
Rangkaian acara di pesta ulang tahun Rizal satu persatu telah selesai.
Banyak orang sudah memberi selamat pada pria itu dan Laila masih duduk di tempatnya menunggu saat yang tepat untuk memberi ucapan selamat pada Rizal.
Dia menunggu saat Rizal berpisah dengan Anita dan Rama, supaya tidak perlu membuat kekacauan ataupun membuang energi untuk kedua orang itu.
"Senior, setelah acara ini, dapatkah kami mengundang senior untuk makan bersama sebagai permintaan maaf kami?" Tanya salah satu dari ke-7 orang yang duduk bersama Layla.
"Aku sudah ada janji." Jawab Laila dengan singkat.
"Ah,, baiklah, kami mengerti. Pokoknya, senior tenang saja, kami tidak akan mengganggu senior dan semua keinginan senior akan kami lakukan!"
"Benar, kami tidak akan pernah mengecewakan senior!"
"Hmm, baiklah, kalian bisa pergi sekarang." Ucap Laila saat melihat Rama dan Anita kini berpisah dengan Rizal.
Laila langsung menghampiri Rizal dan Irmawati yang berdiri bersama.
"Tuan Rizal, selamat atas ulang tahunnya, semoga panjang umur dan sehat selalu." Ucap Laila disambut hangat oleh Rizal.
"Terima kasih Laila, terima kasih sudah datang ke pesta ulang tahun yang sederhana ini.
Oya, apa kau datang sendiri?" Tanya Rizal.
"Ya, aku sendirian." Ucap Laila.
Melihat suaminya sedang berbincang dengan Laila, Irmawati langsung memberi kode pada Anita yang kini melihatnya.
Mendapatkan tanda setuju dari Anita, Irmawati lalu menoleh pada suaminya.
"Sayang, aku sedikit pusing." Ucapnya memegang kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa? Ayo istirahat dulu." Ucap Rizal menuntun istrinya ke sebuah kursi yang tak jauh dari mereka.
"Hah, aku baik-baik saja. Jangan tinggalkan tamu kita dan pergilah menyapanya.
Laila dapatkah kau membantuku ke belakang sebentar?
Sepertinya aku perlu berbaring." Ucap Irmawati pada Laila.
"Laila, maaf harus merepotkanmu." Ucap Rizal pada Laila.
"Tidak masalah Tuan," ucap Laila lalu ia membantu Irmawati berjalan ke belakang.
"Apakah ini akting atau sungguh-sungguh?" Tanya Laila sembari memegangi Irmawati yang terlihat lemas.
Memperhatikan Laila lupa meninggalkan tasnya di dalam aula, Irmawati berpura-pura terjatuh.
"Ahh!" Jeritnya.
Sialnya, Irmawati menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan tas Laila ke lantai.
Laila tidak menyadarinya karena di tempat itu berisik dan ia terlalu fokus melirik Rama yang sedang berbicara dengan seseorang.
'Rama, kita lihat bagaimana kekuatan cinta kalian bertahan!' Gumam Laila tersenyum.
'Laila bodoh! Lihat saja nanti, kau akan mengemis-ngemis sambil bersujud di bawah kakiku!
Beraninya datang kembali ke kehidupanku yang sudah sempurna sambil membawa semua noda masa lalu!
Dasar anak tidak berguna!' gumam Irmawati menggertakkan giginya.
Setelah tiba di ruang istirahat, Laila membantu ibunya berbaring di atas ranjang sebelum pergi mencuci tangan di wastafel dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Jangan pikir aku membantumu karena kau adalah ibuku.
Aku hanya tidak mau kau merepotkan orang yang terlalu baik seperti Tuan Rizal.
Sungguh sayang, orang baik seperti Tuan Rizal harus menikah dengan perempuan licik sepertimu." Ucap Laila sembari membilas tangannya.
"Hmm,, aku juga penasaran bagaimana kau begitu beruntung hingga bisa kembali menemuiku?
Harusnya kalau meninggal saat melahirkan anak haram itu!
Sayang sekali, aku tidak terlalu beruntung hingga noda sepertimu masih terus mengikutiku!" Ucap Irmawati.
"Haha,, sepertinya kau sembuh begitu cepat." Ucap Laila mematikan keran airnya dan mengelap tangannya.
Saat itulah ia menyadari bahwa tasnya telah hilang.
'Perempuan ini!' Laila mengerutkan keningnya dan langsung meninggalkan Irmawati tanpa mengatakan apapun.
Bukan apa-apa, tapi ponselnya berada di dalam tas itu, dan fotonya bersama Samudra dan Andra ada di dalam ponsel itu!
'Bagaimana kalau foto-foto itu hilang?!
Itu foto yang berharga!' Cemas Laila.
@Interaksi
Ini ketinggalan di galeri otor.
Dari pada jadi sampah di sana, mending di buang di sini...
__ADS_1
Semoga tenang di alam sini....