Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 37


__ADS_3

          Akhirnya Miftah telah mengumpulkan satu keranjang terong begitu pun yang lainnya. Kini mereka berniat untuk membawanya kepasar, biasanya Miftah harus berjalan kaki dari rumahnya untuk menuju kesana karna ia belum mempunyai kendaraan.


     Tapi semenjak Zaldira sering berkunjung Miftah jadi dapat bersyukur karna sedikit mengurangi tenaganya.


"Baiklah udah pada siap kan?" tanya Miftah di belakang Zaldira sambil memegang dua keranjang disebelah kiri dan kanan sama halnya dengan Wahyu karna Zamrud lah yang mengendarainya.


     Dipasar sedang kekurangan banyak terong akibat konflik kemarin itu, sebab dikampungnya dari dulu hanya kakek nenek Miftah lah yang mempunyai kebun terong yang buahnya lebat dan bagus.


     Sesampai dipasar, setelah menjual buah terongnya akhirnya Miftah kembali dengan keranjang kosong. Raut bahagia tak pernah luntur dari wajahnya, seakan ini adalah rezeki pertama yang ia dapatkan dan tak akan pernah terlupakan.


     "Ini ada sedikit sedekah untuk kalian karna udah bantuin aku," ucap Miftah sambil mengulurkan tangannya yang digenggamannya terdapat beberapa lembar uang.


     "Kami gak mau terima upah dari kamu karna kami benar - benar ingin membantu mu," tolak Zamrud yang kini sudah berbaring di sofa dengan yang lainnya.


     "Tapi ini kan gak seberapa," ucap Miftah merasa tak enak sekaligus terharu saat mendengar jawaban dari Zamrud.


"Iya Kaka... Kaka lebih baik simpan aja uangnya... Nanti kalau ada keperluan yang mendesak Kaka bisa menggunakannya," jelas Zaldira.


     "Nah... Betul itu," sambung Wahyu tak mau kalah.


Saat Zaldira sedang meleng dan kefokusannya masih tertuju pada Miftah timbullah niat buruk Zamrud untuk membalas dendam kepadanya.


     "Eh! kamu mau kemana?" tanya Wahyu heran saat Zamrud hendak bangkit dari duduk disampingnya.


"Ssttt... Udah... Kamu diam aja... Awas aja kamu kalau sampai rewel! aye bakal jitak kepalamu," ancam Zamrud sambil melotot tajam.


     "Kayaknya aku mencium bau - bau busuk ini," respon Wahyu.


"Hey! sudah aku bilang diam..." geram Zamrud sambil kembali melancarkan aksinya dan saat posisinya sudah dibelakang sofa Zaldira.



Satu



Dua



Tiga


     Dengan gesit Zamrud langsung mencubit pipi Zaldira dengan kedua tangannya hingga membuat sang korban jadi merintih sekaligus merasa terkejut dengan kelakuannya.


     "Kak Zamrud! sakit tau pipiku dicubit kayak gitu! kalau mau geram jangan sama aku," omel Zaldira sambil mengelus kedua pipinya yang sedikit memerah.


     "Hahaha..." tawa Zamrud sambil berlari ketempat semula dan duduk disamping Wahyu dengan perasaan puas.


"Siapa suruh pipimu cabi! sekarang kita impas ya," senang Zamrud.


     "Is! impas apaan, yang dikebun itu kan salah Kaka duluan nantangin aku... Ya aku terima lah," dengusnya.


"Iya... Tapi kamu menangnya itu dengan cara curang tau..." ucap Zamrud sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.


     "Itu bukan curang... Tapi bijak..." elaknya tak terima.


"Apa? bijak? kuping ku gak salah dengar kan? hadeh..." resah Zamrud mulai memancing amarah Zaldira kembali sedangkan Miftah dan Wahyu hanya dapat melihat malas kelakuan mereka sambil menghembuskan nafas berat yang sangat melelahkan.


" Hidupku... Kalau enggak ribut gak enak " 🎶


" Makanya harus selalu nyari korban " 🎶


" Supaya hati ku menjadi tenang " 🎶


" Tak peduli dengan yang memandang... " 🎶


( Nada : Hidupku dulunya seorang pengamen ) .


     "Bener banget itu kak Wahyu..." respon Miftah setelah mendengar nyanyian ciptaan Wahyu yang dibuat - buat saking kesalnya ketika melihat drama pertengkaran setiap hari.


     "Iya nih! lebih baik aku nonton Tom and Jerry kan ada lucunya dikit walau pun gepeng ya hidup lagi dari pada ini gak ada gepeng - gepengnya! yang ada malah pandangan horor semua," resah Wahyu.


     "Emangnya kami pikirin," ucap Zaldira dan Zamrud bersamaan karna ikutan dongkol saat mendengar hal itu.


"Ehkem! tuh kan jawabnya samaan," ledek Wahyu dan Miftah yang kebetulan juga meresponnya secara bersamaan.


     "Nah! kalian juga pernah kan?" respon Zaldira dan Zamrud lagi - lagi bersamaan menjawab.


"Hahaha! tapi banyakan kalian samaannya," ucap Wahyu yang sudah terkekeh pelan.



"Iya... Bener banget..." sambung Miftah yang ikutan terkekeh.


     Jam telah menunjukkan pukul delapan pagi, seperti biasa Miftah pasti akan menerima sebuah paket berupa sebuket bunga mawar putih yang sampai sekarang masih dianggap Zamrud adalah orang yang mengirimkannya.


     "Assalamualaikum..." salam seorang pengantar bunga yang berbeda setiap harinya.


"Wa'alaikum salam..." jawab mereka secara serentak.

__ADS_1


     "Apakah disini ada yang namanya Miftahul Jannah?" tanyanya.


"Iya saya sendiri," respon Miftah yang sudah tidak terkejut lagi saat namanya dicari - cari ketika jam telah menunjukkan pukul delapan pagi.


     "Wah... Cantik banget... Dari siapa itu...?" tanya Wahyu mencoba untuk memanas manasi Zamrud yang kini tampak biasa saja dan tidak peduli sama sekali.


"Tumben gak panas? apa cintamu sudah berganti untuk Zal..." belum habis Wahyu mengucapkan nama seseorang kakinya sudah lebih dulu di injak oleh Zamrud.



     "Ahk! rintihnya kesakitan," mau diulangi lagi gak?'" tanya Zamrud dengan senyum miring yang masih setia melekat diwajahnya.


"Haha! canda kawan..." respon Wahyu kikuk .


     "Makasih ya pak..." ucap Miftah lalu mulai duduk di sofa kembali sambil menciumi aroma khas dari mawar putih tersebut.


     "Kayaknya kak Miftah udah punya calon pendamping ini... Cuma selalu disembunyikan sama kita tapi gak apalah akhirnya ketahuan juga kan..." ucap Zaldira membuka suara kembali.


     "Enggak kok... Orang yang kirimnya gak nyadar," sindir Miftah.


"Lha! emang yang kiriminnya ada disini?" tanya Wahyu bingung.



"Hahaha! jangan - jangan yang nekat dibelakang ku itu temanku sendiri..." balas Zamrud sambil menatap penuh ketajaman kearah Wahyu sebab ia menuduh Zamrud yang melakukannya padahal memang ia sendiri pelakunya.


     Miftah yang merasa bingung saat melihat ekspresi biasa saja dari Zamrud berniat untuk memastikan sendiri bunga yang selama ini ia anggap dari Zamrud.


     "Maaf kak Zamrud! aku mau tanya sama Kaka, tapi aku mohon Kaka jawab yang jujur ya?" ucap Miftah.


"Tanya apaan emang?" ucap Zamrud sambil menaikkan sebelah alisnya.


     Tubuh Miftah kini sudah bergetar hebat, ia sebenarnya tidak berani menanyakan hal ini secara langsung, tapi ia benar - benar ingin memastikan nya dan melihat ekspresi kejujuran dari wajah Zamrud.


     "Apakah benar yang selalu mengirim bunga ini adalah kaka?" tanya Miftah pada Zamrud.


"Aku? kirimin bunga ke kamu? setiap hari? selama Minggu ini? mana mungkin," jawab Zamrud serius.


    "Kaka beneran gak boong kan?" tanya Miftah.


"Iya beneran aku gak boong deh! lagian kan minggu ini itu aku sangat sibuk dengan Wahyu untuk ngurusin kebun burungku yang banyak sekali pesanannya," responnya.


     "Sampai - sampai kami harus bergadang dan untuk hal itu kamu pasti tau kan? mana mungkin aku sempat memikirkan masalah hati," sambungnya lagi.


"Apa yang dikatakan Wahyu bener Mif... Dia dan aku memang sangat sibuk dalam seminggu ini " perjelasnya .


     "Hmm... Lalu ini dari siapa ya?" heran Miftah.


"Lagian menurut ku Zamrud adalah tipikal orang yang tidak pernah mengandalkan orang lain dalam masalah hati, karna ia mau berusaha mengejarnya sendiri! toh kamu tau sendiri kan kalau Zamrud itu bahkan sampai dikagumi banyak wanita dan tak satu pun ia terima walau pun si wanita yang tembak terlebih dulu berulang kali selain kamu," jelasnya yang membuat Miftah mengangguk paham.


    Zaldira pun jadi paham dan ikut menebak.


"Mungkin Kaka punya pengagum rahasia kali... Yang udah suka banget sama Kaka... Tapi dia takut ditolak sama Kaka, jadi dia lebih pilih menitip saja dan mengutarakannya lewat mawar putih itu."


     "Jangan - jangan kak Firdaus," pikir Miftah yang kini pipinya sudah bersemu merah.


"Hei... Kenapa dengan pipimu?" goda Wahyu.



"Iya... Sepertinya kak Miftah sudah menemukan jawabannya sendiri deh..." sambung Zaldira.


     "Ekhem! ada yang udah dapet jodoh nih... Hahaha," respon Zamrud tanpa ada wajah kesedihan sedikit pun yang terlihat dari senyuman yang muncul dibalik wajah tampannya itu.


     "Ya udah ini kerjaan sudah pada siap kan? kalian pasti belum pada makan! ayo makan! aku udah masak dari pagi untuk kalian," ajak Miftah yang baru saja teringat bahwa mereka datang kesini memang belum sarapan sama sekali.


     "Oh iya... Bener banget! tau aja kalau perut aye udah lapar," respon Zamrud senang lalu tanpa diminta ia sudah lebih dulu berjalan kearah dapur sedangkan Wahyu hanya mampu menggeleng - gelengkan kepalanya kesana kemari saat melihat tingkah temannya itu.


     "Woy! kau sudah putus urat malu hah? belum juga ditawarin jalan kedapur," omel Wahyu.


"Hah? udah putus urat malu katamu? yang ada apa kupingmu sudah putus pendengar nya! kan Miftah udah ngajak tadi sama kita berarti udah boleh makan! jangan harus disuruh berulang kali kayak orang yang gak pas pendengaran nya," cibir Zamrud yang kata - katanya menusuk hati Wahyu.


     "Gitu banget kamu responnya," sedih Wahyu.


"Bodo amat! makanya itu mulut agak direm dikit oke..." balas Zamrud kesal lalu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.


     "Sudah... Jangan pada bertengkar lagi yah... Mari kak Wahyu kita makan aja," cegah Miftah.


"Baiklah," respon wahyu sambil tersenyum manis kearahnya dan Miftah pun membalas senyuman Wahyu kembali.


     Sesampainya dimeja makan Miftah langsung menyuruh mereka menyantap apa saja yang sudah ada diatas sana.


"Lha Kaka! ini Kaka yang masak sendiri? kok banyak banget? apa Kaka gak capek?" tanya Zaldira khawatir sekaligus merasa tidak enak.


     "Ah... Tidak perlu sukan - sungkan... Lagian kan kalian udah Kaka anggap kayak keluarga juga," senyum terbit diwajah Miftah.


"Tapi..." belum selesai Zaldira berbicara.


__ADS_1


"Gak usah tapi - tapi! ini makan aja paha ayamnya, kalau gak mau aku bakal abisin semua ini." ucap Zamrud yang mulutnya sudah penuh dengan makanan.


     "Dasar Kaka!!! mulut penuh malah ngomong!!! itu minyak lagi nempel disamping bibir itu," tunjuk Zaldira tak habis pikir.


"Hahaha bodo amat! dibilangin aja nih... Gak mau sekalian elapin hmm," goda Zamrud sambil mengedipkan sebelah matanya.


     "Sepertinya pikiran Kaka sudah agak miring, lebih baik aku gak mau makan samping Kaka lah." resah Zaldira yang hendak beranjak dari tempatnya tapi dicegah oleh Zamrud.


     "Eh... Jangan marah lah... Kan cuma becanda! beneran deh kalau kamu mau duduk lagi aku gak bakal ganggu, tapi kalau kamu pergi beneran aku bakal terus ganggu kamu." ucap Zamrud.


     Dengan berat hati mau tidak mau Zaldira pun duduk kembali, dan dengan hikmat mengunyah nasinya dengan perasaan was - was karna tatapan Zamrud memang tidak lepas dari nya sejak tadi.


     "Bisa gak sih kak? Kaka gak liatin aku terus! aku risih banget tau! makan aja aku sampai susah! tenang aja kali... Aku gak bakal kabur karna aku bukanlah anak ayam yang baru menetas dan harus dikurung didalam kandang," dengus Zaldira.


     "Iya... Iya..." respon Zamrud kecewa.


"Nih anak kalau udah bucin bener - bener ya..." resah Wahyu.



"Diem lu," geram Zamrud sambil mengepalkan tangannya kuat - kuat.


     Wahyu yang melihat hal itu mau tidak mau langsung menggembok mulutnya rapat - rapat sebelum tangan itu melayang ke wajah imutnya yang masih polos itu.


     "Eh kak Miftah emang gak ikutan makan?" tanya Zaldira.


"Makan kok ngomong," cibir Zamrud.



"Kaka ini! kan dimulutku lagi gak ada makanan, gak kayak Kaka tadi." elak Zaldira tak terima.



"Ini dek... Kaka ada hal yang harus Kaka kerjakan dulu dikamar soalnya, lupa tadi buat selesain jadi Kaka makannya nanti aja, lagian tadi pagi Kaka udah sarapan roti kok." jawabnya.


     "Oh... Yaudah kalau gitu Kaka," respon Zaldira.


"Oke! Kaka kekamar dulu ya..." pamit Miftah.



"Baiklah," ucap Zaldira sambil tersenyum manis.



"Nah... Gitu dong senyumnya kan makin cantik," goda Zamrud.



Dengan malas Zaldira pun menjawab "kayaknya mulut Kaka itu benar - benar minta digembok ya! geram aku dengarnya,"


     "Terserah kamu mau geram apa enggak, intinya mulutku ini dari kemarin lagi kesambet obat candu bicara." alasannya yang benar - benar tidak masuk akal.


"Entahlah! aku gak peduli! yang ada kepalaku malah jadi pusing karna pikirin ucapan Kaka yang gak ada manfaatnya sama sekali itu," dengusnya.


     "Ada kok manfaatnya," ucap Zamrud.


"Apa coba? apa?" tanya Zaldira.



"Biar kamu jatuh hati sama aku..." jawab Zamrud sambil mengunyah makanannya kembali dan tanpa Zaldira sadari pipinya sudah bersemu merah.


     "Itu pipi abis direbus ya? kok merah banget," goda Zamrud lagi.


"Kaka....!!!" teriak Zaldira.



"Iya iya iya gak lagi - gak lagi ampun... Oke - oke aku diam," racau Zamrud yang kini sudah melihat api kemarahan yang berkobar didiri Zaldira.


     "Mampus kamu kalau dia marah! siap - siap jeweran mautnya ya..." peringat Wahyu.


"Ah... Diam lu gak usah sibuk! atau mau aye peraktekin biar lu rasain juga?" tawar Zamrud yang langsung direspon cepat dengan gelengan oleh Wahyu.


     "Hehehe... Enggak kok! canda kawan..." ucapnya kikuk.


"Canda matamu," dengus Zamrud sedangkan Zaldira yang baru saja selesai mengunyah makanannya yang seperti hambar dimulutnya hari ini langsung saja mengambil kunci motor untuk pulang kerumah setelah pamit kepada Miftah terlebih dulu diluar pintu kamar.


     "Yah... Dianya jadi pergi kan," sedih Zamrud.


"Itu kan salah kamu! makanya jadi cowok - " belum sempat Wahyu habiskan kata - katanya Zamrud langsung memotongnya.



"Apa? mau mulai lagi yah?" geram Zamrud dan Wahyu lagi - lagi hanya mampu mengalah karna ia tau kalau api dibalas dengan api maka akan menjadi semakin parah, itu sebabnya ia sekarang lebih memilih untuk selalu menjadi air yang tugasnya memadamkan kobaran api di diri Zamrud dengan penuh kesabaran.


    

__ADS_1


__ADS_2