Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 167. Kebahagiaan hampir sempurna


__ADS_3

Setelah tidur seharian, Laila Akhirnya bisa mengumpulkan tenaganya dan membuka matanya yang masih terasa berat.


"Mama," Laila langsung mendengar suara seorang pria kecil yang terdengar lembut namun dipenuhi nada kuatir.


Dan matanya menangkap sosok pria kecil dengan mata sembab dan wajah yang terlihat pucat.


Laila menghela nafas, ternyata itu kesayangannya.


"Mama baik-baik saja." Ucap Laila dengan suara lemah.


"Jangan bicara dulu, dokter akan segera tiba." Ucap Samudra sembari menekan tombol nurse call di dalam kamar Laila.


Laila berusaha tersenyum pada putranya untuk memberitahu pria kecil itu bahwa dia benar-benar baik-baik saja.


"Mama,," ucap Andra dengan manja sembari memberi sebuah ciuman di pipi Layla.


Setelah dokter datang, Laila kembali di periksa.


"Dia sudah baik-baik saja, sekarang hanya perlu membiarkan pasien tetap tenang dan merasa nyaman supaya kepulihannya jadi lebih cepat." Kata Sang dokter setelah selesai memeriksa Laila.


Samudra mengangguk lalu memperbaiki selimut Laila.


Setelah makan sedikit bubur dan tidur beberapa jam lagi, Laila bangun dengan tubuh yang lumayan segar dari sebelumnya.


Saat ia bangun, hanya Samudra yang menemaninya.

__ADS_1


"Diaman putra kita?" Tanya Laila sambil melirik seluruh ruang kamarnya.


"Dia akan muncul sebentar lagi." Ucap Samudra lalu seseorang muncul dari balik sekat yang membatasi kamar Layla dengan kamar yang diperuntukkan untuk orang yang menunggu pasien.


Orang itu adalah Weleni.


"Sayang, bantu aku duduk." Ucap Laila pada Samudra lalu pria itu menaikkan sandaran tempat tidur Laila.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Weleni masih dengan wajah dipenuhi rasa bersalah karena dia terus mengingat-ngingat kecurigaannya pada Laila.


"Sudah jauh lebih baik," jawab Laila.


"Ibu minta maaf ya,, semua ini salah ibu hingga kamu jatuh sakit seperti ini. Seharusnya ibu tidak pernah mencurigaimu, tolong maafkan ibu." Ucap Weleni membuat Laila langsung menatap Samudra.


"Aku sudah menceritakan semuanya pada ibu." Kata Samudra.


Mereka masih sementara berpelukan saat seorang pria kecil muncul dari pintu menuju dapur dengan segelas jus berwarna merah di tangannya.


"Berhenti menangis, Andra ada disini." Ucap Samudra memperingatkan kedua perempuan yang terlihat mellow itu.


Menyeka air matanya, Laila menoleh pada Andra dan memberikan sebuah senyum hangat.


"Mama menagis lagi,," ucap Andra dengan wajah sedih.


"Tidak sayang, mama hanya senang karena sekarang sudah merasa lebih baik dan bisa memeluk nenek." Ucap Laila.

__ADS_1


"Minuman. Untuk Mama," ucap Andra menyerahkan jus di tangannya.


"Makasih sayangku," kata Laila menerima jus itu dan mengisap sedotan yang sudah disiapkan Andra pada gelasnya.


"Sangat enak, Apakah kesayanganku membuat jus ini penuh cinta? Mengapa Mama langsung merasa sembuh setelah meminumnya?" Ucap Laila setelah menghabiskan setengah gelas dari jus yang dibawakan oleh Andra.


Menjawab pertanyaan Laila, Andra tersenyum lebar dan mengangguk berkali-kali karena dipenuhi kegembiraan.


"Kalau mama masih mau, aku akan membuatnya lagi." Ucap Andra.


"Nanti saja sayang, kamu pasti lelah, kemarilah dan peluk Mama." Ucap Laila mengulurkan tangannya untuk membantu Andra naik ke tempat tidur.


Tidak mau membuat istrinya kelelahan, Samudra langsung mengangkat Andra ke tempat tidur lalu kedua orang itu berpelukan dengan hangat.


Kebahagiaan meliputi semua orang di ruangan itu termasuk Silas yang baru saja datang.


Akhirnya, setelah sekian lama, kebahagiaan di keluarga mereka kini hampir sempurna dengan kehadiran Laila di keluarga mereka.


"Hah, seandainya putra kedua kita juga sudah menemukan perempuan yang ia cintai." Ucap Silas menggenggam tangan istrinya karena merasa sangat terbebani dengan Putra keduanya itu.


"Dia akan segera menemukannya." Jawab Weleni.


@Interaksi


Maaf ya,, janjinya sore, eh malah jadi malam gini..

__ADS_1


Tapi ini bukan salah otor sih, ini salah matahari yang terlalu cepat tenggelam...!😜


__ADS_2