niat Firdaus yang ingin memiliki momongan dengannya.
Tapi ia kembali berpikir untuk kedepannya lagi jika Firdaus sampai bertemu dengan Miftah tanpa terduga, akankan Firdaus sanggup di saat anak - anaknya dengan Firdaus sudah lahir kedunia.
Tidak! Jannah pasti tidak sanggup dan itu akan lebih sulit untuk ia lalui nantinya, hingga ia takut jika dirinya malah jadi jahat akibat rasa cemburu yang berat.
__ADS_1
Menurutnya lebih baik sakit sekarang dari pada nanti saat sudah memilki buah hati yang mirip dengan pria yang bahkan masih memikirkan wanita lain di bandingkan dirinya seorang.
"Jannah," panggil Rosalia untuk yang kedua kalinya.
"Eh! iya Bu saya serius," jawabnya dengan mata yang sudah berkaca - kaca.
"Tapi-" ucapan Rosalia langsung terpotong.
"Tolong jangan buat saya bimbang Bu, jika ibu mengizinkan tolong berikan saja nomor telepon Miftah yang baru kepada saya." pintanya yang sudah tak mampu lagi menahan gejolak rasa sakit pada dadanya.
Tanpa pikir panjang Rosalia langsung mengambil ponselnya yang kebetulan sudah berada di atas meja yang ada di ruang tamu.
Ia mulai mencari nomor putrinya di wa lalu menyerahkannya pada Jannah.
Jannah dengan gesit langsung menyalin nomor Miftah, setelah itu ia kembali memeriksanya sekali lagi.
"Terima kasih ya pak, Bu karna sudah mempercayakan nomor putri kalian kepada saya. Saya janji akan membantu memperbaiki hubungan mereka dan tak akan menjadi istri kedua lagi," ucapnya.
"Maaf, maksudmu apa ya?" tanya Rosalia masih bingung.
"Jannah, sebelumnya bisakah saya meminta juga nomor telponmu?" tanya Rosalia.
"Oh tentu saja boleh Bu," responnya lalu mulai mengetik nomor telponnya di ponsel Rosalia.
Setelah selesai ia mengembalikan kembali ponselnya pada tangan pemiliknya.
"Ngomong - ngomong saya harus save kamu dengan nama apa?" tanyanya.
"Ibu bisa save atas nama Jannah aja ya..." responnya.
"Baiklah sudah, makasih banyak ya." ucap Rosalia sambil tersenyum.
"Sama - sama Bu, harusnya saya yang berterima kasih karna ibu sudah mau memberikan nomor putri ibu kepada saya." responnya lalu langsung bangkit untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Mereka ikut bangkit untuk mengantarnya sampai keluar. Senyuman mulai terpancar dari bibir keduanya saat mengetahui fakta yang sebenarnya dan itu membuat mereka sedikit lega.
Saat Jannah sudah tiba di depan pagar Rosalia kembali mengangkat suara.
"Emm... Jannah! tolong nanti saat semuanya telah selesai sampaikan salam rindu dari tante pada mama Firdaus ya, bilang jangan lupa main ke sini lagi." pesannya.
"Eh! om juga nitip salam sama papa Firdaus, bilang aja katanya om pengen ngajak dia pergi mancing lagi oke." sambung suaminya.
Ada rasa bahagia di hati Jannah saat bisa melihat dua keluarga ini bisa akur kembali dengan saling menerima antara satu dan yang lainnya lagi.
"Baik bu, pak. Insya Allah akan saya sampaikan ya," responnya sambil tersenyum.
"Sudah... Kamu tidak perlu lagi manggil Bu atau pak, cukup panggil om sama tante aja udah." ucap pak Askari sambil tersenyum.
"Iya benar banget itu pa, mama juga setuju dengan panggilan itu pa." sambung istrinya sambil menepuk sebelah bahu suaminya pelan.
"Kalau begitu Jannah izin pamit ya om, tante." ucapnya untuk yang sekian kalinya.
"Baiklah Jannah, hati - hati di jalan ya..." respon keduanya secara bersamaan sambil melambaikan tangan kearahnya.
Jannah tanpa sungkan juga balas melambaikan tangan kepada mereka, ia sangat nyaman sebenarnya berlama - lama berbicara dengan keluarga Miftah yang ternyata sangat ramah.
Namun karna ada beberapa hal membuat mereka jadi memilih agar terlihat sangar dan kini aura tersebut sudah hilang berkat kesalahan pahaman yang sudah terpecahkan.
Tinggal menghitung hari saja untuk mempertemukan Firdaus dan Miftah, lalu ia bisa berpisah dengan keadaan yang tenang.
Ia juga akan selalu mengingat pesan orang tuanya yang menyuruhnya untuk senantiasa berbuat baik meski pada orang yang bahkan tak pernah di kenalinya sebelumnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇