
Tidak menghiraukan pria yang terkekeh di depannya, Andra lebih penasaran melihat bagian-bagian pada senjata yang ada di tangannya.
'Dia terus mengabaikan ku, sebenarnya, apakah dia mendengarkanku tentang pembicaraan membunuh ayahnya atau hanya menganggapnya sebagai omong kosong?' gumam Dewa setelah berhenti terkekeh dan melihat Andra lebih tertarik pada senjata itu daripada pembicaraan mereka tentang membunuh Samudra.
"Hei?" Lagi tanya kata Dewa.
"Anak kecil?!" Dewa mengulang memanggil Andra saat pria kecil itu tidak menghiraukannya dan lebih fokus pada senjata di tangannya.
'Sial..! Jadi benar..! Dia sama sekali tidak mendengarkan ku!' Garam Dewa segera berdiri dan berjalan mendekati Andra.
Namun, baru tiga langkah yang mendekati pria kecil itu saat Andra Langsung menodongkan senjata di tangannya.
Pria kecil yang memegang senjata yang lebih berat dari tubuhnya dan sedang mengancam seorang pria yang lebih besar dari pria kecil itu, terutama seorang pria berdarah dingin.
Sangat konyol!
"Jadi kau mau menembakku?" Tanya Dewa dijawab kediaman Andra.
Melihat ekspresi Andra yang tidak tergoyahkan, Dewa tersenyum mencibir lalu pria itu kembali duduk di kursinya.
"Kalau kau bisa menembakku dengan satu peluru, maka kita akan menjadi teman dan semua keinginanmu akan ku penuhi!" Ucap Dewa sembari tersenyum karena di dalam Sniper LM 1190 tidak terdapat satupun peluru.
Tapi Dewa hanya kagum pada pria yang ada di depannya, masih kecil dan sudah pandai bermain siasat meskipun pria kecil itu harus kalah darinya.
__ADS_1
Melihat Andra sangat tertarik dengan ucapannya, Dewa kembali tersenyum mencibir.
"Tapi, kalau tembakanmu melesat, kau harus memenuhi semua keinginan ku, menjadi budakku!" Ucap Dewa.
Sementara Geral yang sedari tadi berdiri memandangi 2 pria itu, dia tak habis pikir bahwa Dewa sangat tertarik dengan pria kecil yang merupakan anak dari Samudra.
'Baru kali ini aku melihat Dewa tersenyum pada seseorang kecuali Laila. Meskipun itu senyum cibiran, tapi anak kecil ini adalah orang yang bisa membuat Dewa tersenyum mencibir.' Gumam Geral yang taunya saat pria itu sedang menghadapi musuh ataupun sedang dibuat kesal oleh musuhnya, maka pria itu tidak pernah menampakan ekspresi. Hanya wajah datar atau sekedar kekean kecil.
"Bagaimana? Kau setuju dengan tawaran ku?" Tanya Dewa memperhatikan Andra yang kini terdiam.
Menjawab Dewa, Andra menganggukan kepalanya disambut tawa keras Dewa.
Entah tawa bahagia atau tawa kekonyolan atau tawa apa itu, tapi Dewa secara spontan tertawa.
Sekarang, bukan hanya tersenyum tapi sekarang tertawa! Tertawa keras!
"Baiklah, kita sudah sepakat. Sekarang kau bisa mengambil posisi apapun yang kau sukai. Jarak 3 meter dariku." Ucap Dewa pada Andra.
Andra berjalan mundur dan meletakkan senjatanya di atas sebuah meja kecil yang tak jauh darinya.
Lalu pria kecil itu seolah dengan telaten mengatur senjatanya di atas meja layaknya seorang sniper profesional.
'Apakah Samudra mengajari anaknya tentang senjata? Bagaimana bisa Andra mengetahui cara-cara seorang profesional menggunakan senjata langkah seperti itu?' Geral bergumam saat melihat Andra terlihat seperti Layla yang sangat ahli dalam menggunakan Sniper LM 1190.
__ADS_1
'Dasar bocah..!' gumam dewa dalam hati saat dia tetap duduk dengan tenang menunggu pria kecil itu selesai mempersiapkan senjatanya.
Mengambil posisi dadua meletakkan jari kecilnya pelatuk di senjata, Andra melakukan bidikan dengan sebelah matanya.
"Tunggu, Kau harus tahu kalau kau sudah menarik pelatuknya maka perjanjian kita sudah resmi kau setujui. Jadi kau tidak bisa membantah ku mulai dari sekarang, termasuk ditolong oleh ayah mu sendiri. Kau mengerti?" Ucap Dewa kembali mengingatkan Andra, bagaimanapun, seorang pria kecil tidak mungkin mengerti segalanya.
'Bos memang selalu percaya diri!' gumam Geral saat mendengar ucapan Dewa.
Kembali menjawab Dewa dengan anggukan, Andra lalu kembali membidik lewat teropong kecil pada Sniper LM 1190 di tangannya.
Dalam 5 detik berikutnya, jari telunjuk dan jari tengah Andra menarik pelatuk senjata itu.
Tidak ada suara apapun, karena senjata ditangan Andra memang dirancang untuk tidak mengeluarkan suara, bahkan suara sekecil apapun.
Namun, dua pria dewasa dalam ruangan itu terkejut saat sebuah peluru meluncur ke arah Dewa dan kurang dari 1 detik peluru itu membuat tubuh Dewa mengeluarkan darah segar.
"Bos..!" Langsung teriak Geral berlari ke arah Dewa.
@Interaksi
Emang situ sanggup bayar kurir J*T ke mars?? 👀
__ADS_1