
Dari kejauhan tampak lah tiga orang pria yang sudah memakai pakaian lengkap untuk menyelam ke dasar laut, seorang lelaki tampan yang duduk ditengah - tengah pria yang lebih tua darinya hanya mengangguk saat mereka bertanya.
"Sudah siap?"
"Tentu saja aku siap!"
Mereka yang awalnya duduk diatas pinggiran kapal langsung menceburkan diri kedalam air. Firdaus kini jadi merasa sedikit merinding, tapi ia mencoba untuk membunuh rasa takutnya sendiri.
Bagaimana tidak? ini adalah kali pertama ia menyelam dan berenang disamping seekor hewan laut raksasa, kali ini papanya dan om Anggara memilih memakai peralatan lengkap dengan alasan mereka sudah sangat rindu karna lama tidak menggunakannya.
Sebenarnya Firdaus tau, jika papa dan om Anggara bukan rindu. Tapi mereka merasa tidak enak ketika melihat hanya ia yang menggunakan pakaian lengkap.
Hari ini ada banyak sekali pemilik sertifikat free diving yang datang, otomatis banyak diantara mereka yang berenang tanpa menggunakan bantuan alat.
Jadi supaya Firdaus tidak menjadi puncak perhatian satu titik dari mereka, akhirnya papa dan om Anggara memilih untuk memakainya juga.
Firdaus yang awalnya berenang beriringan dengan papa dan om Anggara kini memberanikan diri untuk berpisah dari mereka, ia terus saja berenang semakin jauh kebawah hingga sampailah ia didepan batu karang yang dipenuhi oleh ikan - ikan cantik berwarna - warni.
Tanpa membuang - buang waktu ia mulai memotret pemandangan indah itu selagi ia membawa kamera anti air, di dalam tumbuhan laut yang menempel di terumbu karang Firdaus dapat melihat ikan Nemo yang terus saja berenang kesana kembali lalu kembali masuk kedalam sarangnya saat Firdaus datang mendekat.
Setelah puas mengambil foto diterumbu karang, Firdaus mulai memberanikan dirinya untuk menelusuri lautan yang sedikit lebih dalam, hingga warna air jadi terlihat lebih tua bahkan tempat itu menjadi agak gelap.
Sebelum ia benar - benar sampai ke dasar lautan ia langsung dibuat takjub saat melihat gerombolan ikan berukuran sedang berenang diatas kepalanya, ia sedikit mengadahkan wajahnya agar dapat melihat lebih jelas bentuk ikan tersebut lalu memotretnya beberapa lembar.
Kini ikan - ikan itu jadi berpencar saat mendengar suara kamera, Firdaus kembali berenang kebawah dan dilihatnya terumbu karang yang sudah berwarna hitam, ikan berukuran sedang tadi masih saja setia berenang kesana kemari diatasnya bahkan disampingnya tanpa ada rasa takut sedikitpun.
__ADS_1
Papa Firdaus sedikit khawatir dengan Firdaus yang sudah tak terlalu tampak lagi ditengah - tengah permukaan air, ia sedikit menepuk lengan temannya agar ia paham.
Lalu mereka mulai berenang menuju dasar laut, dan mereka jadi merasa lega saat mengetahui Firdaus baik - baik saja, malahan ia tampak sangat asyik bermain dengan para ikan - ikan berukuran sedang tersebut.
Papa dan om Anggara kini jadi ikutan bergabung didepan kamera agar dapat menyimpan momen yang paling berharga ini.
Mereka sibuk berang kesana - kemari mengelilingi terumbu karang yang berwarna hitam itu, setelah puas mereka malah berenang ke terumbu karang yang banyak ikan warna - warni di tempat awal Firdaus bermain.
Tak jauh dari tempatnya melayang ia dapat melihat seekor ikan yang ekornya tersangkut di sebuah tanaman merambat yang ada didekat terumbu karang, untung ia sempat membawa pisau renang lalu memutuskan satu batang tanaman tersebut.
Ikan yang sudah terlepas kini mulai kembali berenang dengan lincah kesana kemari, Firdaus hanya tersenyum ketika melihat hal itu lalu ia mengajak papa dan om Anggara untuk berenang kepermukaan.
Ia berniat untuk menguji nyalinya dengan cara berenang disamping Hiu paus, ia melambaikan tangannya kearah papa dan om Anggara yang masih saja berenang
secara beriringan.
Mereka yang melihat lambaian tangan tangan dari Firdaus langsung membalasnya, ia merasa terkejut saat merasakan getaran air yang sangat dahsyat diatasnya.
Ternyata getaran tersebut dari seekor hiu paus yang sedang mengibabaskan ekornya didalam air hingga membuat Firdaus hampir merasa terdorong saking kuatnya arus air yang terasa semakin kencang.
Dengan sekuat tenaga ia mulai berenang mendekat dan saking fokusnya ia sampai tidak menyadari bahwa dirinya sudah berada tepat dihadapan hiu paus yang sedang membuka mulut kearahnya.
Firdaus hanya mampu menyesuaikan detak jantungnya yang kini sudah berdebar tak beraturan, tapi sebelum ia benar - benar masuk kedalam mulut sang hiu paus ia langsung berenang ke atasnya.
Sebelumnya ia berhasil mengambil satu gambar sosok hiu paus yang sedang membuka mulutnya lebar kearahnya, ia terus saja berenang mengikuti arah sang hiu paus pergi sambil terus menjaga jarak dengan makhluk laut yang terkenal jinak itu.
__ADS_1
Dari kejauhan ia hanya mampu menatap kagum pada seorang pria free deving, tanpa rasa takut pria tersebut berenang diantara beberapa hiu paus.
Firdaus hanya memotretnya dari kejauhan setelah sedikit mendekatkan kameranya agar objek dapat terlihat lebih jelas meskipun dari jarak yang lumayan jauh.
Papa dan om Anggara ternyata juga ikut berenang bersama hiu paus, mereka terus saja berputar mengelilingi tubuh ikan besar tersebut dari bagian kepala hingga ujung ekor.
Para free deving yang datang jadi menghentikan aktivitas mereka karna merasa kagum saat melihat pertunjukan yang dibuat oleh papa dan om Anggara.
Mereka hanya berniat untuk bersenang - senang saja, tanpa ada rasa untuk memamerkan keberanian dan kelincahan mereka saat sudah masuk kedalam air.
Tak terasa meraka sudah cukup lama bermain didalam air, entar berapa jam yang mereka habiskan bersama, memang saat melihat biota hewan dan tumbuhan yang ada didalam laut membuat mata enggan pergi dari hadapan mereka.
Om Anggara dan papa sudah memberi isyarat dari lambaian tangan agar Firdaus menyusul mereka menuju kepermukaan.
Sesampai nya mereka diatas, mereka mulai dibantu beberapa orang petugas yang berjaga diatas kapal patroli untuk menarik mereka keatas.
"Bagaimana perjalananmu bro?" tanya salah seorang pria yang memang sejak tadi bertugas untuk membawa kapal patroli tersebut saat mereka masih asyik berbicara diluar.
"Baik! bahkan sangat luar biasa!" respon Firdaus lalu berusaha berdiri untuk melepaskan perlengkapan yang melekat ditubuhnya, papanya dan om Anggara juga melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan.
Kini hanya tersisa baju renang yang masih setia melekat ditubuh mereka, kapal mulai berlayar kembali menuju ke tepi pantai agar mereka dapat segera berganti pakaian yang sudah basah kuyup, tapi karna berbahan karet dan tak gampang kemasukan air mereka jadi agak tenang tanpa takut merasa masuk angin.
Sesampai ditepi pantai om Anggara menyuruh anak buahnya untuk mengantarkan Papa Firdaus dan anaknya kembali ke penginapan. Tempat awal yang mereka masuki untuk berganti pakaian, letaknya ada diatas laut.
__ADS_1
Saat bertanya pada anak buah om Anggara bahwa jam berapakah saat ini, ia jadi semakin merasa terkejut karna sudah empat jam lebih ia dan papanya berenang didalam sana, bahkan ini saja sudah hampir memasuki waktu sholat Dzuhur.