Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 57. Lima puluh tahun


__ADS_3

"Ini pertama kalinya aku melamar seseorang, jadi mungkin aku tidak seromantis dengan pria-pria masa lalumu." Ucap Samudra langsung membuka cincin dan memperlihatkannya pada Laila.


Bahkan, pria itu tidak berupaya membawa bunga atau bersujud di depan Laila.


Yang berubah dari Samudra yang biasanya hanyalah sebuah senyum dan sedikit raut kecemasan di wajah pria itu jika saja Laila menolak lamarannya.


Benar saja, Laila tersenyum picik "Aku tidak percaya pria sepertimu sangat cepat mengambil keputusan. Gegabah!" Sindir Laila.


Bagaimanapun, mereka berdua baru berkenalan selama setengah bulan.


Jadi untuk sebuah lamaran, sangat mengejutkan!


"Seorang kepala keluarga dituntut untuk bertindak lebih cepat.


Tapi seorang kepala keluarga tidak boleh mengambil keputusan yang salah.


Ini adalah pilihan tepat yang kulakukan setelah mempertimbangkan banyak hal terutama perasaan yang kumiliki dan juga perasaanmu." Ucap Samudra yang sebenarnya sudah memikirkan hal tersebut selama 5 tahun sejak kelahiran Andra.


Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari Laila dan menjadikannya sebagai istrinya.


Namun sayang, ia tidak mungkin mengatakannya pada Laila kalau orang bejat yang sudah menghancurkan hidup Laila adalah orang yang kini berada di depannya dengan sebuah cincin untuk melamar Laila


Jika ia mengatakannya, mungkin saja Laila akan membencinya seumur hidup!


"Perasaan kita berdua? Hahah,,,, Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Ejek Laila.


"Kau perempuan yang pintar, jadi seharusnya kau sudah menyadarinya.


Sekarang, kau hanya perlu memutuskan untuk menjawab sekarang atau menundanya." Ucap Samudra yang tidak mau menekan Laila.


Tidak mau mendesak Laila untuk mengatakan jawaban tidak atau iya.

__ADS_1


"Haha,, seharusnya kau bilang apakah aku menerima lamarannya atau tidak.


Bukan pertanyaan tentang kapan aku akan menjawabnya.


Bagaimana kalau aku mengatakan aku akan menjawabnya setelah 50 tahun berikutnya?" Ucap Laila berpura-pura kuat meski kini jantungnya berpacu tidak menentu.


"Aku akan menunggu." Jawab Samudra.


"Kalau begitu, sudah di putuskan!" Ucap Laila meraih cincin di tangan Samudra lalu meninggalkan pria itu dengan perasaan nano nano.


'Sial!! Ini akan membuatku gila!' gumamnya.


Samudra memandangi kepergian perempuan itu lalu tersenyum penuh arti dibelakang Laila.


Perempuan itu memilih mengambil waktu untuk berpikir daripada langsung menolak lamaran Samudra.


Artinya, masih ada harapan!


Hah, cinta memang merubah seseorang!


Bahkan kakakku yang satu ini rela menjual keluarganya demi sebuah cinta yang tidak jelas." Komentar Kendra yang kini muncul dari sudut-sudut ruangan karena sedari tadi dia mendengarkan percakapan kedua orang itu.


"Sejak kapan kau disana? Apakah kau sudah lupa dengan yang namanya etika?" Tanya Samudra beserta tatapan tajam yang ditujukan pada Kendra.


"Uhh, Kak, jangan meragukanku. Aku selalu muncul di saat yang tepat di mana sebuah kejadian yang sangat penting sedang terjadi.


Tapi,, dari penilaianku, sebentar lagi aku akan memanggil kakak ipar secara sah." Ucap Kendra tersenyum penuh arti pada kakaknya.


"Aku boleh mengambilnya." Langsung kata Samudra yang merujuk pada sebuah benda yang diminta oleh Kendra.


"Yuhuu!!!! Tentu,, tentu Kak!!" Ucap Kendra kini berlari meninggalkan kakaknya dengan penuh kesenangan.

__ADS_1


Sekarang, sebuah apartemen yang lebih baik dari apartemen sebelumnya sudah menjadi miliknya!


'Luar Biasa!! Hanya dengan kata Kakak ipar, aku bisa mendapat apartemen kesayanganku!!' gumam Kendra penuh kemenangan.


"Ank kecil!" Kesenangan Kendra langsung berakhir saat seseorang tiba-tiba memanggilnya.


"Ibu!! Lagi-lagi kau mengagetkanku!" Ucap Kendra yang menggerutu karena ia sama sekali tidak bebas saat Ibunya berada di rumah Samudra.


"Katakan pada ibu, apa yang membuatmu begitu senang?!" Tanya Weleni mendekati putranya yang kini berdiri tegap dengan senyum besar di wajahnya.


"Apa lagi?! Aku baru saja melihat anak kesayangan ibu dan calon menantu ibu!


Mereka berduaan saja di,, hmm!!" Kendra sengaja berbatuk kecil untuk memberi kesan mengambang bagi ibunya.


"Be,, benarkah?? Astaga,, lalu,, apa yang terjadi?" Tanya Weleni dengan jiwa keponya meronta-ronta.


"Lalu,, Hm,, aku rasa Kakak berhasil." Ucap Kendra kembali membuat Weleni menjadi sangat senang.


'Sial!! Aku adalah orang satu-satunya selain samudra yang mengetahui identitas Laila.


Di sisi lain, aku membenci perempuan itu karena memiliki niat untuk menghancurkan keluarga ini.


Tapi, aku juga tidak tega menghancurkan hati ibuku, ayahku, Samudra, dan terutama keponakanku.


Tapi aku berharap, Kakakku bisa menangani masalah ini dengan baik, terlepas dari perasaannya pada Laila.'


@Interaksi..


Astagfirullah.. masih sisa 3 bab🙈


__ADS_1


Oh, ada saran bagus,, tenggelamkan ajh, tapi bukan Dewa_nya, nih para reder yang udah beralih profesi jadi debt colector 😀😀😀✌️✌️✌️✌️✌️


__ADS_2