
"Apa yang terjadi?" Weleni sangat panik saat Samudra menghalangi mereka untuk masuk ke kamar cucu mereka.
"Kalau kalian masuk, suasananya akan menjadi lebih kacau." Ucap Samudra.
"Tapi,, apa yang terjadi? Mengapa Andra kembali teriak-teriak seperti ini? Sudah lama dia tidak melakukannya!" Ucap Weleni dengan wajah yang sangat cemas.
Tidak menjawab apapun, Samudra hanya berdiri di depan pintu membuat dua orang di depannya semakin cemas.
Sementara di dalam kamar, Andra sudah tenang, tapi pria kecil itu terlihat enggan mengeluarkan suara.
"Mama di sini sayang. Mama selalu bersamamu." Ucap Layla mengelus punggung kecil Andra.
Tangan kecil Andra yang berada di belakang Laila tiba-tiba saja bergerak menggambar beberapa pola yang disadari Laila sebagai rangkaian huruf.
"Dapatkah kau mengulanginya lagi? Mama belum mengerti." Ucap Laila.
Tetap memeluk Laila, Andra mengulangi menulis huruf di punggung Laila menggunakan jari telunjuknya.
"Jadi kesayanganku sedang lapar? Kalau begitu, tunggu di sini sebentar, Mama akan mengambil makanan untukmu." Ucap Laila hendak melepaskan pelukan mereka ketika Andra malah mengeratkan pelukannya.
Pria kecil itu kembali menggerakkan jari telunjuknya di punggung Laila.
"Tapi, kalau mama tetap disini lalu siapa yang akan mengambil makanannya?" Tanya Laila.
Kembali, Andra menjawab Laila dengan menggunakan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Pria itu? Apa maksudmu ayahmu? Kalau begitu Mama akan tetap di kamar ini tapi biarkan mama membuka pintu untuk berbicara dengannya." Lagi kata Laila dijawab anggukan Andra lalu mereka melepaskan pelukan.
Laila berjalan ke arah pintu dan membuka sedikit pintu untuk berbicara dengan samudra.
"Laila, ada apa dengan Andra? Bolehkah kami masuk dan melihatnya?" Tanya Weleni dari balik punggung Samudra.
"Dia sedang ada dalam suasana hati yang buruk. Ayah dan ibu tolong bersabar," ucap Laila.
"Apa yang bisa kubantu?" Tanya Samudra.
"Andra lapar, tolong ambilkan kami makanan." Ucap Laila.
"Baiklah," jawab Samudra lalu pria itu segera meninggalkan pintu kamar Andra.
Setelah Samudra pergi, Weleni langsung mendekati pintu dan berusaha mengintip kedalam untuk melihat cucunya.
"Maafkan aku Bu," ucap Laila merasa bersalah pada Weleni dan juga Silas.
Dua orang tua itu tidak akan menahan rindu dan cemas memikirkan cucu mereka seandainya Laila lebih bijak mengambil keputusan.
"Jangan cemas, kami percaya kau bisa menangani Andra. Kami hanya rindu melihat wajah cucu kami." Ucap Weleni.
Laila masih ingin berbicara ketika sebuah tangan kecil menarik bajunya.
"Maafkan aku," ucap Laila pada Weleni dan Silas lalu menutup pintu kamar dan berlutut melihat putranya.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" Tanya Laila.
Tidak menjawab apapun, Andra hanya mengulurkan tangannya dan memeluk Laila dengan erat.
"Jangan kuatir, Mama selalu di sini kok." Ucap Laila yang entah sudah ke berapa kali mengingatkan Andra kalau dia selalu bersama pria kecil itu.
Tapi, Laila menyadari bahwa apapun yang ia katakan tidak mengurangi kecemasan Andra.
Pria kecil itu kembali seperti awal pertemuan mereka di mana Andra sama sekali tidak bisa lepas dari Laila.
Sementara diluar, Samudra baru saja naik ke lantai dua saat ia melihat ayah dan ibunya sedang menempelkan kuping mereka ke pintu kamar Andra.
"Kalian tidak akan mendengar apapun." Ucap Samudra.
"Hah,, kau tidak tahu betapa cemasnya kami sejak mendengar suara teriakan cucu kami!" Ucap Weleni sambil menghela nafas.
Tidak mengatakan apapun, Samudra hanya mengetuk pintu kamar Andra lalu Laila segera membuka pintu.
"Terima kasih. Oya, Ayah dan ibu tidak perlu menunggu di depan pintu. Aku akan memberitahu kalian saat Andra sudah mau menemui kalian." Ucap Laila.
"Baiklah, tolong bujuk Andra." Ucap Weleni sebelum pintu kamar kembali tertutup.
@Interaksi
__ADS_1
Jangan salahkan otor, salahkan keyboardnya...!! Ah, gimana sih?! 😒✌️✌️🤭
Makasih dah kasih tau ya,, udah di revisi..👍