Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 174. Melinda yang tidak biasa


__ADS_3

Pesawat segera mendarat di bandar udara internasional negara MR yang merupakan negara kepulauan.


Rombongan satu keluarga Anderson langsung diantar menggunakan helikopter ke sebuah hotel dimana resepsi pernikahan akan digelar.


Helikopter mendarat di atas atap gedung gedung yang memang disiapkan untuk tamu yang datang menggunakan helikopter.


"Ayo, sayang," ucap Weleni memegang tangan Andra lalu ia dan cucunya turun bersama Layla dan memasuki lift.


Sementara Melinda adalah orang yang paling terakhir turun dari helikopter dengan perasaan gelisah.


'Ada apa dengank? Apakah karena Ini pertama kalinya aku naik helikopter hingga membuatku merasa gerah begini?' Gumamnya melangkah dengan gelisah.


Ketujuh orang itu berada didalam lift saat Weleni tiba-tiba berkata "Acara pernikahan akan digelar 1 jam lagi, kalian semua punya waktu 1 jam untuk."


Weleni memang sudah menyiapkan semuanya, mulai dari hotel yang disiapkan tempat tidur untuk beristirahat supaya saat mereka tiba mereka sudah segar untuk mengikuti upacara pernikahan yang akan digelar.


'Sial..! Aku tidak mungkin bisa tidur untuk menenangkan diri karena waktunya cuma satu jam. Dan sangat tidak sopan bagiku kalau aku meminta izin untuk tidak mengikuti acara resepsi itu.' Gumam Melinda dengan gelisah.


Kendra yang berdiri di samping perempuan itu memperhatikan Melinda dari sudut matanya dan tahu bahwa perempuan itu sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


'Aku yang makan makanan kepedasan dia yang meriang. Gimana sih?!' Gumam Kendra tak habis pikir.


"Melinda, kamu kenapa?" Tanya Laila saat menyadari wajah pucat Melinda dengan tubuh yang agak menggigil.


"Nyonya Bos, Maafkan saya, saya hanya sedikit gugup karena baru pertama kali bepergian ke tempat seperti ini. Saya akan baik-baik saja setelah istirahat sebentar." Ucap Melinda dengan suara agak tersengal.


Laila mengeryit merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan perempuan itu. Tapi dia baru akan berbicara saat Weleni menyelahnya.


"Kendra, antarlah Melinda ke kamarnya, mumpung kamar kalian saling berhadapan." Ucap Weni dengan nada yang tidak mau dibantah.


'Hah,, sial,,! Kenapa jadi aku yang harus mengurusi perempuan ini. Tapi dia terlihat sangat kasihan, apalagi keringatnya keluar cukup banyak.' gumam Kendra melihat baju putih yang dikenakan Melinda sudah melekat di punggung perempuan itu karena basah oleh keringat Melinda sendiri.


"Tidak,, tidak perlu, aku baik-baik saja. Tidak perlu merapatkan siapapun." Ucap Melinda.


"Aku tidak keberatan kok, lagi pula kamar kita saling berhadapan." Ucap Kendra dengan santai.


Ting!


Lift segera tiba di lantai 9 lalu Silas, Andra Laila dan Samudra segera keluar meninggalkan Melinda dan Kendra yang hanya berduaan untuk turun ke lantai 5.

__ADS_1


"Melinda, jangan sungkan pada Kendra saat kamu membutuhkan sesuatu. Dan kalau dia macam-macam padamu, kau bisa melaporkannya padaku." Ucap Laila sebelum pintu lift kembali tertutup.


"Baik Nyonya Bos." Jawab Melinda masih dengan suara tersengal sebelum pintu lift benar-benar tertutup lalu perempuan itu roboh ke lantai.


Melihat Melinda kini roboh di lantai, Kendra semakin mengerutkan keningnya karena perasaannya yang bercampur aduk.


Hatinya menginginkan dirinya membantu perempuan itu Tapi egonya berkata lain.


"Hah,, hah,," nafas Melinda begitu berat dengan rasa panas di sekujur tubuhnya.


"Apa kau baik baik saja? Jangan bilang kau berpura-pura supaya bisa menarik perhatianku?! Maaf ya, Tapi aku tidak pernah tertarik dengan perempuan sepertimu!" Ucap Kendra dengan tangan dikepal erat.


Namun, apa yang dikatakan Kendra sama sekali tidak ditanggapi oleh Melinda karena perempuan itu sibuk mengatur nafas dan berusaha menenangkan dirinya yang sangat gelisah.


'Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia diam saat aku menghinanya!' gumam Kendra merasa ada yang salah.


@Interaksi


__ADS_1


Wahaha.... Nyebellin tapi ngangenin 🤭 Cha,, gombal...!👀


__ADS_2