
Meninggalkan kamar Laila, Andra berjalan di belakang Geral.
"Kemarilah," ucap Geral saat menyadari anak kecil itu seolah tahu kalau dia akan mengantarkannya pada seorang pria berhati iblis hingga begitu sulit meninggalkan Laila.
Menatap Geral satu detik, Andra memalingkan tetapannya lalu pria kecil itu berjalan mendahului Geral karena tidak mau berpegangan tangan dengan Geral.
'Sial,,! Tidak Dewa, Laila atau siapapun yang bersamaku, Mengapa mereka semua tidak ingin menyentuhku?' gerutu Geral dengan kesal.
'Ck,, masa bodoh! Mengapa aku harus kesal karena anak kecil ini?' gumam Geral lalu menyusul Andra.
Mereka menuruni lift dan menaiki mobil mewah yang sudah disiapkan Geral lalu pergi ke kediaman Dewa.
Sepanjang perjalanan, Andra hanya terdiam menatap ke arah ponsel yang ia bawa.
"Kita sudah sampai." Ucap Geral saat mobil mereka berhenti di depan rumah mewah milik Dewa.
Turun dari mobil, keduanya memasuki rumah dan mendapati Dewa sudah menunggu mereka di lantai satu.
Melihat Dewa, Andra langsung menatap tajam kearah Geral karena merasa dibohongi oleh pria itu.
Jelas dia sangat membenci Dewa!
"Duduklah," ucap Geral.
Menggembungkan pipinya sebagai tanda kemarahan, Andra tidak mau mematuhi Geral dan pria kecil itu terus berdiri sembari memegang erat ponselnya.
Mengintip dari samping, Geral bisa membaca nama kontak yang ada di ponsel itu.
'Hah,, jadi dia berniat menelpon Laila saat dia terancam? Sayang sekali, tapi ponsel milik Laila ada di tangan Dewa.' gumam Geral merasa kasihan pada Andra yang kini harus menghadapi Dewa iblis.
__ADS_1
Jelas mereka berdua bukanlah lawan yang sepadan bahkan jika dilihat dari segi manapun!
"Ini rumahku, jadi kau harus mengikuti perintahku! Duduk!" Ucap Dewa menatap penuh cemooh pada Andra.
Melihat wajah Dewa, Andra menyipitkan matanya namun pria kecil itu dengan patuh berjalan ke tempat duduk dan duduk sambil menatap Dewa.
'Sial, mengapa anak kecil ini malah menatapku?' Dewa bergumam karena merasa tidak berguna saat dia tidak berhasil menggertak seorang anak kecil berumur 5 tahun!
'Sial, anak kecil Ini bukan manusia, bagaimana bisa dia tahan menatap wajah Dewa?' Gumam Geral terus berdiri mengamati interaksi kedua orang itu.
Tapi bagaimanapun dia melihatnya, dia merasa ada sesuatu yang sama diantara kedua orang itu, namun dia tidak bisa menjelaskannya.
"Jadi, ayahmu tidak bangun? Apa menurutmu dia sudah mati?" Tanya Dewa masih setia menatap Andra dengan tatapan mencemooh.
'Sial..! Laila akan membunuhku saat dia mengetahui cara Dewa memperlakukan pria kecil ini!' gumam Geral yang kini menyesal membawa Andra bertemu Dewa.
Pria kecil yang sedari tadi duduk dengan pipi digabungkan karena marah kini secara perlahan duduk dengan rileks.
Hal itu membuat Dewa jadi semakin geram. Bisa-bisanya dia gagal menarik perhatian Andra.
Bahkan pertanyaannya tidak ditanggapi!
Apakah senjata itu jauh lebih penting darinya?!
"Buang semua pajangan itu!" Ucap Dewa membuat Geral kebingungan.
Itu adalah senjata dengan nilai melebihi berlian!
Setiap senjata memiliki harga fantastis dan merupakan buatan tangan yang hanya ada beberapa di dunia!
__ADS_1
"Tuan, tapi-"
"Buang!" Lagi kata Dewa.
"Baik Tuan." Jawab Geral lalu pria itu segera melangkah ke rak pajangan melepaskan satu per satu senjata.
"Jadi kau baik-baik saja saat Ayahmu meninggal?" Tanya Dewa yang kembali menatap Andra.
Menjawab pertanyaan Dewa, Andra mengangguk dan hanya memperhatikan senjata yang kini dibawa oleh Geral ke luar ruangan.
'Sial..! Dia benar-benar!' Dewa kembali mengeram.
"Berikan aku senjatanya!" Ucap Dewa membuat Geral menghentikan langkahnya.
"Senjata yang mana Tuan?" Tanya Geral yang di tangannya terdapat banyak senjata.
"Senjata mana yang menurutmu bagus untuk membunuh ayahmu?" Tanya Dewa menarik perhatian Andra.
Pria kecil itu menoleh pada Dewa lalu berdiri mengambil satu senjata dari Geral.
Sniper LM 1190.
Geral kaget, "Senjata itu, milik Lai-"
"Jadi kau memilih senjata itu untuk membunuh ayahmu?" Dewa terkekeh.
"Pilihan yang tepat!" Lagi katanya.
@Interaksi
__ADS_1
Kecebong hidupnya di air kotor, jangan mimpi terbang ke langit, impossible..! 👀