Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 186. Kejujuran Samudra


__ADS_3

Saat Samudra menyusul ke tepi pantai, pria itu mendapati Andra dan Laila sudah duduk di pinggir pantai beralaskan sebuah selendang yang di gerai di atas pasir.


Pria itu mengeryit saat melihat keduanya tampak fokus pada sesuatu yang kecil di tengah-tengah mereka.


'Hal apa yang menarik perhatian keduanya?' gumam Samudra sembari kebingungan saat mendengar keduanya tiba-tiba tertawa secara bersamaan.


Sangat jarang momen seperti itu terdengar, apalagi, Andra sampai tertawa lepas.


Menyimpan rasa penasarannya, Samudra melangkahkan kakinya mendekati kedua orang itu dan semakin jelas bahwa apa yang mereka fokuskan ternyata seorang bayi kecil berbalut pakaian serba pink.


"Oh, sayangku, kemarilah," ucap Laila memperbaiki duduknya saat melihat suaminya sudah datang.


"Ayah, adik kecil ini sangat imut, Mama bilang dulunya aku juga seimut ini. Mama juga bilang kalau aku mungkin bisa memiliki adik seimut ini!" Seru Andra membuat Samudra tertegun mendengar kata ayah yang dilontarkan putranya.


Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun anaknya akhirnya memanggilnya dengan sebutan ayah.


Melihat Samudra tertegun, Laila mengerti bahwa pria itu sedang merasa haru, tapi rasa haru Samudra yang mengambil waktu terlalu lama membuat Andra menjadi agak kesal.


"Sayang, putra kita berbicara denganmu!" Ucap Laila menepuk lengan Samudra.


"Oh, hmm, ya,, ayah dan ibumu akan membicarakannya." Jawab Samudra.

__ADS_1


"Ibu?" Tanya balik Andra yang merasa heran dengan kata panggilan Mama yang diganti menjadi Ibu.


Sebutan Ibu lebih intim dari Mama!


"Sayangku, kalian berdua, sepertinya sekarang Ayah harus jujur." Ucap Samudra menghela nafas membuat kedua orang itu merasa sangat aneh.


Bukan hal baru kalau Samudra memiliki banyak rahasia karena pria itu memang memiliki sikap yang selalu tertutup, apalagi tentang masalah perusahaan.


Tapi, sebuah rahasia yang perlu diketahui Laila dan Andra, itu sangat mengejutkan, rahasia apa yang mereka berdua tidak tahu dan begitu penting?


"Sayangku? Apa yang kau maksud?" Tanya Laila dalam ketegangannya.


Entah kenapa, tapi jantungnya berpacu cepat.


"Haha,, hanya itu? Aku tahu itu, kau memang selalu mengganggu setiap malam!" Kekeh Laila sebelum mendatarkan wajahnya dan kembali menatap suaminya dengan tajam.


"Cepatlah katakan intinya! Kami berdua menunggu!" Ucap Laila.


"Mama benar," ucap Andra membela Laila.


"Bukan seperti itu, tapi ini tentang pria yang sejak 5 tahun yang lalu terus hadir dalam mimpi burukmu." Ucap Samudra.

__ADS_1


Laila tertegun menatap Samudra, satu-satunya pria yang selalu muncul dalam mimpi buruknya sejak lima tahun terakhir adalah pria tanpa wajah yang selalu membuatnya berteriak meminta tolong.


Bagaiman bisa itu suaminya?


"Kau membuat mamaku jadi bingung!" Teriak Andra dengan raut kekesalan sembari berjalan ke pangkuan Laila dan memeluk perempuan itu dengan erat.


"Ini benar, pria dimalam 5 tahun yang lalu adalah aku. Dan bayi yang meninggal itu, sebenarnya tidak meninggal, tapi bayi itu, saat ini adalah anak kecil yang berada di pangkuanmu." Ucap Samudra sembari mengepalkan tangannya.


Satu-satunya hal yang membuatnya mampu menceritakan itu bahwa saat ini Andra sedang ada bersama mereka.


Dan lagi, hubungan kedua orang itu sangatlah dekat, ia tidak akan marah kalau Laila sampai membencinya, tapi dia tidak mau kalau Laila juga membenci anak mereka.


"A,, apa?" Laila mengerjapkan matanya berusaha mencerna ucapan Samudra.


Tangan Laila yang semula hangat berubah menjadi dingin saat matanya melihat Andra lalu melihat bayi yang berbaring terlelap di dekat mereka.


Bayi, Andra, pria malam itu, Samudra.


Otak Laila tidak bisa mencerna dengan baik sampai perempuan itu merasa sangat pusing dan jatuh karena pingsan.


Melihat itu, harapan Samudra meredup seperti matahari yang sedang tenggelam di belakang mereka, pria itu dengan panik mendekati Laila.

__ADS_1


@Interaksi


Kalo ada typo, silahkan edit sendiri, otor ngantuk..!


__ADS_2