Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 187. Lahir tanpa bulan dan bintang


__ADS_3

Weleni dan Silas baru saja kembali dari tengah pulau saat mereka terkejut melihat samudra dan Andra berlari ke dalam Villa.


Lebih mengejutkan lagi bahwa Samudra sedang menggendong seorang perempuan yang tak lain adalah Laila.


Tanpa mengatakan apapun lagi, kedua ketua langsung berlari ke Villa samudra dan mengejar ketiga orang itu ke dalam kamar.


"Ada apa ini?" Tanya Weleni saat melihat wajah Laila begitu pucat dengan keringat di sekitar keningnya.


Samudra tidak mengatakan apapun, pria itu langsung keluar dari kamar mengambil ponsel yang diletakkan di ruang tamu dan menelpon petugas kesehatan.


Sementara Andra, dia sudah duduk diatas tempat tidur sambil memegang tangan Laila. Kecemasannya terpancar dari sinar matanya yang meredup dan tangannya yang gelisah *******-***** tangan Laila.


Kedua tetua yang diacuhkan hanya bisa berdiri menunggu putranya kembali memasuki kamar.


"Ada apa ini? Kenapa Laila bisa pingsan seperti ini?" Tanya Weleni saat Samudra kembali ke kamar.


Samudra berdiri di ujung ranjang memandangi Laila, kediamannya menunjukkan rasa bersalah yang mendalam.


"Diaman dokternya?" Kata Weleni saat dia tahu kalau dua orang di depannya tidak akan mengatakan apapun.


Perempuan itu keluar dari kamar dengan gelisah mengintip keluar Villa menunggu kedatangan petugas kesehatan.

__ADS_1


Beberapa menit gelisah, akhirnya dokter datang juga dan langsung memeriksa Laila.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Weleni selaku satu satunya orang yang masih bisa berbicara dengan baik.


"Dia hanya pingsan biasa, mungkin ada sesuatu yang membuatnya terkejut hingga dia tidak mampu menerimanya. Saya tidak perlu memberikan obat ataupun infus, dia akan siuman dalam beberapa saat lagi." Kata Sang dokter sebelum meninggalkan villa itu lalu semua orang menunggu dengan cemas.


Samudra dan Andra tetap berada di dalam kamar, sementara Weleni dan Silas duduk di ruang tamu.


"Apa yang sudah dilakukan cucu dan putra kita?" Ucap Weleni yang gelisah dalam duduknya.


Kalau Layla sampai pingsan seperti itu maka ada sesuatu yang besar yang telah terjadi.


Dan yang lebih parahnya lagi kalau Laila sampai pingsan seperti itu, maka akan mempengaruhi hormon menantunya hingga menjadi lebih sulit untuk hamil.


Sementara di dalam kamar, Laila mengerjapkan matanya dan dengan kepala yang terasa berat membuka matanya.


"Mama,," ucap Andra langsung memeluk Laila.


Tatapan Laila tertuju pada suaminya yang berdiri memandanginya dengan rasa bersalah.


"Sayangku, mama baik-baik saja." Ucap Laila kembali memejamkan matanya dan mengingat ucapan Samudra.

__ADS_1


"Aku sayang Mama, mama jangan sakit." Kata Andra mengeratkan pelukannya pada Laila.


"Maafkan Mama." Ucap Laila balas memeluk Andra.


Melihat dua orang itu kini berpelukan dan Laila menghindarinya, Samudra akhirnya memilih keluar dari kamar.


Pria itu berdiri di balkon belakang memandangi langit yang sudah gelap.


Tidak ada bulan maupun bintang.


Nasib langit malam itu sama seperti nasibnya.


Sementara Laila, perempuan itu menunggu Andra terlelap lalu keluar dari kamar.


"Ayah, Ibu," ucapnya melihat Weleni dan Silas.


"Oh sayang, kau sudah siuman? Bagaimana perasaanmu? Apakah Samudra yang sudah membuatmu pingsan? Katakan pada ibu, apa yang sudah dilakukan pria itu?!" Langsung tanya Weleni.


"Bukan masalah besar Bu, hanya salah paham sedikit. Aku harus bicara dengannya dulu." Ucap Laila meninggalkan kedua tetua dan menyusul Samudra di balkon.


Melihat punggung kesepian pria itu, Laila menghela nafas dan berjalan memeluk Samudra dari belaknag.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini? Angin malam bisa menyakitimu." Ucapnya.


__ADS_2