
Setelah kembali ke kamarnya, Kendra begitu gelisah memikirkan Melinda.
Barry baru saja memberitahunya kalau pria itu hendak melakukan sesuatu yang bisa membuatnya lebih dekat dengan Melinda.
"Sial..! Dia tidak akan mempercayaiku jika aku mengatakan kalau Barry hendak mencelakainya. Lagipula, aku tidak tahu rencana pria itu!" Ucap Kendra dengan gelisah.
Kendra masih bolak-balik di dalam kamarnya saat bel kamarnya berbunyi dan dia melihat seorang perempuan sedang menunggu di depan kamarnya.
Tanpa sadar, pria itu memperhatikan penampilannya sebelum membuka pintu kamar untuk Melinda.
"Ada apa?" Tanyanya membuat Melinda terkejut.
Pria itu berbicara normal, tidak ada sedikitpun nada kekesalan, kebencian ataupun nada tidak suka yang biasanya selalu mewarnai setiap kata-kata yang keluar dari mulut Kendra untuknya.
"Aku ingin mengambil tasku." Ucap Melinda.
"Oh, dimana kau meletakkannya?" Tanya Kendra.
"Di samping meja rias." Ucap Melinda sebelum menyadari sesuatu yang salah, Mengapa di dalam kamar seorang pria terdapat meja rias untuk seorang perempuan?
"Oh, ambil saja." Ucap Kendra menyadari kebingungan Melinda.
'Dia pasti bertanya-tanya Mengapa ada meja rias di kamarku, ini adalah rencana ibuku yang terlalu,, hah,, sudahlah. Sekarang yang paling penting, bagaimana cara memperingatkan perempuan judes ini?' gumam Kendra tidak menemukan ide yang tepat.
__ADS_1
Melinda memasuki kamar Kendra dan mendapatkan koper dan tasnya di samping meja rias.
"Terima kasih." Ucap Melinda hendak keluar dari kamar Kendra.
"Tunggu," ucap Kendra membuat Melinda menghentikan langkah kakinya dan menatap Kendra dengan wajah penuh kecurigaan.
'Apakah pria ini ingin mencari masalah lagi?' gumamnya dalam hati.
"Ini,, aku ingin bilang kalau, kau harus hati-hati." Ucap Kendra.
"Baiklah. Terima kasih." Jawab Melinda masih dengan nada suara yang cuek lalu perempuan itu segera menarik barang bawaannya keluar dari kamar Kendra.
''Kan? Di tidak akan percaya padaku!' gumam Kendra.
Baru saja Melinda membuka pintu kamar Kendra saat seorang pria sedang berdiri membelakanginya di mana pria itu sedang menekan bel kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?!" Melinda menjadi sangat waspada, dia takut kalau pria itu memiliki niat lain.
"Begini, itu adalah temanku, Namanya Barry, Oya, kau sudah tahu. Dia memiliki niat buruk untukmu, jadi sebaiknya kau tetap di sini sampai dia pergi." Ucap Kendra membuat Melinda terkekeh.
"Kalau dia punya niat buruk, maka niatmu padaku jauh lebih buruk daripada niatnya!" Ucap Melinda melototi Kendra.
"Kau ini,, kau pikir aku mau menolongmu?! Ya sudah, cepat keluar! Persetan dengan perempuan sepertimu..!" Ucap Kendra kehabisan sabar.
__ADS_1
Itu adalah pertama kalinya ia menyelamatkan seorang perempuan asing yang hendak dijahati oleh seorang lelaki mesum.
Tapi ternyata, berbuat baik jauh lebih sulit daripada berbuat jahat!
Menggertakkan giginya, Melinda memalingkan wajahnya dari Kendra dan membuka pintu kamar Kendra.
Tapi, perempuan itu terkejut saat melihat Barry sedang menatapnya. Dengan spontan, Melinda menutup pintu kamar Kendra dan tangannya gemetaran memegang handel pintu.
"Ada apa?" Tanya Kendra.
"Itu,,"
Ding dong..!
Kendra melihat di Door viewer dan mendapati Barry sedang menekan bel kamarnya.
Wajah pria itu terlihat penuh nafsu, selayaknya pria yang baru saja mengkonsumsi beberapa pil sebelum menjalankan aksinya untuk melecehkan perempuan.
"Ini yang ku bilang, dia yang memiliki niat buruk untukmu!" Ucap Kendra menarik Melinda ke arah tempat tidurnya dan mendudukkan perempuan yang terlihat shock itu.
Ia paham perasaan seorang gadis perawan saat melihat tatapan aneh dari seorang pria mesum.
@Interaksi
__ADS_1
Semangat berkarya..