Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 98. Teman Bisnis


__ADS_3

Menghela nafas, Samudra berpindah tempat duduk lalu duduk di kursi yang tadi diduduki Andra.


Ia kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Laila dan memberi sebuah ciuman besar di bibir perempuan itu.


"Ini adalah istriku!" Ucap Samudra pada orang-orang yang melihat mereka.


Laila merasa sangat malu dengan pipi memerah, ia mencubit pria yang masih setia memeluknya.


"Pria gila! Tidak dapat kau mengontrol diri?!" Gear Layla dengan suara pelan sembari berusaha mendorong Samudra.


"Jadi tolong, jangan meliriknya lagi, dia sangat pemalu!" Lagi kata Samudra setengah berteriak pada orang-orang yang kini ini ribut karena ulah Samudra.


"Anak muda, kami sudah tahu. Jadi berhenti memeluk istrimu, dia mungkin remuk karena pelukanmu!" Jawab seorang kakek tua yang duduk di meja tak jauh dari meja Laila dan samudra.


Mendengar ucapan kakek itu, Samudra baru tersadar bahwa ia kini memeluk Laila dengan sangat erat.


Bahkan tenaga Laila untuk mendorongnya juga tidak dirasakan olehnya karena rasa kesal yang memenuhi dirinya.


"Hah, puas?!" Ucapan Laila terengah karena ulah Samudra.


"Maafkan aku, aku hanya sedikit kesal." Kata Samudra merasa bersalah.


"Ya,, hanya sedikit!" Ucap Laila dengan wajah memerah.


Sementara seorang pria kecil yang sedang memberi makan ikan, pria itu dengan tenang melempar sedikit demi sedikit makanan ikan dan memperhatikan ikan-ikan yang berebut makanan.


Namun, Andra terkejut saat tiba-tiba saja sebuah tangan datang mencuri makanan ikan di wadah yang ia pegang.


Menoleh ke samping kanannya, ia mendapati seorang gadis kecil tersenyum ke arahnya sebelum melemparkan makanan ikan ke dalam kolam.

__ADS_1


"Ayo berteman!" Ucap gadis kecil itu dengan suara yang manis sebagai suara anak kecil pertama yang didengar oleh Andra.


Dan menurutnya, suara itu sangat enak didengar meski suara mamanya jauh lebih merdu.


"Namaku Sarah. Siapa namamu?" Tanya Sarah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Andra.


Memandangi tangan yang terulur di depannya, Andra tidak memiliki niat untuk menyambut niat baik Sarah.


Menghadapi sikap Andra, Sarah menurunkan tangannya dan berbalik memandangi kolam ikan di depannya.


"Huwa,,,!!!! Hikss haaaa..!!" Gadis kecil itu tiba-tiba menangis histeris.


Suaranya yang besar menarik perhatian semua orang hingga seorang lelaki datang menghampiri mereka.


Membawa Sarah ke gendongannya, pria bernama Angkasa itu berkata "Sayang, ada apa?" Tanyanya.


"Halo Tuan, ini anak saya. Gadis kecil yang manis, maafkan dia ya, dia tidak berniat menyakitimu," Laila meminta maaf pada gadis kecil yang menangis sambil mengelus kepala Andra yang kini memeluknya dengan erat.


"Ayah,, aku tidak mau memaafkannya! Pokoknya dia harus berteman denganku!" Gadis kecil di dalam pelukan pria tampan itu terlihat bersikukuh.


"Pria kecil, siapa namamu?!"


"Namanya Andra, dia memang pemalu. Ini pertama kalinya dia keluar rumah, jadi belum terbiasa berinteraksi dengan orang asing.


Sekali lagi tolong maafkan anakku." Ucap Laila.


"Sayang, kau dengar itu, dia terlalu malu karena baru pertama kali bertemu dengan gadis yang cantik."


Memiringkan kepalanya, Sarah mengusap air matanya dan memandangi Andra yang memeluk Laila dengan erat.

__ADS_1


"Jadi dia mau berteman denganku tapi dia malu?" Tanya gadis kecil itu dengan suara yang sangat manis.


"Hmm,, tentu saja. Siapa yang tidak mau berteman dengan Putri kecil ayah yang cantik ini?" Ucap Angkasa.


Seketika, gadis kecil yang tadi menangis itu langsung terlihat ceria dan meminta turun dari gendongan ayahnya.


"Aku sudah tahu itu! Kau hanya malu!" Katanya dengan riang meraih tangan Andra yang memeluk Laila.


"Sayangku, dia gadis kecil yang imut, bertemanlah dengannya." Ucap Laila membujuk Andra.


"Ya!! Bertemanlah denganku! Aku sangat cantik, pintar, dan imut, kau pasti senang jika kita berteman!" Kata Sarah penuh percaya diri.


Melirik Sarah yang berdiri dengan percaya diri, Andra terlihat tertarik meski ia masih enggan melepaskan pelukannya dengan Laila.


"Hei, kalian, kemarilah!" Ucap Samudra yang dari tadi melihat keempat orang itu.


"Hei, itu kau!" Ucap Angkasa mengenali teman bisnisnya.


Akhirnya, kelima orang itu duduk bersama mengelilingi satu meja.


@Interaksi



Haha,, ngaku-ngaku jadi anak, maaf ya, kalau otor punya anak, anaknya ya anak sultan,


gak perlu ngemis terkenal karena memang udah terkenal sebelum lahir!!🤭


Lagi pula, otor gak sejahat yang kalian bilang kok, cuma lebih jahat lagi,,,😒

__ADS_1


__ADS_2