
Meninggalkan Dewa dengan cepat, Laila menutup pintu di belakangnya dan menatap seorang pria lain yang kini memandangnya dari balik kacamata hitamnya.
"Ada apa?" Tanya Laila dengan ketus.
"Ikut denganku sebentar." Ucap pria itu penuh nada penekanan.
Laila mendengus kesal, yang ada dipikirannya sekarang adalah cepat-cepat keluar dari rumah sialan milik Dewa.
Tapi, melihat Geral sangat serius, Laila yang selalu bersama dengan rasa penasarannya langsung mengikuti lelaki itu ke dalam lift.
Mereka segera tiba di lantai paling atas rumah itu, sebuah taman.
Dari taman itu, Laila dapat melihat seluruh blok di kompleks yang telah dibeli oleh Dewa.
"Ck,, ck,, berapa banyak uang yang ia habiskan untuk membeli semua rumah di kompleks ini?"
"Baginya, itu tidak seberapa." Ucap Geral dengan nada tidak peduli selagi pria itu berjalan ke sebuah kursi ayunan dan duduk memandangi Laila.
"Aku menemukan seorang guru yang bisa mengajarimu beladiri. Bagaimana menurutmu?" Tanya Geral.
"Guru bela diri?" Laila menghela nafas, "Sudah dari dulu aku belajar bela diri, tapi kau tahu sendiri, anak itu mati karena perkelahian.
__ADS_1
Kau mau membunuhku dengan memancing traumaku lagi?!" Ucap Laila yang selama ini menghindari perkelahian secara fisik akibat rasa trauma nya di masa lalu.
Bahkan untuk menoleh pada seni bela diri pun, perempuan itu sangat enggan.
Sebabnya, ia menjadi satu-satunya anggota geng mafia yang tidak memiliki keahlian beladiri.
"Ini beda, guru ini adalah perempuan yang juga merupakan ahli psikolog, dia akan membantumu menghilangkan traumamu dan juga mengajarimu sini bela diri." Ucap Geral yang sangat yakin dengan sarannya.
Tapi, lelaki itu tidak tahu kalau dalam hatinya Laila sedang menertawakan pria di depannya.
Jelas trauma Laila sudah menemukan obatnya!
"Untuk saat ini, aku tidak mau melakukannya. Aku akan mempertimbangkannya setelah misi ku selesai."
Apalagi dari Samudra!" Kata Geral yang terlalu cemas.
"Aku sudah punya obat bius yang kubawa kemana-mana, jadi jangan khawatir lagi!" Ucap Laila tidak meninggalkan pria itu, tapi ia berhenti saat Gerald kembali berbicara.
"Sekali menggunakan obat itu, mungkin bisa mengecohnya, tapi untuk kedua dan ketiga kalinya, Kau pikir Samudra begitu bodoh?" Tanya Geral.
"Urus urusanmu sendiri." Ucap Laila sebelum lanjut meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Mendengar orang menjelekkan Samudra, hatinya seolah ingin mencabik-cabik orang itu!
Jadi lebih baik menghindari Geral daripada terus mendengarkan sesuatu yang menyakitkan yang keluar dari mulut pria itu.
Meninggalkan kompleks mewah milik Dewa, Laila kembali ke apartemennya.
Membuka kembali dokumen yang diberikan Dewa, Laila merasa dilema untuk keputusan yang akan ia ambil.
'Sial! Apa yang harus kulakukan?' gumam Laila dengan wajah frustasinya.
Tidak ingin terlalu pusing, Laila melemparkan dokumen itu ke sembarang arah lalu berjalan ke ruang kerjanya dan menyalakan komputer.
Melupakan waktu karena fokus bekerja, Laila baru tersadar saat ponselnya berdering.
"Halo?" Jawabnya.
"Kau di mana?" Tanya Samudra yang sudah tiba di rumah tapi tak mendapati perempuan itu di sana.
"Oh, aku masih di luar! Aku akan kembali sekarang." Jawab Laila.
"Tunggu, biar aku menjemputmu. Cukup kirim alamatmu saja." Ucap Samudra lalu panggilan itu langsung di akhiri secara sepihak, hal itu membuat Laila menjadi sangat panik.
__ADS_1
'Sialan! Bagaimana kalau aku kedapatan oleh mata-mata Samudra.' Gumamnya sangat panik.