Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 228. Perkelahian di mansion putih


__ADS_3

"Apa? Jadi pelaku penyerangan di pulau adalah kau?!" Laila bertanya pada Dewa.


"Sayangku, mengapa kau di sini?" Samudra langsung memutar tuas kursi rodanya dan mengarahkan kursi rodanya mendekati istrinya.


"Sayang, apa ini? Kau selalu bilang akan jujur padaku tapi mengapa kau membohongiku sebanyak 2 kali? Apa maksudmu?!" Laila menatap suaminya dengan air mata sudah membanjiri pipinya.


"Sayang, tolong jangan menangis, nanti kesehatanmu bisa memburuk lagi." Ucap Samudra mengulurkan tangannya untuk menarik Laila ke pangkuannya.


Tapi sayangnya, Laila menghindar darinya.


"Aku yang menyuruh ayah menyembunyikannya. Karena nanti Ibu bisa pingsan lagi." Ucap Andra dari belakang Laila sembari menunjukkan wajah penuh rasa bersalahnya.


Mendengar ucapan anaknya, Laila langsung berlutut memerlukan Andra.


"Sayangku, masuklah bersama nenek dan kakek, Ibu harus berbicara dengan dua pria ini." Ucap Laila.


"Tapi Bu, Ibu tidak boleh menyalakan ayah." Ucap Andra.


"Iya, iya sayang, Ibu tidak melakukannya." Ucap Laila.


Setelah Andra pergi, Laila kembali berdiri dan menatap 2 pria yang kini menatapnya dengan rasa bersalah.


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud-"


"Aku tahu, kau hanya ingin melindungiku, tapi," Laila menatap kearah Dewa dengan matanya dipenuhi kemarahan.


"Kau,, apa yang sudah kau lakukan?! Gara-gara kau, gara-gara kau seluruh keluarga aku harus menderita! Aku kehilangan rahimku karena perbuatan bodohmu!

__ADS_1


"Dan lihat..! Lihat suamiku! Sampai sekarang dia tidak bisa berjalan karena ulahmu!!" Teriak Laila sembari menangis meratapi kemalangan mereka karena perbuatan Dewa.


Melihat istrinya sudah tersulut emosi dan tidak bisa mengendalikan diri lagi, Samudra mengulurkan tangannya dan menarik perempuan itu ke pangkuannya.


"Sayang kumohon, kumohon jangan seperti ini. Ingat, kesehatanmu jauh lebih penting daripada mengurusi pria tak tahu malu!" Ucap Samudra memeluk erat Laila yang berada di pangkuannya.


"Dewa, ini belum selesai, akan kupastikan kau mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatanmu!" Ucap Samudra lalu pria itu menggerakan tuas kursi rodanya membawa Laila dari hadapan Dewa.


"Ada apa?" Tanya Morgan ketika Dewa dan Laila memasuki mansion dan melihat Laila baru saja menangis dengan perempuan itu memeluk Samudra dengan erat.


"Kami akan ke kamar." Ucap Samudra lalu pria itu segera pergi ke kamarnya meninggalkan semua orang yang memandangi mereka dengan keheranan.


"Kakek, Nenek, Ini semua karena kakek Dewa. Dia yang menyebabkan Ibu menangis!" Ucap Andra membuat Adelin dan Morgan langsung menoleh pada cucu mereka.


"Apa maksudmu sayang?" Tanya Adelin.


"Apa?" Adelin dan Morgan serentak berbicara sembari menatap tak percaya pada pria yang kini berjalan ke arah mereka.


"Nyonya, Tuan, ini bukan salah bos! Ini salahku!" Ucap Geral saat pria itu langsung bersujud di lantai dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.


"Siapa yang mengijinkanmu berbicara?!" Dewa menatap dengan tajam pada Geral pada pria itu supaya menutup mulutnya.


"Tidak Bos! Akulah yang salah disini, Bos tidak boleh menanggungnya untukku!" Ucap Geral bersikukuh.


"Katakan!" Perintah Morgan pada Geral.


"Jadi waktu it-"

__ADS_1


"Diam! Kau diperintahkan untuk diam dan sekarang juga pergi tinggalkan pulau putih!" Bentak Dewa pada Geral namun bentakannya itu adalah bentakan pertama yang tidak bekerja pada Geral.


"Tidak Bos, aku tidak akan pergi!" Ucap Geral.


"Baiklah, dalam 3 detik kalau kau tidak pergi dari sini, aku akan-"


"Dewa! Keras kepalamu tidak akan menyelesaikan apapun! Pengawal! Kurung dia!" Perintah Morgan pada pengawalnya lalu beberapa orang segera mendekati Dewa.


"Ck,, kalian ingin melawanku?!" Dewa tersenyum kecut sebelum perkelahian antara Dewa dan para pengawal Morgan dimulai.


Adelin yang melihat kekacauan itu langsung menyambar cucunya dan membawanya menjauh ke dalam kamar.


Laila dan Samudra yang berada di dalam kamarnya begitu terkejut saat mendengar beberapa barang pecah dari luar.


"Sayang," Laila menatap suaminya dengan cemas.


"Tetap di sini! Jangan kemana pun!" Ucap Samudra.


"Tapi, bagaimana dengan-"


"Sayangku," Samudra menatap Laila dengan penuh permohonan hingga perempuan itu akhirnya mengalah dan membiarkan Samudra keluar dari kamar mereka.


@Interaksi



Bener-bener deh... Warga bumi memang hebat, gak ada satupun yang terlewat🤣😂🤣. Tapi BTW, ini nanyain anunya anu apa ya?👀

__ADS_1


__ADS_2