
Malam akhirnya datang, semua orang berkumpul di meja makan kecuali Andra dan Laila yang belum juga turun dari lantai 2.
Weleni terlihat sangat murung sambil duduk menghadap makanan yang sudah ia masak.
"Ibu,," ucap Kendra yang hari itu ikut makan malam di rumah kakaknya.
"Hah,, cucuku tidak mau keluar dari kamarnya karena kami datang kemari." Weleni menghela nafas dengan setumpuk penyesalan di dalam hatinya.
Seandainya dia tidak membiarkan Selin mengikuti ulang tahunnya, maka dia bisa memperbaiki hubungannya dengan cucunya.
Tapi sekarang, bukannya hubungan mereka semakin membaik, malah menjadi semakin memburuk.
Silas merasa prihatin dengan istrinya "Tenanglah, kita sudah berbicara dengan Laila supaya membujuk cucu kita agar mau me-"
"Itu mereka! Halo ponakan tertampan paman!" Ucap Kendra saat melihat Laila dan Andra akhirnya muncul.
Terlihat pria kecil itu sedang melirik semua orang di meja makan dan baru merasa tenang saat tidak melihat Selin di rumah itu.
"Duduklah,, duduk!" Silas langsung memberi kode pada Laila dan Andra supaya duduk.
Laila membantu Andra duduk di sebelah Kendra lalu ia di sebelah Andra.
"Ayo,, ayo makan!" Tetua sangat bersemangat karena itu adalah pertama kalinya mereka makan malam bersama cucu mereka.
"Sambil makan, kedua Tetua terus memandangi cucunya yang makan dengan lahap.
__ADS_1
Bahkan, sayur-sayuran yang ditaruh Laila di piring Andra, semuanya dihabiskan seperti makan daging.
Melihat kedua Tetua memperhatikan Andra, Laila kemudian mendekat pada Andra dan berbisik di telinga pria kecil itu.
Semua orang penasaran tentang apa yang dibisikkan oleh Laila pada Andra, tapi setelah Laila selesai berbisik, Andra menatap semua orang lalu mengambil sepotong udang dan menaruhnya di piring kakeknya lalu di piring Weleni dan juga Kendra.
Semua orang sangat terkejut dan senang, tapi, yang paling tersenyum adalah Kendra saat pria itu menatap Andra sambil tersenyum.
"Ponakanku sayang mengapa tidak memberi sepotong udang pada ayahmu?" Tanyanya.
Andra menyipitkan matanya lalu melihat dengan sinis pada ayahnya sebelum membuang muka.
"Hahaha,,, itu dia! Sebab dari segala ketidaksukaan Andra!
Itu adalah kau sendiri!" Ucap Kendra menertawakan kakaknya.
"Sayang, Terima kasih untuk udang yang kau berikan, ini nenek berikan juga padamu sepotong daging ayam." Kata Weleni dengan mata berkaca-kaca nya lalu menaruh sepotong daging ayam di piring Andra.
Laila melihat Andra hanya menatapi daging ayam itu lalu dia kembali berbisik ditelinga Andra.
Setelah berbisik, Andra mengangkat wajahnya dan tersenyum pada neneknya sebelum mengambil sepotong daging ayam itu dan memakannya dengan lahap.
Seketika, Weleni langsung hanyut dalam keharumannya dan menangis tersedu-sedu sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Andra sangat bingung karena neneknya malah menangis, pria kecil itu menatap pada Laila seolah mencari jawaban.
__ADS_1
"Nenek merasa sangat senang hingga menangis." Jawab Laila.
Setelah makan malam itu, Andra berubah sikap secara total.
Jika biasanya lelaki itu langsung masuk ke dalam kamar dan mengurung diri untuk menghindari semua orang, maka hari itu dia berkumpul bersama semua keluarga di lantai 1.
Pada pukul 9 malam Laila akhirnya mengantar Anda ke kamar untuk tidur.
Setelah menidurkan Andra, perempuan itu keluar dari kamar Andra dan mendapati kedua tetua dan juga Samudra sedang menunggunya di depan kamar.
"Laila, Kami mau berterima kasih padamu. Berkatmu, apa yang tidak pernah kami harapkan akan terjadi akhirnya terjadi juga." Ucap Weleni lalu memeluk Laila dengan hangat.
Adalah kebencian bagi Laila dipeluk erat oleh orang asing seperti itu, tapi pada hari itu hatinya merasa hangat bagai sedang memeluk keluarganya sendiri.
"Laila, mulai sekarang kau bebas keluar masuk dari rumah ini.
Anggap saja Ini rumahmu sendiri, sekali lagi, Terima kasih untuk semua bantuanmu." Ucap Silas.
Mendapati dirinya mendapat lampu hijau, Layla tidak menyia-nyiakan kesempatan.
"Terima kasih. Tapi saya akan tetap berpegang pada kontrak yang telah saya tandatangani.
Juga, satu hal, Andra sangat membenci ibunya.
Saya tidak tahu alasannya, tapi dia paling tidak menyukai ibunya.
__ADS_1
Karena sekarang dia baru membuka diri pada semua orang, maka saya berharap tidak ada yang mengganggunya untuk beberapa waktu ke depan supaya dia tidak kembali mengunci diri." Ucap Laila.
"Benar!! Aku sudah membicarakannya dengan dokter dan mulai hari ini aku sudah mengatur supaya Selin tidak pernah datang ke rumah ini sampai beberapa bulan kedepan." Ucap Weleni mengukir senyum jahat di hati Laila.