
Di pinggir pantai yang semula tenang dan damai kini menjadi sangat kacau karena pertempuran antara dua pihak yang sama-sama ingin mendapatkan kemenangan di tangan mereka.
Karena orang-orang Samudra yang berjumlah sedikit, mereka dengan cepat dipukul mundur hingga harus bersembunyi di balik pepohonan untuk menghindari peluru yang terus di hujankan ke arah mereka.
"Tuan," seorang pria yang menjadi ketua dari seluruh pimpinannya melihat kearah Samudra yang kini ikut bersembunyi di salah satu pohon.
"Kita hanya perlu bertahan sebentar sampai istri dan anakku melarikan diri dari pulau ini." Ucap Samudra diangguki bawahannya.
Mereka tidak menyangka bahwa beberapa kapal perang benar-benar akan menyerang mereka di pulau itu.
Meski Samudra memiliki banyak fasilitas untuk melindungi pulau itu, tapi kebijakan didengar Mr tidak memperbolehkannya membawa terlalu banyak senjata.
"Haha,, Samudra Anderson..! CEO Anderson group akan mati di malam cerah ini..!" Tiba-tiba sebuah suara yang berteriak terdengar dari belakang Samudra.
'Jadi Robert?' Gumam Samudra dalam ketenangannya.
"Aku akan tinggal menghalau mereka, bahwa semua orang-orang kita dan pastikan anak dan istriku keluar dari pulau ini dengan selamat." Ucap Samudra.
"Tapi Tuan," pria yang dibicarai Samudra terlihat tidak bisa mematuhi perintah tuannya.
"Ini perintah! Cepat laksanakan!" Kata Samudra sebelum melangkah keluar dari tempat persembunyiannya sambil mengangkat tangan.
'Sial..! Tuan benar-benar mengorbankan dirinya untuk melindungi kami semua.' gumam sang pria yang kini memejamkan matanya sebelum memberi kode pada semua orang orangnya supaya mereka mundur.
Akhirnya, dengan kebingungan dan hati yang terbagi dua, seluruh pasukan yang awalnya melindungi Samudra berlari meninggalkan tempat itu, meninggalkan Samudra yang kini sendirian menghadapi tiga kapal perang dan puluhan orang-orang terlatih.
__ADS_1
"Wahaha,,, begini saja?" Robert tertawa dengan keras saat melihat Samudra telah ditinggalkan oleh para anak buahnya dan pria itu berjalan mendekatinya sambil mengangkat kedua tangannya.
"Yang kalian inginkan adalah aku, kalian bisa membawa aku dan melepaskan keluargaku." Ucap Samudra dengan suara tanpa ketakutan seolah pria itu benar-benar sudah siap untuk mati demi melindungi keluarganya.
"Sayang sekali, tapi kami tidak hanya menginginkanmu, kami menginginkan semua orang yang bersamamu. Seluruh pulau ini telah dikepung oleh kapal-kapal milik kami.
Tidak ada jalan bahkan untuk seekor nyamuk melarikan diri!" Ucap Robert dengan tawa lepas menikmati kemenangannya.
"Apa yang kau inginkan?!" Tanya Samudra yang suaranya kini berubah.
Bayangan akan istrinya yang berada dalam kesakitan membuat darahnya mendidih hingga meningkatkan emosi dalam tubuhnya.
"Oh,, akhirnya Tuan Samudra yang terkenal berkuasa kini memperlihatkan raut ketakutannya." Ucap Robert sambil tertawa.
"Wahaha..... Bagus sekali..! Sekarang, minta maaf padaku!" Lagi ucap Robert.
"Aku minta maaf." Jawab Samudra.
Mendengar ucapan Samudra, Robert semakin tertawa dengan keras.
Cuih..!
Robert meludah dihadapan Samudra.
"Minta maaf yang benar..! Dan katakan kalau kau menyesal sudah membuat putriku mengalami hal buruk." Ucap Robert sembari memegang alat perekam di tangannya.
__ADS_1
Ia berencana menjadikan rekaman suara minta maaf Samudra sebagai hadiah untuk putrinya.
"Aku minta maaf sudah menyakiti Putrimu," lagi kata Samudra dengan suara datar.
"Kau pikir aku bisa mempertimbangkan untuk membebaskan keluargamu saat kau berbicara dengan cara seperti itu?!" Teriak Robert sambil melototi Samudra.
Tak suka di teriaki, Samudra menghela nafas dan mengangkat wajahnya menatap Robert.
"Setelah ini, kau akan berakhir di penjara untuk seumur hidupmu. Tuan Robert!" Ucap Samudra.
"Haha,, masih berani juga,," Robert menghentikan kata-katanya saat Samudra mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jasnya dan melemparkannya ke kaki pria itu.
"Aku pastikan itu!" Ucap Samudra.
"Apa..!! Apa ini..!!" Teriak Robert meraih ponsel itu dan melihat bahwa Samudra sedang menelpon presiden negara Mr.
Pria itu sangat terkejut, karena mereka sudah merusak pemancar sinyal yang ada di pulau itu. Tapi, bagaimana bisa Samudra masih bisa menghubungi orang di luar pulau?
"Jahanam...! Bunuh dia,, gebuki sampai mati..!" Teriak Robert memberi kode pada Anak buahnya.
Anak buah Robert langsung mengerjakan tugas dari atasannya dan menggebuki Samudra sampai Samudra berdarah-darah.
Beberapa tembakan dari pistol mereka juga menembus kulit Samudra sampai pria itu tak sadarkan diri di atas pasir.
Sementara Robert, pria itu sangat ketakutan sampai ia dijemput oleh sebuah kapal selam yang sudah ia siapkan untuk meninggalkan pulau itu tanpa jejak.
__ADS_1