
"Apa semuanya sudah di atur?" Tanya Laila pada Samudra di mana kini mereka berdua sedang berada di ruang kerja Laila di kediaman Samudra.
"Sudah, jika kamu sudah siap, aku akan memerintahkan mereka menjalankan programnya." Ucap Samudra yang sudah menyuruh Ell mengatur semua rencana mereka untuk mengibuli Dewa.
Mereka akan menggunakan informasi yang pernah diberikan Dewa pada Laila supaya pria itu tidak curiga bahwa kini Laila berada di pihak Samudra.
Laila hanya mengangguk lalu perempuan itu membuka program yang sudah ia siapkan untuk memata-matai sistem perusahaan Dewa.
Samudra memperhatikan komputer Laila di mana kode-kode keamanan sistem perusahaan Dewa terjajar dengan rapi dan sangat telanjang di depan matanya.
Berusaha menghafal semua kode-kode itu, perhatian Samudra dialihkan oleh layar komputer di sebelah kanan Laila di mana sebuah grup chat sedang dibuka.
Geral... 'Curi kesempatan meninggalkan kediaman Samudra, kami butuh bantuanmu di kantor.'
"Sayang, kau mendapat pesan dari Geral." Ucap Samudra dengan nada kecemburuan karena tidak suka pria lain mengirim pesan pada Laila.
Laila tersenyum menangkap bahasa tubuh pria itu.
"Tidak usah cemburu, geral sama sekali tidak sebanding denganmu, bahkan jika dibandingkan dengan sehelai rambut mu." Ucap Laila mengusap kepala Samudra sebelum mengalihkan perhatiannya pada pesan Geral.
Laila... 'Aku tidak bisa, Samudra akan curiga jika aku keluar. Hari ini, dia akan mengaktifkan programnya.'
__ADS_1
Geral... 'Apa?! Hari ini?!'
Laila... 'Ya, sebaiknya cepat beritakan pada Dewa atau kalian akan ketinggalan kesempatan untuk menghancurkan Samudra!'
Geral... 'Sialan! Tidak bisakah kau mencegah Samudra barang dua hari lagi? Sistem perusahaan belum selesai diperbaiki!'
Laila... 'Kau pikir aku siapa hingga Samudra mau mendengarku?!'
Setelah mengetik pesan terakhirnya, Laila menutup halaman itu dan mengalihkan perhatiannya pada program yang ada di komputer utama.
"Sayang, ayo mulai sekarang!" Ucap Laila diangguki Samudra yang segera meraih ponselnya dan menelepon Ell untuk meluncurkan program yang telah dibuat Laila.
Menutup panggilan telpon dengan Ell, Samudra langsung menarik Laila ke pangkuannya dan membungkam bibir perempuan itu.
"Andra ada di rumah." Ucap Laila memperingatkan Samudra.
Akan sangat merepotkan saat Andra memergoki mereka dalam posisi yang tidak pantas.
"Dia sudah tidur." Ucap Samudra kembali membungkam bibir Laila dan memperdalam ciumannya.
Tangan Samudra bergerak dari tengkuk Laila turun ke pinggang Laila dan menarik pinggang perempuan itu supaya semakin dekat dengannya.
__ADS_1
"Hmm!" Laila tak mau kalah, dia mempererat pelukannya di leher Samudra dan menekan bibirnya supaya lebih dalam meraih lidah manis milik Samudra.
"Tinggal 10 menit." Ucap Laila di tengah-tengah ciuman mereka untuk memperingatkan Samudra bahwa dalam 10 menit lagi mereka harus mengecek program yang mereka jalankan atau mereka akan kalah dari Dewa.
"Hmm," jawab Samudra terus menikmati ciuman mereka.
10 menit berada dalam posisi saling berpangku dan berciuman, akhirnya mereka menyudahi aktivitas mereka dan kembali fokus pada komputer.
"Mereka tidak melakukan apa pun." Ucap Samudra menatap layar komputernya dan tidak melihat satu pun pergerakan Dewa untuk memanfaatkan informasi yang dimuat dalam sistem perusahaan mereka.
"Bagaimana bisa? Dewa seharusnya melakukannya, menyusup dan menyebarkan informasi itu." Ucap Laila merasa ada yang salah.
Tidak mungkin Dewa melewatkan kesempatan emas itu bukan?!
@Interaksi
Haha... Presiden ajah kalo datang di sini gak ada karpet merah, apa lagi kecebong...??
BTW, selamat datang dan semoga beta...
__ADS_1
Ctt: Jangan komen kalo gak mau terkenal!
Satu bab dulu ya,, yang lain baru mau di garap.